Ini aku, utuslah aku

Pernahkah kita dihadapkan pada suatu pilihan? Jawabnya pasti pernah bahkan sering. Terkadang kita diminta untuk memutuskan sesuatu hal yang sulit apalagi itu berkaitan dengan pribadi dan keseharian kita, pasti sulit. Salah satu yang harus kita putuskan adalah jika tiba saatnya untuk melayani Tuhan. Dalam re- nungan kombas Bulan November yang lalu kendala terbesar bagi kita adalah “Waktu”. Membagi waktu antara pekerjaan sehari-hari, pelayanan dan keluarga menjadi sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Mungkin ada yang berpikir bahwa panggilan Tuhan adalah ketika seseorang menjadi seorang pendeta atau seorang misionaris, tetapi sesungguhnya panggilan Tuhan tidak diberikan eksklusif hanya kepada orang-orang yang menjadi pendeta atau misionaris, melainkan juga kepada seluruh pengikut-Nya. Saya memiliki panggilan dari Tuhan, kamu memiliki panggilan dari Tuhan, dan kita semua memiliki panggilan dari Tuhan. Kita hidup di dunia ini bukan sekedar untuk belajar di sekolah hingga umur 20, bekerja mencari uang hingga umur 60, dan menikmati pensiun hingga kematian datang. Kita hidup dengan sebuah misi dari Tuhan, setiap orang memiliki panggilan uniknya masing-masing menurut rancangan Tuhan. Dan setiap dari kita memiliki pilihan dalam merespon panggilan Tuhan ini. Mari kita bahas tiga pilihan respon tersebut:

“INI AKU, AKU TIDAK MAU!” “Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN” (Yun. 1:1-3).

Tuhan memanggil Yunus untuk melakukan sebuah misi untuk menyelamatkan kota Niniwe, tetapi Yunus malah melarikan diri ke Tarsis. Dalam kata lain, Tuhan telah memberikan panggilan kepada Yunus, tetapi Yunus mengatakan: “Aku tidak mau!”

Mungkin beberapa dari kita pernah melewati hal yang sama dengan Yunus. Kita tau bahwa Tuhan menginginkan kita untuk melakukan sesuatu, tetapi kita menolak untuk melakukannya karena beberapa alasan. Mungkin karena kita merasa Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu yang terlihat merugikan untuk kita, mungkin karena kita merasa Tuhan meminta kita untuk berbuat baik ke orang yang kita tidak suka, atau mungkin karena kita merasa tugas yang Tuhan berikan terlalu berat. Inilah pilihan respon kita yang pertama: “Ini aku, aku tidak mau!” Mari kita lihat pilihan respon berikutnya.

“INI AKU, UTUSLAH ORANG LAIN!” Pada Keluaran, Tuhan menjumpai Musa dan memanggilnya untuk membawa Bangsa Israel keluar dari Mesir. Keluaran 4:11-13 menceritakan: Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah ma- nusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kau katakan.” Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus.”

Tuhan memanggil Musa, tetapi Musa malah mengatakan kepada Tuhan untuk mengirimkan orang lain. Mungkin beberapa dari kita juga pernah melakukan hal yang sama seperti Musa. Mungkin kita merasa bahwa kita tidak cocok untuk tugas ini, mungkin kita merasa ada orang lain yang lebih pantas melakukan panggilan Tuhan ini. Dia tidak pernah salah memilih orang!

“INI AKU, UTUSLAH AKU!” Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:8)

Nabi Yesaya diberikan sebuah tugas oleh Tuhan, dan hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ini aku, utuslah aku!” Nabi Yesaya tidak menanyakan tentang detail tugasnya, dia tidak menanyakan resiko dari menjalankan tugas ini, dia tidak menanyakan apa yang akan dia dapat jika dia menyelesaikan tugas ini, dia juga tidak menanyakan berapa lama tugas ini akan berlangsung. Yang dia tau hanyalah satu: Tuhan telah memanggilnya, dan dia mau melakukan apa pun panggilan itu. Dia tidak peduli seberapa besar resikonya, dia tidak peduli apa keuntungan yang dia dapat dari melakukannya, dan dia tidak peduli berapa lama dia harus melakukannya.

Bagaimana caranya kita dapat memberikan jawaban seperti Nabi Yesaya ketika Tuhan memberikan sebuah panggilan di dalam hidup kita? Jawaban yang dapat saya temukan hanyalah satu: Jika kita dekat dengan Tuhan dan mengenal betapa besar kasih karunia-Nya atas hidup kita. Sebelum ayat Yesaya 6:8 di atas, Yesaya 6:5-7 mengatakan: “Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.”

Ketika Nabi Yesaya menyadari betapa berdosanya dirinya, dan ketika dia juga menyadari betapa luar biasa kasih karunia Tuhan yang telah menebus dosa-dosanya, dia tidak memiliki jawaban lain selain mengatakan “ini aku, utuslah aku!” Kunci untuk mampu mengatakan YA pada panggilan Tuhan adalah dengan memiliki sebuah hubungan dekat dengan Tuhan. Jika kita dekat dengan Tuhan dan memiliki hu- bungan yang erat dengannya, pasti akan lebih mengenal betapa besarnya kasih karunia dan pertolongan- Nya yang telah kita rasakan di dalam hidup kita, dan itu yang akan mendorong untuk mengatakan YA pada panggilan-panggilan mulia-Nya.

Pertanyaan berikutnya adalah: “Jika kita berdoa kepada Tuhan agar mengirimkan seorang pekerja untuk menuai, siapakah pekerja yang akan Dia kirimkan tersebut?” Jawabannya adalah “Diri Kita” Kamulah pekerja yang akan Dia kirim untuk membawa jiwa-jiwa ke dalam Kerajaan-Nya. Jadi apa respon kita terhadap panggilan Tuhan di dalam hidup?

“Ini aku, aku tidak mau!”

“Ini aku, utuslah orang lain!” atau…

“Ini aku, utuslah aku!”

(AKR)

KEBAKTIAN MINGGU (HIJAU)

LITURGI SESEHARI

Roma 12:1-2

Kebaktian 21 Juli 2024 Pdt.Debora Rachelina S. Simanjuntak

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus mengajak kita untuk memahami bahwa ibadah bukan hanya tindakan yang dilakukan di dalam gereja, tetapi juga merupakan kehidupan sehari-hari kita. Joas Adiprasetya, dalam tulisan dan pemikirannya, sering menekankan konsep ini dengan istilah “liturgi sesehari.” Ini adalah panggilan untuk menghidupi iman kita dalam setiap aspek kehidupan, menjadikan setiap tindakan kita sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan.

1. Persembahan yang Hidup:

Paulus menyatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Ini berarti setiap tindakan, setiap keputusan, dan setiap langkah yang kita ambil harus mencerminkan dedikasi kita kepada Tuhan. Bagaimana kita bekerja, bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, bahkan bagaimana kita merawat diri kita sendiri merupakan bagian dari persembahan ini.

2. Pembaharuan Budi:

Hidup sebagai ibadah juga menuntut pembaharuan budi. Joas Adiprasetya sering kali mengaitkan ini dengan proses kontemplasi dan refleksi pribadi yang mendalam. Kita diundang untuk selalu merenungkan firman Tuhan, membiarkan kebenarannya meresap dan mengubah cara kita berpikir. Pembaharuan budi berarti kita tidak lagi berpikir menurut pola dunia ini, tetapi menurut kehendak Allah yang baik, berkenan, dan sempurna.

3. Hidup dalam Labirin Kehidupan:

Joas Adiprasetya sering menggambarkan hidup sebagai sebuah labirin. Di dalam perjalanan hidup ini, kita sering kali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang kompleks dan jalan yang berliku. Namun, dengan menjadikan setiap langkah kita sebagai bagian dari liturgi sesehari, kita bisa menemukan makna dan tujuan yang sejati. Dalam labirin kehidupan, pembaharuan budi membantu kita untuk tidak tersesat dan tetap berada dalam kehendak Allah.

Aplikasi Praktis:

  • Mulailah Hari dengan Doa: Setiap pagi, dedikasikan tubuh dan pikiran Anda kepada Tuhan. Mohonlah agar Dia membimbing setiap langkah Anda sepanjang hari.
  • Refleksi Malam: Sebelum tidur, luangkan waktu untuk merenungkan hari yang telah berlalu. Tanyakan pada diri sendiri bagaimana Anda telah mempersembahkan hidup Anda sebagai ibadah kepada Tuhan.
  • Perbuatan Kasih: Jadikan setiap interaksi sebagai kesempatan untuk menunjukkan kasih Tuhan. Baik di rumah, tempat kerja, maupun di jalan, biarkan tindakan Anda mencerminkan kasih Kristus.
  • Pembacaan Firman: Sediakan waktu khusus setiap hari untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Biarkan kebenarannya memperbarui cara berpikir dan bertindak Anda.

Dengan menjalani liturgi sesehari, kita mengubah setiap momen dalam hidup kita menjadi bagian dari ibadah yang sejati. Kita tidak lagi melihat ibadah sebagai kegiatan yang terbatas pada hari Minggu di gereja, tetapi sebagai hidup yang terus-menerus dipersembahkan kepada Tuhan dalam segala aspek dan situasi.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

280974
Users Today : 466
Users Yesterday : 601
This Month : 15194
This Year : 108736
Total Users : 280974
Who's Online : 4