DUKUNGAN DOA : 1.Bangsa & Negara, 2.Presiden, Wakil Presiden dan aparat pemerintah, 3.Gereja-gereja di Indonesia, 4. Kesatuan hati MJ/BP/Aktifis dan kerinduan umat utk melayani , 5. Mereka yang mengalami kelemahan tubuh dan pergumulan, 6. Panitia Pembangunan Gedung Ibadah, 7 Pelaksanaan Progpel 2019-2020, 8. Panitia Bulan Keluarga 2019.

Print

Berita keadilan

 

 

 


Suatu hari terjadi keributan antara sang Kakak yang berumur 11 tahun dengan sang Adik yang berumur 6 tahun.  Sumber dari keributan ternyata hanya sepotong kue.  Ya, mereka berdua sedang berebut sepotong rainbow cake. Sebuah cerita klasik yang terjadi dalam sebuah keluarga.  Sang ibu mendengar keributan itu datang dan mencoba untuk bertindak dengan benar dan adil supaya kedua anaknya tidak bertengkar. 


Langkah klise yang sering terjadi adalah sang Ibu  membagi kue menjadi 2 bagian yang sama besarnya dan kemudian diberikan kepada masing masing anak sehingga mereka tidak lagi bertengkar. Kedua anak itu langsung dengan  cepat menyantap makanan dan redalah keributan sesaat tadi, karena semua sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Sang ibu lega dan dia merasa telah dapat menyelesaikan masalah keributan kue tadi dengan adil.

Benarkah itu sebuah keadilan?  Apakah adil itu adalah sama rata? Adil tidak selalu diartikan sebagai sama rata sama rasa.  Tentu dalam hal kue tadi, pembagian menjadi dua bagian yang sama besarnya belum tentu menjadi solusi adil, kalau ternyata sang Kakak masih merasa kekurangan atau lapar, sementara sang Adik tidak bisa menghabiskan kue karena kekenyangan dan meninggalkan sisa makanan.  Bahwa ternyata penyeragaman atau sama rata itu justru bisa membuat kita jatuh dalam ketidakadilan.

Keadilan haruslah dilihat di dalam konteks kapasitas dan talentanya, karena pada hakikatnya setiap orang berbeda. Tuhan Yesus memberikan ilustrasi yang sangat luar biasa dalam hal ini dalam di Matius 25 : 14-30 mengenai talenta.  Dikatakan bahwa majikan memberikan kepercayaan kepada hamba hambanya tidak sama dalam perspektif jumlahnya.  Tetapi majikan memberikan kepercayaan kepada hambanya sama dalam perspektif kemampuan. 

Jadi  prinsip pertama keadilan adalah memberikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing masing. Prinsip adil sangatlah penting di dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat dan bergereja.  Tanpa adanya keadilan akan muncul kesewenang-wenangan di satu pihak, iri hati, cemburu, akar pahit di pihak lain.  Dan kondisi ketidakadilan ini justru yang lebih sering terjadi di dunia, yang menghiasi sejarah peradaban manusia.  Munculnya peperangan, terjadinya kerusuhan, timbulnya pembunuhan dan lain-lain yang ada, akibat tidak adanya rasa adil.

Alkitab mencatat, mulai dari perjanjian lama, pergumulan mengenai ketidakadilan karena kesewenangan selalu muncul.  Dalam 1 Raja Raja 21 diceritakan mengenai kebun anggur Nabot yang diserobot oleh raja Ahab.  Juga teriakan nabi Habakuk dalam Habakuk 1 : 2-4 mengenai ketidakadilan.  Bahkan sampai perjanjian baru masalah ketidakadilan banyak terjadi seperti perlakuan terhadap Yesus untuk dihukum mati tanpa adanya satu kesalahan.   Sampai saat ini, di era modern ini lebih banyak orang menuntut haknya melebihi kewajiban yang harus dilakukan, sementara di lain pihak mengesampingkan hak orang lain serta menuntut kewajiban orang lain lebih besar.  Ini sebuah bentuk ketidakadilan yang ada di sekeliling kita. Dan prinsip kedua keadilan adalah memberikan hak kepada orang lain yang patut mendapatkannya dan melaksanakan kewajiban yang seharusnya kita lakukan.

Saat ini kita sudah berada di penghujung tahun 2013, dan bila kita tengok ke belakang, bagaimanakah hidup kita terkait keadlian yang kita beritakan dalam kehidupan sehari hari?  Adakah kita telah menjadi pembawa berita keadilan?
Ada beberapa refleksi buat kita semua:

 

  1. Apabila saya adalah seorang pemimpin, apakah saya sewenang wenang dalam mempergunakan kekuasaan saya? Kekuasaan adalah milik dan titipan Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan sepeti dalam Yer 23 : 5
  2. Apabila saya bukan sebagai pemimpin dan bukan juga sebagai korban, apakah saya akan berdiam diri apabila  saya melihat ketidakadilan di sekitar saya? Bandingkan dengan 1 Kor 13 : 6
  3. Apabila saya adalah korban ketidakadilan, apakah saya harus membalas? Bandingkan dengan Roma 12 : 19


Dari refleksi itu bagaimana cara kita untuk bisa menjalani hidup sebagai Pembawa Keadilan menyongsong tahun 2014 mendatang? Menurut John C. Maxwell tipsnya adalah:

 

  1. Mulai dari diri sendiri, jangan menuntut orang lain tetapi lakukan apa yang bisa kita lakukan.
  2. Mulallah dari yang sederhana, seperti ada dalam Lukas 6 : 31 untuk berbuat kepada orang lain sama seperti yang diharapkan orang lain terjadi pada kita.
  3. Mulailah dari sekarang dan jangan menunda waktu.


Bila kita coba untuk memahami prinsip prinsip ini, niscaya keadilan adalah bukan sesuatu yang ada di awing-awang.  Namun keadilan bisa diwujudkan melalui kita semua. Selamat bekerja sebagai Pembawa Berita Keadilan di tahun yang baru dan Selamat Tahun Baru 2014. (HSE)

 

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata - Cibubur
Bogor 16968
Telp : 021 8493 6167
Fax : 021 8493 0768
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 
Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA  : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528

Selengkapnya

Statistik Pengunjung

Hari iniHari ini508
KemarinKemarin435
Minggu iniMinggu ini1288
Bulan iniBulan ini11632
Total PengunjungTotal Pengunjung453992
Pengunjung Online 41