Print

Pesan Pemilu & Paskah 2019 BPMS GKI

Written by Gki Kota Wisata on .

 

Pesan Pemilu & Paskah 2019
Badan Pekerja Majelis Sinode
Gereja Kristen Indonesia

PESAN PASTORAL
BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE GEREJA KRISTEN INDONESIA
UNTUK PEMILU DAN PASKAH 2019

Bangsa Indonesia akan melaksanakan PEMILU pada tanggal 17 April 2019. Untuk pertama kalinya, kita akan melaksanakan pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif secara serentak. Pada saat ini ada 192.828.520 pemilih, yang terdiri dari 96.271.476 pemilih laki-laki dan 96.557.044 perempuan, akan memilih Presiden dan Wakil Presiden, 575 anggota DPR RI, 136 anggota DPD, 2.207 anggota DPRD Provinsi dan 17.610 anggota DPRD Kota/Kabupaten. Pemilihan akan dilakukan di 800.000 lebih Tempat Pemungutan Suara (TPS), baik di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, anggota jemaat GKI perlu mendukung PEMILU dalam kegembiraan, pengharapan dan kasih, karena kita semua meyakini bahwa melalui PEMILU ini, bangsa Indonesia sedang memperjuangkan dan mengupayakan tanggung jawab politik dan cita-cita kemerdekaannya. Tanggung jawab politik, seperti juga yang ada dalam cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia, bukanlah melulu soal kekuasaan, tetapi pertama-tama adalah soal kesejahteraan dan keadilan.

Terkait dengan itu, BPMS GKI menyampaikan pesan pastoral kepada jemaat-jemaat sebagai berikut:

  1. Misi Tuhan Yesus Kristus bukan hanya membebaskan manusia dari dosa tetapi juga menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, memberi penglihatan kepada orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas (Luk 4:18-19). Misi Tuhan Yesus -sampai kadar tertentu- sejajar dengan arti dasar politik dan tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia, yaitu terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bersama. Dimaknai seperti itu, maka kehidupan politik sesungguhnya bukan hanya baik tetapi juga memiliki nilai rohani. Karena itulah, maka jemaat perlu mendukung dan berpartisipasi aktif agar proses politik dalam PEMILU berjalan dengan demokratis, bermartabat dan mendapatkan Presiden-Wakil Presiden, anggota DPD dan anggota DPR-DPRD yang benar-benar mencintai bangsa, mewujudkan keadilan dan menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.
  2. Bagaimana agar Pemilu berjalan demokratis, bermartabat dan berhasil mendapatkan pemerintah dan wakil rakyat yang bekerja sesuai cita-cita kemerdekaan bangsa? Di banyak negara demokrasi, biasanya terjadi hal ini: ”Para politisi buruk terpilih karena banyak orang baik tidak memilih”. Agar itu tidak terjadi, anggota jemaat GKI perlu memakai hak pilihnya dengan bertanggung jawab. Karenanya kami menyampaikan, “Jangan Golput”. Proses demokrasi mengharapkan partisipasi aktif rakyat sebagai bagian dari upaya memperjuangkan cita-cita politik yang adil dan menyejahterakan. Karena itu, prinsip keterlibatan kita semua dalam PEMILU perlu dilihat sebagai wujud tanggung jawab anggota jemaat GKI yang adalah bagian dari masyarakat Indonesia. Dengan memakai hak pilih secara bertanggung jawab, anggota jemaat bukan hanya telah memakai hak demokrasinya tetapi juga sudah menunjukkan sikap imannya. Mengapa? Sebab melalui PEMILU, kita dengan iman dan perbuatan ikut menentukan orang yang tepat untuk memerintah dan menjadi wakil rakyat, yang bisa menjalankan perannya sebagai hamba Allah (Roma 13:4).
  3. Agar partisipasi anggota jemaat dalam PEMILU menjadi perwujudan tindakan iman, maka anggota jemaat GKI perlu :
  1. Mendoakan seluruh peserta pemilu, penyelengara Pemilu (KPU, Bawaslu dan Dewan Kehormatan Penyelenggara           Pemilu), aparat keamanan, supaya mereka dapat melaksanakan pemilu yang demokratis, damai dan bermartabat.
  2. Memilih kandidat yang diusung dan atau didukung oleh partai politik yang berkomitmen menghidupi Pancasila dan      Bhinneka Tunggal Ika, mempertahankan NKRI, dan mewujudkan amanat UUD 1945.
  3. Memilih kandidat yang berani menolak radikalisme, intoleransi dan tidak memakai politik kebencian identitas untuk     berkuasa.
  4. Memilih kandidat presiden dan wakil presiden, calon anggota DPD dan anggota DPR-DPRD yang punya rekam jejak,    integritas dan kapasitas politik yang baik. Pilihlah mereka yang memiliki masa lalu (sebagai pribadi, anggota keluarga, profesional, ASN, TNI/Polri, pegawai swasta atau pengusaha) yang baik; pilihlah mereka yang memiliki integritas (tidak memiliki rekam jejak korupsi, pelanggaran HAM); pilihlah mereka yang memiliki kapasitas dalam memimpin; pilihlah mereka yang memiliki keberpihakan kepada mereka yang lemah dan marjinal; pilihlah mereka yang berkomitmen untuk melestarikan lingkungan. Tentu saja, tidak mudah mencari figur yang bisa memenuhi semua kriteria di atas. Jika itu terjadi, maka kita perlu memakai prinsip minus malum: mencari figur yang efek negatifnya (lebih) kecil. PEMILU mungkin tidak menawarkan kita pilihan yang terbaik, tetapi kita perlu mencegah yang buruk berkuasa menjalankan politik untuk bangsa ini.
  5. Menciptakan dan mendukung budaya demokrasi. Anggota jemaat tidak boleh ikut-ikutan memperuncing perbedaan      sikap politik, tidak ikut-ikutan menyebarkan hoax dan politisasi kebencian identitas, dan mengedepankan persaudaraan serta persatuan sebagai sesama anak bangsa.
  6. Bekerja sama dengan penyelenggara PEMILU dan kelompok masyarakat lain, untuk mewujudkan PEMILU yang        demokratis dan bermartabat.

Bagi umat Kristen, Pemilu 2019 ini terasa istimewa karena berdekatan dengan perayaan Paskah yang jatuh pada tanggal 21 April 2019. Kedua peristiwa ini sama-sama merupakan sebuah perayaan. Yang satu adalah pesta demokrasi untuk mengupayakan politik yang menyejahterakan dan berkeadilan, yang lain adalah perayaan kebangkitan Yesus yang mengalahkan kuasa dosa yang menindas dan mematikan. Yang satu menjadi sarana memilih pemimpin yang kita harapkan membawa pembebasan bagi bangsa dari berbagai keterbelengguan (kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan); yang lain merupakan momen di mana kita mengimani campur tangan Allah dalam pembebasan umat manusia dari belenggu dosa yang mencengkeram dan mematikan supaya kemudian manusia mengalami kehidupan melalui teladan Yesus Kristus. Kita dapat berharap agar semangat Paskah yang membebaskan itu juga hadir dalam kebebasan kita untuk berpolitik dalam PEMILU dan mengupayakan kekuasaan politik yang juga menghadirkan kebaikan untuk bangsa yang Allah sudah percayakan kepada kita ini.

Karenanya, sebagai warga negara sekaligus warga gereja, kita mau dengan penuh tanggung jawab menjalani peran kita dengan merayakan dua peristiwa itu. Kita mengawalinya dengan memakai hak pilih kita pada tanggal 17 April 2019 dengan tuntunan Roh Hikmat untuk memilih pemimpin bangsa yang berhati tulus dan mau bekerja keras untuk mendatangkan kebaikan bagi seluruh rakyat tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, atau golongannya.

Selanjutnya sebagai warga gereja kita mengenang sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung sampai Minggu Paskah untuk mengingat dan merasakan kasih Tuhan yang memulihkan harkat kemanusiaan kita lewat penebusan dan kematian di kayu salib, sekaligus lewat kebangkitan-Nya yang memberi harapan akan kehidupan yang baru.

Kiranya kasih karunia dari Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus dan tuntunan Roh Kudus, menolong kita untuk menjadi orang Kristen sekaligus warga negara Indonesia yang bertanggung jawab menyukseskan pesta demokrasi, untuk keadilan dan kemajuan Indonesia sekaligus merayakan Paskah dengan penuh syukur dan sukacita.

 

Badan Pekerja Majelis Sinode GKI

 

Pdt. Handi Hadiwitanto               Pdt. Danny Purnama
Ketua Umum BPMS GKI              Sekretaris Umum BPMS GKI

 

 

 

 

 

 

Print

Sebaiknya anda tahu

Written by Gki Kota Wisata on .

  " Lain ladang, lain belalang.. ", ungkapan ini sering kita dengan dan mau mengingatkan kita bahwa tiap daerah/kota/negara memiliki ketentuan dan peraturannnya sendiri. Begitu juga dengan kehidupan bergereja. Tiap gereja memiliki tata cara dan ketentuan sendiri bagi anggota jemaatnya, dan ketentuan/peraturan bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan gereja yang bersangkutan. Berikut ini beberapa ketentuan yang ada di GKI Kota Wisata yang perlu kita ketahui :

I. KEANGGOTAAN
 
Keanggotaan GKI Kota Wisata dapat diperoleh melalui 2 (dua) cara :
 
A.    Melalui Attestasi Masuk
      Attestasi masuk adalah perpindahan keanggotaan dari sebuah gereja/jemaat di luar GKI Kota Wisata ke jemaat GKI Kota
Wisata. Ini berlaku bagi mereka yang sudah menerima Baptis anak-anak maupun bagi mereka yang sudah menerima Baptis/Sidi Dewasa, baik dari lingkungan jemaat GKI maupun di luar lingkungan GKI, baik seajaran maupun yang tidak seajaran (Tager GKI, pasal 74).
    GKI hanya mengenal satu pembaptisan, jadi bagi Anda yang berasal dari jemaat GKI lain atau dari gereja yang seajaran, maka penerimaan sebagai anggota GKI Kota Wisata dapat dilakukan secara langsung, namun bagi Anda yang sudah menerima pembaptisan dari gereja yang tidak seajaran, maka akan dilakukan katekisasi terlebih dahulu agar mengenal ajaran GKI dengan baik.
    Bagi anda yang ingin atestasi masuk, bisa menghubungi gereja asal dimana saudara terdaftar sebagai anggota untuk bisa dibuatkan surat atestasi keluar.  Sekretariat GKI KW akan membantu saudara dengan menyediakan Form permintaan atestasi
keluar, untuk bisa diisi dan dikirimkan kepada sekretariat gereja asal saudara untuk bisa diproses.
 
B.     Melalui Sakramen Baptis Kudus
    Jika Anda belum pernah menerima Sakramen Baptis Kudus, hal ini berarti Anda belum menjadi anggota gereja manapun juga, maka Anda dapat menerima Sakramen Baptis Kudus dengan mengikuti katekisasi terlebih dahulu, setelah itu Anda resmi menjadi anggota jemaat GKI Kota Wisata. 
    

II. PINDAH KEANGGOTAAN
(Attestasi Keluar)
       
Pindah Keanggotaan atau lebih dikenal dengan istilah Attestasi Keluar adalah perpindahan keanggotaan jemaat GKI Kota Wisata ke jemaat/gereja lain, baik ke jemaat dilingkungan GKI atau gereja yang seajaran maupun ke gereja yang tidak seajaran. Proses Perpindahan dapat dilakukan dengan menghubungi Tata Usaha Gereja untuk pengurusan perpindahan tersebut.
 
 
III. KATEKISASI
   
    Katekisasi secara umum dapat dipahami sebagai pendidikan iman dan ajaran tentang pokok-pokok iman Kristen (Tager GKI, pasal 26). Gereja wajib harus memberikan katekisasi kepada seseorang sebelum ia menerima Sakramen Baptis Kudus Dewasa atau Peneguhan Sidi. Jadi, jika Anda belum pernah menerima Baptis Kudus Dewasa maupun Peneguhan Sidi, maka Anda wajib mengikuti kelas katekisasi terlebih dahulu, setelah itu barulah Anda akan menerima Baptis Kudus Dewasa ataupun Peneguhan Sidi.
    Katekisasi atau Katekese berasal dari bahasa Yunani Κατεχειν (katekhein), yang berarti memberitakan, memberitahukan dan memberi pengajaran, seperti titah Tuhan Yesus yang meminta para murid untuk mengajarkan segala sesuatu sesuai dengan perintah-Nya (Matius19: 20).
    Kelas katekisasi di GKI Kota Wisata berlangsung sekitar 9 (sembilan) bulan, dilakukan sekali dalam seminggu dan setiap pertemuan berlangsung sekitar 90 (sembilan puluh) menit. Katekisasi tidak  dapat dipadatkan karena akan mengurangi konsentrasi dalam memahami ajaran yang disampaikan (kecuali dengan alasan yang sangat khusus) agar mereka yang sudah ikut kelas katekisasi dapat memahami kebenaran ajaran Kristiani dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Anda yang ingin mengikuti kelas katekisasi, dapat menghubungi Majelis Jemaat atau Tata Usaha Gereja.
 
 
IV. SAKRAMEN BAPTIS KUDUS DAN PENGAKUAN PERCAYA (SIDI)
 
    Sakramen Baptis Kudus dapat dilayankan baik kepada orang dewasa, anak dan seseorang dalam keadaan darurat.
 
1.    Sakramen Baptis Kudus Dewasa
    Jika Anda belum pernah menerima Baptis Kudus Anak sewaktu masih usia anak-anak, maka Anda dapat menerima Sakramen Baptis Kudus Dewasa setelah selesai menjalani kelas katekisasi dan dinyatakan dapat menerima Sakramen Baptis Kudus Dewasa.
 
2.    Sakramen Baptis Kudus Anak
      Sakramen Baptis Kudus Anak adalah baptisan kudus  yang dilayankan kepada anak berdasarkan perjanjian anugerah Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan pengakuan percaya orangtua/walinya yang sah secara hukum.
 
3.    Sakramen Baptis Kudus Darurat.
      Sakramen Baptis Kudus Darurat adalah baptisan kudus yang dilayankan kepada seseorang yang sudah uzur atau orang dewasa yang sedang sakit keras yang masih dapat mengaku imannya, atau kepada anak yang sakit keras atas dasar pengakuan iman orangtuanya/walinya.
 
4.   Pengakuan Percaya/Sidi
     Pengakuan percaya atau dikenal juga dengan istilah “sidi” adalah pengakuan percaya berkenaan dengan baptisan kudus anak yang semasa kecilnya telah diterima oleh seorang anggota baptisan.

GKI Kota Wisata melayankan Sakramen Baptis Kudus sesuai dengan persyaratan dan prosedur pelaksanaan yang telah diatur dalam Tata Laksana dan Tata Gereja GKI sebagai berikut :
 
Baptis Kudus Dewasa

 

  • Usia minimal 15 tahun.
  • Telah menyelesaikan katekisasi. Jika Anda telah menyelesaikan katekisasi di gereja lain yang mempunyai perbedaan ajaran  dengan GKI, maka Anda perlu diperlengkapi dengan penjelasan pokok-pokok ajaran yang berbeda dan pengenalan akan GKI.
  • Ditetapkan layak oleh Majelis Jemaat setelah me ngikuti percakapan gerejawi yang diselenggarakan oleh Majelis Jemaat berkenaan dengan pemahaman dan penghayatan imannya.

     Jika Anda sudah pernah menjalani kelas katekisasi di jemaat lain di lingkungan GKI, maka GKI Kota Wisata dapat menerima Baptis Dewasa titipan dari jemaat lain di lingkungan GKI, dengan syarat telah mengikuti kelas katekisasi di jemaat GKI dan ada surat permintaan dari Majelis Jemaat yang  bersangkutan. Setelah menerima pelayanan Sakramen Baptis Kudus Dewasa, maka nama Anda akan tetap tercatat sebagai anggota jemaat asal Anda dan bukan anggota jemaat GKI Kota Wisata.
 
Baptis Kudus Anak

 

  •  Pelayanan diberikan kepada anak yang belum mencapai usia dewasa.
  • Salah satu atau kedua orangtua/walinya anggota sidi jemaat GKI Kota Wisata dan tidak berada di bawah penggembalaan khusus.
  • Apabila kedua orangtua/walinya bukan anggota GKI Kota Wisata, maka mereka harus meminta surat keterangan dari jemaat/gereja dimana mereka terdaftar sebagai anggota jemaat, yang menyatakan bahwa mereka adalah benar anggota jemaat yang bersangkutan, tidak sedang berada dibawah penggembalaan khusus dan Majelis Jemaat yang bersangkutan meminta Sakramen Baptis Kudus Anak bagi anak yang bersangkutan.
  • Usia anak dibawah 15 tahun.

 
Baptis Kudus dalam keadaan darurat

 

  • Majelis Jemaat melaksanakan percakapan penggembalaan dengan calon baptisan (bagi baptisan kudus dewasa) atau denganorangtuanya/walinya (bagi baptisan kudus anak) mengenai pengakuan imannya.
  • Baptisan kudus dalam keadaan darurat dilaksanakan dalam kebaktian di tempat calon berada, dilayankan oleh pendeta dan didampingi oleh paling sedikitnya 1 (satu) orang penatua.
  • Majelis Jemaat mewartakan hal tersebut kepada anggota jemaat pada hari minggu terdekat.

 
Pengakuan Percaya/Sidi

 

  • Pelayanan diberikan kepada seseorang yang pada waktu kecil sudah menerima baptis kudus anak.
  • Usia minimal anak 15 tahun.
  • Mengikuti kelas katekisasi.
  • Ditetapkan layak oleh Majelis Jemaat setelah me ngikuti percakapan gerejawi yang diselenggarakan oleh Majelis Jemaat berkenaan dengan pemahaman dan penghayatan imannya.

 
Bagi Anda yang ingin menerima Sakramen Baptis Kudus Dewasa, Sakramen Baptis Kudus Anak, Sakramen Baptis Kudus dalam keadaan darurat  ataupun Pengakuan Percaya/Sidi, Anda dapat menghubungi Majelis Jemaat atau Tata Usaha Gereja.

 
V. PERNIKAHAN GEREJAWI
   
Pernikahan gerejawi adalah peneguhan dan pemberkatan secara gerejawi bagi seorang laki-laki lajang dan seorang perempuan lajang untuk menjadi pasangan suami-isteri dalam ikatan perjanjian seumur hidup yang bersifat monogamis dan yang tidak dapat dipisahkan, berdasarkan kasih dan kesetiaan mereka di hadapan Allah dan jemaat-Nya.
Pernikahan gerejawi dilaksanakan dalam sebuah kebaktian peneguhan dan pemberkatan pernikahan di tempat kebaktian jemaat.


Syarat-syarat dan prosedur untuk mendapatkan pelayanan peneguhan dan pemberkatan pernikahan gerejawi di GKI Kota Wisata :

  • Kedua atau salah satu calon mempelai adalah anggota sidi yang tidak berada di bawah penggembalaan khusus.
  • Kedua calon mempelai wajib mengikuti Pembinaan Pranikah yang bahannya telah ditetapkan oleh Badan Pekerja Majelis Sinode GKI, dilaksanakan secara periodik oleh jemaat-jemaat di lingkungan Klasis-klasis di Jakarta dan sekitarnya dan diwartakan dalam Warta Jemaat. 
  • Kedua calon mempelai telah mendapatkan surat keterangan atau bukti pendaftaran dari Kantor Catatan Sipil yang menyatakan bahwa pasangan tersebut memenuhi syarat untuk dicatat pernikahannya secara hukum negara. Pengesahan pernikahan secara hukum negara oleh petugas Kantor Catatan Sipil harus dilakukan sebelum kedua calon mempelai menerima pelayanan peneguhan dan pemberkatan pernikahan.
  • Kedua calon mempelai juga wajib mengikuti percakapan penggembalaan dengan Majelis Jemaat sebagai persiapan memasuki kehidupan berumah-tangga.

 
Di GKI Kota Wisata, peneguhan dan pemberkatan pernikahan dilayani sesuai dengan kesepakatan antara Majelis Jemaat dengan calon mempelai, namun tidak dapat dilakukan peneguhan dan pemberkatan pernikahan pada hari Minggu karena kegiatan Majelis Jemaat (Pendeta dan Penatua)  pada hari tersebut cukup padat.


Untuk mendapatkan pelayanan peneguhan dan pemberkatan pernikahan gerejawi di GKI Kota Wisata, maka pasangan calon mempelai harus menghubungi Majelis Jemaat atau Tata Usaha Gereja minimal 3 bulan sebelum tanggal pernikahan tersebut.
Rencana peneguhan pernikahan akan diwartakan dalam Warta Jemaat GKI Kota Wisata selama 3 (tiga) hari minggu berturut-turut.

Jika tidak ada keberatan yang sah dari umat, maka Majelis Jemaat akan melakukan proses lanjutan dari pernikahan pasangan calon mempelai tersebut. Namun jika ada keberatan yang sah, Majelis Jemaat akan menangguhkan pelaksanaan pernikahan gerejawi itu sampai persoalannya selesai, atau Majelis Jemaat dapat membatalkan pelaksanaannya.
 
VI. KELAHIRAN
 
Kelahiran anak adalah suatu berita sukacita yang patut disyukuri oleh keluarga dan jemaat. Bagi anggota jemaat, beritahukanlah berita kelahiran anak Anda kepada Majelis Jemaat melalui Tata Usaha Gereja agar dapat diwartakan melalui Warta Jemaat/lisan sebagai pernyataan sukacita bahwa keluarga GKI Kota Wisata mendapat anugerah lagi yang indah dari Tuhan. Sebagai keluarga Kristiani, rencanakanlah anak Anda untuk menerima Sakramen Baptis Kudus Anak.
 
VII. SAKIT
 
Sakit adalah gangguan kesehatan yang dialami oleh seseorang, tidak seorangpun yang menghendaki dirinya jatuh sakit. Ada baiknya ketika Anda mengalami sakit, apalagi jika sampai harus dirawat di rumah sakit, selain berkonsultasi dengan dokter, juga menginformasikan keadaan Anda kepada gereja (melalui Majelis Jemaat atau Tata Usaha Gereja) agar dapat didoakan, disamping itu informasi Anda memungkinkan Komisi Perlawatan dapat melawat Anda, baik di rumah maupun di rumah sakit. Informasikan juga perkembangan kesehatan Anda setelah itu sehingga Komisi Perlawatan dapat mengikuti perkembangan kesehatan Anda. Hal ini untuk menghindarkan agar jangan Anda terus didoakan atau dilawat ke rumah sakit padahal Anda sudah sembuh, sehat dan tidak berada di rumah sakit tersebut. Demikian juga jika terjadi sebaliknya, tetaplah berhubungan dengan gereja agar kami dapat mendoakan kesehatan Anda senantiasa.
 
VIII. KEDUKAAN
   
Salah satu peristiwa yang paling panik dan membingungkan keluarga adalah ketika mengalami kedukaan. Jika Anda menghadapi peristiwa tersebut, segeralah menghubungi Majelis Jemaat atau Tata Usaha Gereja. Anda juga dapat melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :

  • Periksa apakah anggota keluarga yang bersangkutan adalah anggota yayasan kedukaan seperti YPK Tabitha atau yayasan kedukaan lainnya.
  • Jika telah menjadi anggota yayasan kedukaan, segeralah menghubungi yayasan tersebut guna mendapatkan pelayanan seharusnya. Jika belum, segeralah menghubungi Majelis Jemaat atau Tata Usaha Gereja, Anda akan dibantu untuk mendapatkan pelayanan kedukaan dari YPK Tabitha.
  • Baik Anda yang telah menjadi anggota yayasan kedukaan atau belum, Anda tetap diminta segera menghubungi Majelis Jemaat atau Tata Usaha Gereja untuk bisa mendapat pelayanan kedukaan dari gereja.

Berita kedukaan bagi anggota jemaat akan dimasukkan dalam warta jemaat/lisan


IX. PINDAH ALAMAT
   
Jika Anda pindah alamat, beritahukan hal ini kepada gereja dimana alamat Anda yang baru, dengan demikian data keanggotaan Anda dapat diperbaharui dan mempermudah untuk menghubungi Anda. Jika Anda pindah ke luar kota atau ke luar negeri, beritahukan juga hal ini. Dengan demikian gereja dapat memberikan rekomendasi gereja yang terdekat dengan tempat tinggal Anda. Jika Anda bermaksud menetap di tempat tersebut, gereja dapat memberikan Surat Attestasi Keluar kepada jemaat di tempat tinggal Anda yang baru sehingga Anda dapat mendapat pelayanan sebagai anggota jemaat. Keanggotaan gereja Anda akan dipindahkan ke gereja pilihan Anda di kota Anda yang baru. Surat Atestasi Keluar dikirimkan ke jemaat-jemaat yang sealiran dan seajaran dengan GKI SW Jabar.
 
X. SIKAP DALAM BERIBADAH / BERKEBAKTIAN
   
Ibadah yang paling sering dilakukan oleh gereja adalah Kebaktian Minggu yang merupakan momen perjumpaan Bapa dengan
manusia, karena itu kita harus bersikap sopan dan hormat ketika kita memasuki rumah-Nya. Dalam beribadah di gereja, kita harus memelihara ketertiban, kesopanan dan kerapihan (1 Korintus 14: 40), maka seharusnya sikap kita dalam ibadah adalah sebagai berikut :


Mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum beribadah. Seperti layaknya bertemu seseorang yang sangat kita hormati, maka selayaknyalah kita sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Tuhan. Karena itu kita diminta untuk memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Tiba di gedung gereja sebelum persiapan kebaktian dimulai.
  2. Memakai busana yang layak dan rapih (bukan busana piknik atau ke pantai).
  3. Mempersiapkan persembahan syukur sebelum berangkat dari rumah.
  4. Membawa Alkitab dan perlengkapan ibadah (buku catatan, ballpoint dan sebagainya)
  5. Tidak membaca Warta Jemaat atau sibuk dengan bacaan lain atau ngobrol selama beribadah.
  6. Ibadah adalah dialog kita dengan Tuhan, dan liturgi menolong kita untuk berdialog. Maka sudah seharusnyalah kita bersikap menghormati Tuhan. Kita tidak layak menyuruh Tuhan untuk menunggu kedatangan kita karena kita datang terlambat; atau kita memotong percakapan kita dengan Tuhan karena kita ingin pulang lebih dahulu sebelukebaktian selesai. Ibadah harus diikuti dari mulai votum sampai dengan berkat beserta responsnya.
  7. Ibadah adalah persekutuan kita dengan Tuhan dan sesama. Oleh karena itu kita perlu menghargai kehadiran Tuhan dan sesama. Cara kita menghargai mereka adalah kita tidak menginterupsi percakapan Tuhan atau mengganggu kekhusyukan sesama yang beribadah dengan membiarkan telepon genggam kita berbunyi dan dengan seenaknya kita menjawab panggilan telepon tersebut atau hilir mudik saat doa dinaikkan.
  8. Ibadah bukan tontonan. Oleh karena itu dalam beribadah di gereja, kita tidak bisa bersikap seperti menonton film di bioskop: kita bisa makan seenaknya atau memberi makan anak-anak kita sepanjang ibadah berlangsung. Mari kita pun belajar menahan diri untuk tidak makan dan mengajar anak-anak kita untuk menghormati Tuhan dengan tidak makan di dalam ruang ibadah tersebut.
  9. Kita perlu menghargai pemimpin ibadah/ pelayan firman (PF) yang menjadi wakil Tuhan dalam ibadah kita. Oleh karena itu kita perlu menunggu pemimpin ibadah (PF) keluar dari ruangan untuk bersalaman dengan seluruh umat. Kita tidak perlu keluar cepat-cepat dan berdesakan yang menyebabkan pemimpin ibadah sulit untuk keluar ruangan.
  10. Kita pun perlu menghargai orang-orang yang terlibat dalam ibadah (yaitu para penatua/pengurus, para usher, pemandu nyanyian, pengisi pujian dan lain-lain) yang menolong ibadah kita agar berlangsung dengan baik. Salah satu sikap yang menghargai mereka adalah kita mau diatur, bukan kita yang mengatur mereka.

 


 
 




 



 

 

 

Print

Orang Tua di Mata Anak

Written by Gki Kota Wisata on .

Jika kita berbicara tentang anak, spontan terlintas dalam pikiran kita sebagai orang tua adalah bagaimana memahami dan memperlakukan anak-anak kita. Jarang sekali kita menempatkan diri sebagai anak yang melihat sosok orang tuanya. Anak yang bisa kagum atau kecewa, anak yang kadang ingin mendekat atau menghindar, anak yang sewaktu-waktu menurut atau melawan, dan anak yang punya keinginan dan harapan terhadap orang tuanya.

Sejak lahir anak memiliki hubungan, kedekatan dan kesan pertama yang paling kuat dan istimewa dengan orang tuanya, terutama ibunya. Hingga anak berusia lima tahun, ia merasakan keluarga sebagai dunia satu-satunya. Setelah usia tersebut, barulah anak secara bertahap mengenal lingkungan lain yang lebih luas selain keluarganya. Namun, masa perkenalan anak pada orangtuanya yang singkat ini kini semakin dipersingkat lagi dengan hadirnya sekolah-sekolah usia dini atau tempat penitipan anak-anak batita yang menandai keluarga modern.

Fasilitas yang baik, guru-guru yang ramah, pengasuh yang trampil dianggap sudah dapat menggantikan peran orang tua dalam masa keintiman awal. Padahal rasa nyaman anak mulai disisipi oleh kehadiran tokoh-tokoh baru yang asing dan pola asuh yang berbeda-beda bahkan tuntutan-tuntutan yang belum menjadi kebutuhannya. Anak sejak kecil sudah harus berjuang untuk memenuhi berbagai tuntutan, bersaing untuk mendapat pujian dan penerimaan, dan dipaksa menyesuaikan diri dengan berbagai aturan yang membatasi eksplorasinya.

Budaya pendidikan di luar rumah, yang dianggap bergengsi kini semakin banyak diadopsi oleh para orang tua masa kini. Antara lain karena kedua orang tua ingin bekerja untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Dengan catatan, orang tua menitipkan anak-anak kepada orang lain dan fasilitas yang menyenangkan anak. 

Baru-baru ini ada seorang guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) menceritakan pengalamannya. Betapa terkejut dirinya saat seorang anak batita yang diasuhnya datang lalu menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepadanya. Anak itu tidak mau mengerjakan tugasnya, dan ia ingin bermain di luar kelas. Ketika guru bertanya, anak itu mengatakan, “Papa mamaku di rumah juga selalu ‘membayar’ kalau mereka ingin sesuatu.”

Sepintas mungkin kita tertawa karena tampaknya kisah ini lucu. Tetapi mari kita bayangkan apa yang ada di pikiran anak tersebut. Mungkin anak merasa terbiasa dihargai “dua puluh ribu rupiah” sehingga dengan cara seperti itu ia juga menghargai gurunya atau orang lain. Bahasa dan sikap orang tua direkam oleh anak. Masa emas dalam kehidupan anak menjadi terabaikan dan tergantikan oleh nilai-nilai materi sebagai penebus rasa bersalah orang tua.

Anak bukan hanya perlu di-handle dengan sebaik mungkin lalu urusannya selesai. Anak membutuhkan lebih dari sekadar masalah teknis, anak merindukan haknya untuk belajar hidup dari orang tuanya, bersikap dan berjuang seperti orang tuanya, dan mengenal siapa yang menciptakan dirinya dari orang tuanya. Anak butuh pengajaran serta pendampingan moral dan agama pertama kali dari orang tuanya. Karena konsep awal tentang benar atau salah, tentang siapa Tuhan dalam hidupnya seharusnya ia kenal dari orang tuanya. Kurangnya pendampingan dan pendidikan dari orang tua, lalu diisi oleh guru atau pengasuh yang berbeda, akan membingungkan anak dan mengurangi respek anak terhadap orang tua, yang tanpa disadari akan mempengaruhi kehidupannya hingga dewasa.

Memang, masih ada sebagian orang tua yang sangat ketat dalam mendidik dan mengajarkan nilai-nilai moral dan agama kepada anak-anak mereka. Tetapi ada banyak orang tua yang semakin longgar serta abai atau cuek terhadap hal ini. Mungkin golongan pertama berpendapat, orang tua menganggap merekalah penanggung jawab mutlak dalam membangun karakter anak-anak mereka, sehingga harus memperketat rambu-rambunya. Anak-anak hanya boleh mengikuti dan dilarang membantah. Sedangkan golongan kedua berpendapat, orang tua menganggap bahwa setiap anak toh akan bertumbuh secara alamiah, jadi orang tua tidak perlu terlalu mengayomi apalagi mengintervensi kehidupan anak. Anak akan mengenal dan menemukan cara pandangnya sendiri, akan tahu mana yang baik dan jahat dari interaksi dan pengalaman hidupnya. Anak boleh bebas mencari jalan hidupnya sendiri.

Lalu, mana yang lebih baik? Apa yang firman Tuhan katakan tentang pendidikan anak? Melalui Musa, Allah mengingatkan para orang tua bangsa Israel dalam Ulangan 6:7-9, “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu…” Jadi, ada tanggung jawab dan tugas penting yang Allah berikan kepada setiap orang tua dalam hal pendidikan anak. Mengajarkan apa? Mengajarkan tentang tujuan, arah dan rambu-rambu kehidupan. Mengajarkan tentang Allah yang telah menciptakan kehidupan. Ada rencana Allah yang lebih dari cita-cita atau keinginan orang tua. Allah menganggap anak-anak sedemikian penting, sehingga Ia membekali orang tua dengan tugas dan tanggung jawab itu. Mendidik anak bukan hanya dengan otoritas sebagai orang tua saja, tetapi dengan otoritas yang berasal dari Allah. Juga bukan dengan cara membiarkan anak menemukan hidupnya sendiri, tetapi menemukan hidup yang Allah inginkan bagi anak-anak yang dikasihi-Nya.

Anak-anak butuh diajarkan berulang-ulang dan di setiap keadaan. Maksudnya, bukan agar anak-anak tidak lupa, tetapi agar orang tua juga terus diingatkan untuk konsisten dalam pengajaran, keyakinan dan keteladanan. Kata-kata tanpa contoh akan sia-sia, menimbulkan rasa bosan, cuek, tidak patuh, dan keinginan untuk berontak. Didikan yang berpengaruh dalam hidup anak bukanlah nasihat yang bertubi-tubi, namun oleh kisah nyata yang didasari oleh kasih sayang dan penghargaan yang tulus terhadap anak. Anak-anak butuh rasa aman sekaligus rasa bangga di mata orang tua mereka.

Sekarang ini ada banyak anak yang lebih tertarik dengan televisi, film, atau game, daripada mendengarkan orang tua. Salahkah mereka? Bukankah orang tua yang semakin kehilangan pengaruh dan kesempatan untuk dekat dengan anak-anak mereka? Bukankah orang tua juga yang mengizinkan anak-anak menukar rasa nyaman mereka dengan berbagai hadiah hiburan yang difasilitasi orang tua? Sampai suatu ketika orang tua mendatangi psikolog untuk bertanya tentang anak-anak mereka yang sulit dimengerti. Ironis, tetapi begitulah kenyataan yang kita hadapi.

Dan, anak-anak mengakui bahwa mereka kurang mendapat perhatian, kecuali jika mereka berprestasi dan menyenangkan orang tua. Sejak kecil anak-anak telah digiring pada usaha untuk menyenangkan orang tua dan memakai akal mereka juga untuk ‘menipu’ orang tua dengan cara-cara gampang seperti meniru, menyontek atau menyuruh orang lain mengerjakan PR, dan sebagainya.

Bagaimana juga anak-anak yang merasa kurang dipedulikan, kurang dihargai, dapat belajar berdoa, membaca Alkitab dan mengenal Tuhan dengan baik? Hanya orang tua yang respek terhadap anak-anak mereka, yang dapat memberi waktu, keakraban dan mau beraktivitas bersama yang akan efektif mendidik anak-anak. Bangunlah suasana yang menyenangkan, pendekatan yang menarik, misalnya melalui acara tebak-tebakan gambar atau kata-kata, menonton film anak-anak yang bermutu bersama, menggambarkan kembali cerita yang baru didengar, menuliskan hal-hal yang paling berkesan, memperagakan bersama adegan ceritanya dan sebagainya.

Suatu siang seorang anak teman kami datang ke rumah. Usianya empat tahun. Dia tertarik dengan boneka kura-kura kesayangan anak kami yang ada di kamar. Dengan seru dan gembira ia ngobrol dengan si kura-kura itu. Tiba-tiba nada bicaranya berubah. “Kura-kura, kok matamu cuma satu. Kasihan sekali…!” Anak kami yang sudah lebih besar langsung menjelaskan, bahwa matanya yang satu lepas, dan belum sempat dipasang lagi. Tetapi anak itu berkata, “Bukan, mata si kura-kura sedang sakit, kasihan dia, hu hu huuu….” Lalu ia memeluk si kura-kura, “Nanti kita ke dokter ya, supaya matamu sembuh…” Itulah gambaran dunia anak yang sesungguhnya. Anak belajar berempati terhadap apa yang ia lihat, dengar dan temukan dalam kesehariannya. Ia berbicara tentang rasa lebih kuat daripada fakta.

Karena itu, mengajarkan berulang-ulang tentang kehidupan menjadi sangat penting di usia anak-anak. Ada arti dan pemahaman baru yang bisa terus digali dan diperbincangkan sejalan dengan perkembangan dan pemahaman anak. Orang tua pun siap teruji apakah keyakinan mereka akan goyah atau tetap kokoh sejalan dengan pertanyaan yang diajukan oleh anak-anak. Seorang anak selalu ingin memandang orang tua sebagai tokoh yang hebat, walaupun tidak sempurna. Dan anak mudah menjadi minder jika tak ada yang bisa ia banggakan tentang orang tuanya.

Alkitab juga mengajarkan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams 22:6). “Didiklah anakmu maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Ams 29:17).

Kedua ayat tersebut menekankan tentang tujuan pendidikan, baik yang menyangkut kepentingan anak maupun kepentingan orang tua. Anak yang dididik dengan baik dan benar akan mempunyai pegangan hidup yang kokoh hingga masa tua, dan juga tidak akan mendatangkan penyesalan bagi orang tua yang telah mendidik anak-anak mereka. Itulah warisan hidup paling berkesan dan berharga yang tersimpan dalam diri anak-anak. Jangan biarkan anak-anak setelah remaja berkata, “Papa mamaku cuek… Kalau aku lagi senang atau sedih, lagi bangga atau kesel, selalu dianggap hal kecil dan sepele. Mereka cuma bilang capek, nggak mau diganggu…“

Yang lain akan mengatakan, “Papa mamaku sih bebasin aku banget... Apa aja terserah… Kalau aku cerita lagi senang atau kesal, mereka cuma dengerin… no comment-lah. Pernah aku dijahati teman, mereka cuma bilang lapor sama bu guru!” Atau, paling mereka nawarin hadiah atau tambahan uang jajan buat menghibur…”

Atau, “Papa mamaku penuntut abis… apa-apa pake target dan nilai, nggak mau rugi sampai aku capek. Mereka hanya mau hasil yang bagus.”

Bahkan, “Papa mamaku malahan suka mengejek, mencela, mengancam, atau menghukum kalau aku salah. Mereka cuma ingin anaknya menurut saja dan tidak membantah.”

Sekarang pertanyaannya, sejauh mana prioritas kita, orang tua, dalam pendidikan anak-anak kita? Yesus lahir di keluarga yang sangat sederhana, jauh dari kemewahan. Ia diizinkan Allah dididik dan dibesarkan melalui Yusuf dan Maria sebagai orang tua yang juga sederhana dalam status sosial. Namun Lukas 2:52 menyaksikan, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”

Semoga, anak-anak yang dipercayakan Allah di tengah-tengah kita juga dapat lebih bertumbuh dan bertambah-tambah dalam pengenalan akan Tuhan dan kasih sayang yang membahagiakan. Selamat Natal.

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata - Cibubur
Bogor 16968
Telp : 021 8493 6167
Fax : 021 8493 0768
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 
Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA  : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528

Selengkapnya

Statistik Pengunjung

Hari iniHari ini508
KemarinKemarin435
Minggu iniMinggu ini1288
Bulan iniBulan ini11632
Total PengunjungTotal Pengunjung453992
Pengunjung Online 53