Ibadah yang sejati

IBADAH YANG SEJATI (ROMA 12:1-3)

 

Ibadah yang sejati merupakan ibadah yang berkenan kepada TUHAN. Ibadah itu tidaklah sebatas sebuah persekutuan yang melakukan ritus di tempat-tempat tertentu. Atau sebatas kegiatan liturgis pada waktu-waktu tertentu, dan atau urusan pribadi dengan Tuhan.

Ibadah dalam konsep Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mempunyai arti pelayanan. Dalam istilah Ibrani disebut avoda sedangkan dalam bahasa Yunani disebut latreia. Istilah avoda merujuk kepada ibadah di kuil dan khusus lebih mengarah dalam hal berdoa. Ibadah sebenarnya merupakan suatu pelayanan yang dipersembahkan/ ketaatan kepada Allah, tidak hanya dalam arti ibadah di Bait Suci (berdoa), tetapi juga dalam arti pelayanan kepada sesama (Luk.10:25; Mat.5:23, Yoh.4:20-24, Yak.1:27).

Pertanyaan kita sekarang adalah apa yang perlu kita lakukan agar ibadah kita berkenan kepada TUHAN?

Pertama, kita harus mempersembahkan totalitas kehidupan kita kepada TUHAN (ay. 1). Arti “mempersembahkan” ialah menyerahkan diri secara total dan dalam keadaan “hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah” bukan asal apa adanya! Apa yang menjadi kehendak-Nya? Tuhan berkata kepada Samuel tentang Daud, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi …. Tuhan melihat hati” (1Sam. 16:7). Hati yang mengasihi, hati yang taat, hati yang murni, hati yang bersih! Tuntutan Tuhan “dengan segenap hati” (Ul. 6:5); “bersungguh hati” (2Taw. 16:9). Raja Hizkia dinyatakan dalam Firman, “Semuanya dilakukannya dengan segenap hati sehingga segala usaha- nya berhasil” (2Taw. 31:21) – dia berhasil karena melakukan tugasnya dengan segenap hati. Serahkan hidupmu dengan segenap hatimu bukan dengan setengah hati dan nya takan seperti nabi Yesaya, “ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:8). Ini adalah sikap yang benar, “bahwa kamu bukan milik kamu sendiri” (1Kor. 6:19-20).

Kedua, kita harus mampu memperbarui pola pikir kita (ay. 2). “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: ….” (ay. 2). Serupa dengan dunia harus dihindarkan tetapi kita harus tampil beda. Hal-hal yang duniawi harus menjadi hal- hal yang rohaniawi! Dan ini dapat terjadi lewat “pembaharuan budimu”. Kata “budi” atau “akal budi” dapat diartikan pikiran. Jadi adakan perubahan pemikiran atau pola pikir kita. Bagaimana pelaksanaan perubahan dapat terjadi? Rasul Yakobus berkata “terimalah dengan lemah lembut firman yang telah tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu” (Yak. 1:21) sedangkan “jiwamu” terdiri dari 3 unsur yaitu: kehendak, pikiran dan perasaan. Dibutuhkan Firman tetapi juga dibutuhkan kuasa Roh Kudus untuk memperbarui pikiran kita! Rasul Paulus berkata, “supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna” (Kol. 1:9) dan sebagai akibatnya kita akan “berpikir seperti Kristus” dan “berbuat seperti Kristus”. Mampukah manusia berubah? Saulus berubah, Zakeus berubah karena mereka dijamah dengan kuasa-Nya (baca Kis. 9 dan Luk. 19).

Ketiga, kita harus mampu menguasai diri dalam pelayanan (ay. 3). Apa yang telah Tuhan karuniakan dalam kehidupan kita, terimalah dengan tanggung jawab penuh atau gunakan dengan kesungguhan hati. “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan” (ay. 3) tetapi “jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati” (ay. 7-8). Pesan Rasul Paulus agar kita melakukannya dengan “hati yang ikhlas …. dengan rajin … dengan sukacita” (ay. 8). Hamba yang malas dan tidak berguna akan dibuang oleh Tuhan (baca Mat. 25:30).

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah makna ibadah sejati itu dalam kehidupan kita sehari-hari?

Pertama, ibadah sejati adalah ibadah totalitas. Ibadah sejati bukanlah ibadah fenomenal, kelihatan aktif di berbagai kegiatan gereja. Ibadah sejati adalah ibadah totalitas, artinya menyeluruh di dalam seluruh aspek hidup kita. Hal ini diajarkan Paulus di dalam ayat ini dengan mengatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan/kurban yang hidup. Kata “mempersembahkan” dalam bahasa Yunani bisa diterjemahkan “menyembahkan”. Kembali, kata yang dipergunakan di sini menggunakan bentuk aktif. Berarti, ibadah sejati adalah ibadah yang terjadi ketika kita secara aktif mempersembahkan/menyembahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Itulah arti berserah total. Berserah adalah kita berani menyerahkan seluruh hidup kita dikuasai oleh Kristus sebagai Tuhan, Raja, dan Pemerintah hidup kita. Ketika kita menyerahkan hidup kita, dengan kata lain, kita juga harus berani menyesuaikan hidup kita dengan kehendak Tuhan. Di sini, saya menggabungkan konsep berserah dengan menyangkal diri. Ketika kita berserah, di saat yang sama kita menyangkal diri untuk mengatakan “tidak” kepada kehendak kita dan mengatakan “ya” kepada kehendak-Nya. Hal ini diteladani sendiri oleh penulis surat Roma, yaitu Paulus. Paulus adalah salah satu rasul Kristus yang sudah menyerahkan totalitas hidupnya kepada Kristus (Flp. 1:21), dan di saat yang sama, ia bisa mematikan kehendaknya yang berlawanan dengan kehendak Allah. Kapan Paulus berani mematikan kehendak dirinya sendiri? Ketika Paulus mendapatkan suatu hambatan (baca: 2Kor. 12:7-9). Para penafsir tidak sepakat ketika menafsirkan arti “duri dalam daging”. Ada yang menafsirkan penyakit, ada juga yang menafsirkan hambatan/halangan dalam pelayanan Paulus. Intinya hanya satu: tantangan/hambatan dalam pelayanan Paulus (bisa berupa penyakit, dll). Ketika Tuhan menguji Paulus dengan “duri dalam daging”, Paulus pernah berdoa 3x memohon agar Tuhan mencabut duri itu, tetapi Tuhan menolaknya, dan Paulus taat (baca ayat 9- 10). Bahkan di dalam penderitaan, Paulus pun dengan berani tetap percaya kepada-Nya (2Tim. 1:12). Biarlah kita meneladani Paulus sebagai rasul Kristus yang telah menjalankan apa yang diajarkannya sendiri di bagain ini. Adalah suatu ketidakmasukakalan jika orang yang menyanyikan “Aku Berserah”, tetapi masih percaya kepada kehendak diri yang lebih baik daripada kehendak Tuhan.

Kedua, ibadah sejati adalah ibadah yang kudus. Bukan saja sebagai kurban/ persembahan yang hidup, Paulus juga menasihatkan jemaat Roma agar mereka juga mempersembahkan tubuh mereka sebagai kurban yang kudus. Kudus berarti dipisahkan (separated). Dengan kata lain, dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban yang kudus, berarti kita memiliki keunikan yang lain dari dunia ini. Paulus bukan hanya mempersembahkan tubuh/hidupnya sebagai kurban yang hidup, tetapi ia juga mempersembahkan hidupnya sebagai kurban yang kudus. Dari manakah ia mempersembahkan kurban yang kudus itu? Dari Roh Kudus. Roh Kudus yang telah menguduskan hidup Paulus dan umat Tuhan, menuntut kita untuk mempersembahkan tubuh yang telah dikuduskan-Nya itu untuk dipakai memuliakan Tuhan. Kepada jemaat Korintus, Paulus mengajarkan konsep ini di dalam 1 Korintus. 6:19-20, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Melalui dua ayat ini, kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus atau dikuduskan Roh Kudus di dalam penebusan Kristus, sehingga kita harus memuliakan Tuhan melalui tubuh kita. Kata “tubuh” baik di dalam Roma 12:1 maupun 1 Korintus. 6:19-20 sama-sama menggunakan kata Yunani soma. Karena Roh Kudus yang telah menguduskan tubuh/hidup kita, maka kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban yang kudus bagi-Nya yang berbeda dari dunia.

Ketiga, ibadah sejati adalah ibadah yang menyenangkan Allah. Bukan hanya hidup dan kudus, ibadah sejati adalah ibadah yang berkenan kepada Allah. Kata “berkenan kepada Allah” adalah ibadah yang menyenangkan atau memuaskan Allah. Bagaimana ibadah bisa dikatakan menyenangkan Allah? Ibadah bisa menyenangkan Allah ketika ibadah dilakukan (baik di gereja ataupun kehidupan sehari-hari) bukan memuliakan diri, tetapi memuliakan Tuhan. Ibadah yang memuliakan diri adalah ibadah yang menggunakan segala cara untuk menyenangkan diri sebagai objek dan subjek ibadah. Ini dilakukan oleh orang-orang kafir di dalam Alkitab. Mereka beribadah untuk mencari keuntungan. Tetapi ibadah yang berpusat pada Allah yang menyenangkan-Nya adalah ibadah yang memuliakan Dia saja (Soli Deo Gloria). Bukan hanya ibadah, pelayanan kita kepada Tuhan pun juga demikian. Di dalam pelayanan, pelayanan yang menyenangkan Allah adalah pelayanan yang berpusat dari Allah, oleh Allah, dan bagi Allah saja (Rm. 11:36). Sehingga pelayanan yang berpusat pada Allah adalah pelayanan yang tidak mencari keuntungan sendiri. (PMP)

 

 

 

KEBAKTIAN MINGGU

BERSAMA MEMBAWA PERUBAHAN

Yesaya 2:1-5; Mazmur 122; Roma 13:11-14; Matius 24:36-44

Kebaktian 30 November 2025 oleh Pdt. Reefo Christy Panambunan (GKI Bungur)

Dunia kita terus berubah, namun tidak selalu ke arah yang kita harapkan. Kekerasan, perpecahan, dan ketidakpedulian sering membuat kita merasa tak berdaya. Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tetapi Allah sendiri telah memulainya—dan Ia mengajak umat-Nya terlibat.

Yesaya 2:1–5 menghadirkan visi besar: Allah akan memulihkan dunia sehingga pedang ditempa menjadi mata bajak. Damai bukan angan-angan, tetapi bagian dari karya Allah. Karena itu Yesaya mengajak: “Mari kita berjalan dalam terang Tuhan.” Artinya, perubahan dimulai dari hidup umat yang memilih berjalan di jalan Allah.

Mazmur 122 mengingatkan bahwa komunitas iman adalah tempat damai itu bertumbuh. Daud bersukacita pergi ke rumah Tuhan dan berdoa bagi kesejahteraan kota. Gereja hari ini pun dipanggil menjadi pusat damai—bukan sumber konflik, tetapi ruang yang membangun dan menguatkan.

Roma 13:11–14 memberi seruan yang mendesak: “Sudah saatnya kamu bangun dari tidur.” Banyak gereja tahu apa yang benar, tetapi sering tertidur secara rohani—pasif, sibuk dengan rutinitas, namun kehilangan kepekaan pada kegelapan di sekitar. Paulus mengajak umat menanggalkan perbuatan kegelapan dan “mengenakan Tuhan Yesus Kristus.” Perubahan dunia hanya terjadi jika umat Tuhan hidup dalam terang.

Matius 24:36–44 menambahkan pesan penting: tetaplah berjaga. Kita tidak tahu kapan Tuhan datang, tetapi kepastian itu menuntun kita untuk hidup dengan integritas dan kesiapsiagaan. Gereja yang berjaga adalah gereja yang aktif menghadirkan kasih, keadilan, dan harapan di tengah masyarakat.

Dari keempat bacaan ini kita melihat satu panggilan:
Perubahan adalah karya Allah, tetapi Ia memilih gereja untuk menjadi mitra-Nya.

Maka, mari kita bertanya:
Apakah hidup saya membawa damai atau justru memperkeruh?
Apakah gereja kita menjadi rumah bagi harapan, atau justru tempat perpecahan?
Apakah kita berjaga, atau justru tertidur di tengah dunia yang terluka?

Ketika umat Tuhan berjalan dalam terang, ketika gereja memelihara damai, dan ketika kita hidup waspada dan berintegritas—di sanalah perubahan itu mulai terjadi.

Bersama, kita dipanggil membawa perubahan. Dimulai dari hati kita, mengalir ke gereja, lalu meluas ke dunia.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

998220
Users Today : 126
Users Yesterday : 1281
This Month : 9708
This Year : 550370
Total Users : 998220
Who's Online : 9