DUKUNGAN DOA : 1.Bangsa & Negara, 2.Presiden, Wakil Presiden dan aparat pemerintah, 3.Gereja-gereja di Indonesia, 4. Kesatuan hati MJ/BP/Aktifis dan kerinduan umat utk melayani , 5. Mereka yang mengalami kelemahan tubuh dan pergumulan, 6. Panitia Pembangunan Gedung Ibadah, 7 Pelaksanaan Progpel 2019-2020, 8. Panitia Natal 2019.

Print

Ulangan 6:10-13

 

 

Ketika mendampingi istri yang sedang meliput sebuah peristiwa kecil buat surat kabar tempatnya bekerja saya terkesan dengan ungkapan salah seorang sumber beritanya. Seorang anak belasan tahun, yang baru saja memenangkan sebuah pertandingan lomba kecerdasan matematika dan fisika, mengatakan bahwa di dalam pertandingan yang diselenggarakan oleh universitas Katolik ini berbeda dengan pertandingan sejenis yang diselenggarakan oleh universitas lainnya. Di tempat itu mereka merasa bahwa proses berpikir mereka (waktu itu mereka menggunakan kata ‘logika’) lebih dihargai.

Pertandingan yang diselenggarakan di tempat lain biasanya dilakukan dalam bentuk Cepat-Tepat. Sama halnya seperti model
yang sudah puluhan tahun dilakukan oleh perusahaan televisi negara, TVRI, kita itu. Dalam model seperti ini yang dipentingkan adalah faktor kecepatan menjawab dan hasilnya. Jadi kalau mau aman dan membuat peserta lain grogi cepat-cepat saja tekan bel dan menjawab. Jawaban keliru pun tak apa, yang penting peserta lain sudah dibuat kaget dulu dan kalah mental.

Dalam pertandingan model universitas Katolik ini, semua peserta mendapatkan waktu yang sama banyaknya. Setelah batas waktu yang ditentukan habis, maka setiap peserta diminta masing-masing memperlihatkan isi jawaban mereka. Seluruh jawaban dengan segala rumusnya dan bukan hanya hasil akhirnya diperiksa. Sebelum jawaban dari para peserta dibuka dan diperiksa di depan umum oleh tim juri yang memberi nilai, sang pemberi soal juga membuka di hadapan umum, dan diperlihatkan dengan OHP (ya ini terjadi di akhir abad XX yang lalu), jawaban dan alur pikiran yang dipenuhi rumus-rumus yang dianggap benar. Inilah enaknya ilmu-ilmu eksakta, jawaban yang ‘benar’ tidak perlu terlalu diperdebatkan secara berkepanjangan, setidaknya pada tahap sekolah menengah. Berdasarkan perbandingan antara jawaban ‘benar’ itu, bersama seluruh proses untuk tiba kepada hasil, dengan pekerjaan peserta dapatlah diberikan kemudian nilai bagi para peserta. Jadi wajar saja kalau para siswa  sekolah menengah itu merasa bahwa proses berpikir mereka dihargai. Apa lagi di tengah suasana kehidupan yang hanya berorientasi kepada hasil, suasana pertandingan di universitas Katolik ini bisa dirasakansebagai sebuah terobosan yang orisinal.

Pola orientasi kepada semata-mata hasil ini terasa betul di mana-mana dewasa ini, terutama di dunia pendidikan. Hasil-hasil yang baik telah menjadi satu-satunya ukuran dari keberhasilan belajar dan mendidik. Beberapa tahun lalu sempat kita mendengar ada sebuah gereja yang mengambil sebuah keputusan drastis yang menimbulkan banyak korban. Pimpinan gereja tersebut menetapkan standard IP kumulatif minimal bagi para STh (lagi-lagi ini gelar bagi lulusan sekolah teologi pada abad XX, sekarang umumnya mereka bergelar Sarjana Sains Teologi) yang diutus oleh gereja tersebut dan yang ingin kembali serta ingin melayani di gereja asalnya. Saya tak tahu banyak mengenai seluk beluk soal ini, tapi satu hal yang pasti kebijakan seperti ini sesungguhnya berada dalam jiwa yang berorientasi pada hasil semata, dan kurang menghargai serta memperhitungkan proses, baik proses yang telah terjadi mau pun yang masih akan terjadi pada diri teolog-teolog muda itu.

Tentu saja hal ini cuma salah satu contoh saja. Masih ada sejumlah peristiwa lainnya yang juga kurang lebih sejiwa dengan kebijakan ini pada gereja-gereja lainnya. Bahkan sesungguhnya gereja-gereja kita pada umumnya masih berada dalam semangat yang berorientasi pada hasil semata. Sayangnya inilah realitas yang juga menjadi gejala umum sampai dengan hari ini di tahun 2014, bahkan juga dalam hal kehidupan bergereja dan dalam hubungan antar-gereja.


Perhatikan saja ukuran-ukuran yang sering dipergunakan untuk saling menilai antar-gereja atau antar-jemaat sebagai ukuran ‘keberhasilan’. Bukankah ukurannya adalah penambahan jumlah anggota yang pesat dan yang sejenis dengan itu? Sekali lagi orientasinya pada hasil. Secara pribadi saya tidak hendak mengatakan bahwa cara berpikir ini harus ditolak atau pun cara berpikir tersebut sama sekali keliru. Saya percaya di balik sikap dan keputusan seperti itu ada suatu proses yang telah menghantar mereka pada hasil (atau sikap) yang sedemikian.

Membaca kisah perjalanan Israel sejak keluar dari Mesir sampai mereka tiba di tanah perjanjian menolong saya untuk semakin meyakini bahwa cara Allah bekerja adalah bekerja sama dengan umat-Nya. Ada kalanya memang tampak Ia bertindak sendiri.
Namun cukup banyak juga catatan yang memperlihatkan bahwa Ia secara sengaja melibatkan umat, sambil mengajar mereka untuk tiba pada pemahaman demi pemahaman. Allah menggunakan proses dan pengalaman di dalam menuntun umat-Nya. Baru pada tahap-tahap tertentu Ia dengan jelas mengatakan apa yang dikehendaki-Nya. Tak mengherankan bila Kosuke Koyama di dalam karya perenungannya mengatakan bahwa Allah ini adalah Three Miles an Hour God. Allah yang bergerak begitu perlahan. Hanya 3 mil perjam untuk bisa berjalan mendampingi umat-Nya di dalam pengembaraan mereka. Dan ketika kemudian kepada umat diberikan perintah, maka kembali kita melihat bahwa perintah ini tidak turun begitu saja dari langit.
Perintah ini berkaitan dengan seluruh proses yang telah dan masih akan berlangsung. Bahkan dengan jelas juga umat dapat melihat kait-mengait, kena-mengenanya perintah ini dengan seluruh pengalaman dan proses yang berlangsung. Perintah yang bukan sembarang perintah, melainkan ada sebuah kisah yang membuat perintah ini sesungguhnya menjadi perintah yang menghidupkan. Bukan cuma sekadar ‘lakukanlah’ dan ‘hindarilah’.

Di awal tahun yang baru ini, saya mengucapkan selamat bagi kita semua untuk menjalani seluruh proses yang akan berlangsung di tengah-tengah kita. Apa pun hasilnya baiklah kita percaya bahwa setiap pengalaman berharga dan bernilai dalam proses kehidupan dan berkarya kita di dalam dunia: keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kita. Kiranya kemurahan hati Tuhan yang telah menyertai pengembaraan umat-Nya melewati segala mara bahaya dan kesulitan padang gurun, juga menyertai kita di tahun yang katanya bakalan serba penuh kesulitan dan kejutan ini. (Pdt. Yusak Soleiman)

 

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata - Cibubur
Bogor 16968
Telp : 021 8493 6167
Fax : 021 8493 0768
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 
Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA  : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528

Selengkapnya

Statistik Pengunjung

Hari iniHari ini186
KemarinKemarin566
Minggu iniMinggu ini2969
Bulan iniBulan ini8138
Total PengunjungTotal Pengunjung482544
Pengunjung Online 3