Pelaku atau penonton

Pelaku atau Penonton

Seorang anak muda berusia 15 tahun baru saja memulai debutnya tampil di atas pentas untuk pertama kali. Dahulu, sewaktu kecil ia sering dibawa ibunya yang berprofesi sebagai fotografer ke berbagai pagelaran musik. Dari hanya ikut menonton, ia kemudian mulai membantu ibunya untuk memotret para penampil. Waktu itu usianya masih dibawah 10 tahun. Sekitar setahun lebih yang lalu ia merasa ingin untuk mendalami musik. Dibawah bimbingan guru yang baik, ia mulai rajin belajar dan berlatih. Dan sekarang ia mulai tampil sebagai pemain, bukan lagi penonton dan pemotret. Ia berkata bahwa ia sebenarnya sudah lama ingin merasakan seperti apa menjadi pemain yang ditonton orang. Menurutnya, perasaan sebagai penonton, pemotret dan pemain sangatlah berbeda. Mana yang ia paling suka? “Tentu saja jadi pemain,” katanya. Kenapa? “Sebab melihat orang tersenyum karena menikmati dan terhibur lewat penampilan saya itu rasanya bahagia banget.” katanya sambil tersenyum.

Ada lagi seorang gadis remaja yang juga tergolong belum lama menjalani karirnya sebagai musisi. Ayahnya adalah musisi terkenal dengan banyak pencapaian. Sejak kecil ia kerap melihat ayahnya tampil di panggung dan tumbuh besar dari pentas ke pentas menemani ayahnya. Saat ini ia sudah mengikuti jejak sang ayah dan mulai semakin dikenal. Bukan karena nama besar sang ayah saja, melainkan karena ia memang sangat berbakat dan rajin dalam berlatih. “Kalau dulu saya hanya melihat papa di panggung, sekarang saya bisa merasakan seperti apa rasanya menjadi pemusik itu saat berada disana didepan penonton. Rasanya luar biasa!” katanya.

Kedua anak muda ini baru saja berpindah posisi dari bangku penonton ke atas panggung, dari hanya melihat menjadi pelaku atau pemain. Dan mereka sama-sama mengaku bahwa posisi sebagai pelaku itu rasanya jauh berbeda. Mereka menemukan tujuan hidup mereka sesuai panggilan dan menjalani hidup dengan lebih semangat. Yang menarik adalah karena mereka menemukan passion mereka sejak di usia dini dan kemudian memilih untuk menekuni dan serius disana. Mereka tidak menunggu sampai lebih dewasa, mereka tidak menunda-nunda apalagi mengabaikan panggilan yang mereka rasakan dalam diri mereka. Mereka memutuskan untuk terjun menggapai mimpi mereka. Dan untuk itu, keduanya mengorbankan waktu-waktu santai dan hal-hal yang biasanya dilakukan para remaja seperti hangout, main bersama teman, bersantai dan lain-lain.

Ada pertanyaan yang menarik dalam kehidupan kerohanian kita, dimanakah posisi kita berdiri? Apakah kita berada di posisi pelaku atau masih sebagai penonton? Buat yang masih sebagai penonton, apakah Anda merasakan kerinduan untuk pada suatu hari bisa tampil di depan menjadi pelaku Firman secara langsung yang membawa terang dan garam lewat panggilan Anda masing-masing, atau hanya ingin menonton dari kejauhan saja? Apakah Anda masih hanya ingin menikmati untuk diri sendiri atau punya keinginan untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain, tapi tidak tahu harus mulai dari mana dan bagaimana caranya? Apakah masih ada hal-hal yang mengganjal Anda untuk bisa tampil sebagai pelaku seperti merasa tidak mampu, tidak sanggup, malu, malas, merasa terlalu berat, sulit mengorbankan kesenangan dan sebagainya?

Apakah kita hanya mendengar berbagai kesaksian orang lain atas mukjizat ajaib Tuhan yang terjadi atas mereka atau kita sudah mengalaminya sendiri secara langsung dan menjadikannya kesaksian buat orang lain? Apakah kita sudah berkontribusi dan berperan langsung sebagai saluran berkat, menjadi duta-duta Kerajaan yang menyampaikan Amanat yang Agung secara nyata atau masih pada posisi yang hanya menyaksikan dari kejauhan? Apakah kita sudah memberi atau masih hanya menerima saja?

Faktanya lebih banyak orang Kristen yang puas dengan hanya berada di bangku penonton ketimbang aktif secara langsung dalam melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini.  Kebanyakan lebih suka untuk berpangku tangan, hanya ingin menerima berkat buat diri sendiri dan tidak mau terlibat langsung untuk menjadi ‘pemain’ yang mewakili Kerajaan Allah di dunia, dimana kita Tuhan tempatkan. Banyak yang masih berpikir bahwa melayani Tuhan itu hanya tugas pendeta atau penatua saja. Urusan duniawi seringkali dianggap jauh lebih penting ketimbang menerima panggilan Tuhan yang menurut kita hanya buang-buang waktu.
Bayangkan betapa konyolnya kalau seseorang yang memangku jabatan sebagai ‘the royal priesthood’ alias imam-imam yang melayani raja hanya duduk menonton dari kejauhan tanpa melakukan apa-apa. Itu tentu sangat menyedihkan. Jadi pertama sekali kita harus menyadari jati diri kita sebagai imamat yang rajani, bukan warga, bukan orang luar apalagi orang asing.

Selanjutnya yang perlu kita ingat adalah bahwa untuk menjalankan itu semua kita pun sudah dipersiapkan secara baik. Selain Yesus sudah berjanji untuk senantiasa menyertai kita, Dia juga telah membekali kita dengan kuasa-kuasa luar biasa. Tidak mudah? Sulit? Repot? Ribet? Mungkin benar. Bahwa dalam melakukannya kita akan menemukan kesulitan, itu pun benar. Tapi ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah hanya menyuruh kita tanpa menyediakan sarana dan prasarana dalam menjalankan tugas. Ketika Tuhan memberi tugas, Dia pula yang menyediakan segala kebutuhan untuk itu.

Semua ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak satupun dari kita yang dipanggil hanya untuk berpuas diri dengan berada di kursi penonton saja. Kita semua dituntut untuk menjadi pemain-pemain yang siap berbuat yang terbaik dengan segala yang kita miliki, berperan secara langsung dan nyata sesuai dengan panggilan kita masing-masing, untuk menjadi rekan-rekan sekerja Tuhan di muka bumi ini. Disanalah kita akan mengalami berbagai perbuatan-Nya yang ajaib, bukan untuk disimpan sendiri melainkan untuk disiarkan kepada orang lain sebagai bentuk kesaksian akan kuasa Allah yang tak terbatas yang berlaku dalam kehidupan kita secara nyata hingga hari ini.

Sekarang saatnya menjadi terang yang bercahaya bagi sekitar kita. Yesus menghimbau kita, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 9:16). Tidak ada terang yang akan berfungsi jika hanya disimpan dibawah kolong atau ditutup rapat dalam kotak. Cahaya terang hanya akan berfungsi jika diletakkan di atas dalam kegelapan. Jika terang sudah berfungsi sebagaimana mestinya, maka tidak ada satupun kegelapan yang mampu menelan terang. Demikian pula kita semua, anak-anak Tuhan hendaklah bertindak sebagai pemain-pemain andalan Tuhan secara langsung dan tidak berhenti hanya sebagai penonton saja, apalagi hanya sibuk mengomentari, mengeluh, memprotes dan mencela tanpa mau berbuat sesuatu yang nyata.

It’s time for us to go out of the box, time to play our part, time to go and do something real. Kita dipersiapkan Tuhan untuk menjadi pelaku-pelaku, wakil-Nya dalam menuai di dunia ini dan bukan penonton yang tidak pernah merasakan apa-apa daripada-Nya. Siapkah Anda berperan sebagai pelaku langsung dalam arena kehidupan sebagai duta Kerajaan Allah? Siapkan diri Anda, jadilah pelaku-pelaku tangguh sebagai rekan sekerja-Nya, sandanglah gelar imamat yang rajani dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur, dan beritakanlah betapa besar perbuatan-perbuatan dan kasih-Nya pada umat manusia.

Sebagai bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus dan umat kepunyaan Allah, kita harus menjadi pelaku aktif, bukan sekedar penonton pasif. (DDT)

 

 

 

Renungan Sepekan

Bukan Ketundukan Brutal

Kejadian 22:1–19

Ada dua jenis ketaatan. Yang pertama adalah ketaatan karena paksaan. Orang taat karena takut dihukum, takut kehilangan jabatan, takut dimarahi, atau takut dikucilkan. Ketaatan seperti ini lahir dari kekuasaan yang menekan. Yang kedua adalah ketaatan yang lahir dari relasi, kasih, dan kepercayaan. Ketaatan seperti inilah yang Allah kehendaki.

Kisah Abraham yang diperintahkan mempersembahkan Ishak sering kali menjadi salah satu bagian Alkitab yang paling sulit dipahami. Sekilas, Allah tampak seperti penguasa yang menuntut ketaatan mutlak tanpa mempedulikan penderitaan manusia. Perintah itu bahkan bertentangan dengan janji Allah sendiri, sebab melalui Ishak keturunan Abraham akan dilanjutkan (Kej. 21:12). Mengapa Allah meminta sesuatu yang tampaknya begitu kejam?

Di sinilah kita perlu membaca kisah ini secara utuh.

Perhatikan bahwa Allah tidak pernah menginginkan kematian Ishak. Pada saat Abraham mengangkat pisau, Allah segera menghentikannya (Kej. 22:12). Bahkan Allah telah menyediakan domba jantan sebagai pengganti. Artinya, sejak awal tujuan Allah bukanlah mengorbankan seorang anak, melainkan menguji hati Abraham. Allah membedakan diri-Nya dari dewa-dewa bangsa sekitar yang benar-benar menuntut korban manusia. Justru melalui kisah ini Allah menunjukkan bahwa Ia menolak praktik tersebut.

Yang diuji bukan sekadar apakah Abraham mampu menaati perintah, tetapi apakah ia sungguh mempercayai Allah ketika jalan Allah tidak lagi dapat dipahami. Penulis Ibrani bahkan mengatakan bahwa Abraham percaya Allah sanggup membangkitkan Ishak dari kematian (Ibr. 11:17–19). Jadi ketaatan Abraham bukanlah ketundukan buta, melainkan iman yang tetap memegang karakter Allah meskipun situasi tampak bertentangan dengan janji-Nya.

Inilah perbedaan antara ketundukan brutal dan iman yang sejati.

Ketundukan brutal lahir ketika seseorang dipaksa menaati otoritas yang sewenang-wenang. Tidak ada ruang untuk bertanya, bergumul, atau mempercayai kasih. Sebaliknya, iman kepada Allah selalu dibangun di atas relasi. Abraham telah mengalami perjalanan panjang bersama Allah: dipanggil keluar dari Ur, dipelihara dalam berbagai kesulitan, menerima janji yang mustahil, dan akhirnya memperoleh Ishak sebagai anugerah. Karena mengenal Allah itulah Abraham dapat mempercayakan dirinya, bahkan ketika ia tidak memahami perintah-Nya.

Menariknya, di sepanjang perjalanan menuju Gunung Moria, Abraham tidak menunjukkan sikap pasrah tanpa harapan. Kepada para bujangnya ia berkata, “Kami akan pergi ke sana, kami akan sembahyang, sesudah itu kami akan kembali kepadamu” (Kej. 22:5). Kepada Ishak ia berkata, “Allah yang akan menyediakan anak domba” (Kej. 22:8). Ucapan-ucapan ini memperlihatkan keyakinan bahwa Allah akan bertindak sesuai dengan kasih dan janji-Nya.

Pada akhirnya, yang dikorbankan bukanlah Ishak, melainkan rasa aman Abraham yang selama ini mungkin melekat pada anugerah Allah, bukan kepada Allah sendiri. Abraham belajar bahwa pemberi anugerah lebih penting daripada anugerah itu sendiri.

Kisah ini mencapai puncak maknanya di dalam Yesus Kristus. Di Gunung Moria, Allah tidak mengizinkan Abraham mengorbankan anaknya. Namun berabad-abad kemudian, di wilayah yang sama, Allah sendiri memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi keselamatan dunia. Allah tidak meminta sesuatu yang Ia sendiri tidak rela lakukan. Bedanya, ketika Abraham dihentikan, tidak ada malaikat yang menghentikan penyaliban Yesus. Kristus benar-benar menjadi Anak Domba yang disediakan Allah bagi manusia.

Karena itu, iman Kristen bukanlah iman kepada Allah yang menuntut ketundukan brutal. Kita percaya kepada Allah yang terlebih dahulu mengasihi, berkorban, dan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Ketaatan kita bukan lahir dari ketakutan kepada tiran, tetapi dari kepercayaan kepada Bapa yang telah membuktikan kasih-Nya di kayu salib.

Refleksi

Apakah selama ini saya menaati Tuhan karena takut dihukum, atau karena saya mengenal dan mempercayai kasih-Nya?

Ketika jalan Tuhan tidak saya pahami, apakah saya tetap berpegang pada karakter-Nya yang setia, atau saya mulai meragukan kebaikan-Nya?

Semoga kita belajar dari Abraham bahwa iman sejati bukanlah ketundukan yang membabi buta, melainkan keberanian untuk mempercayai Allah yang selalu setia, bahkan ketika kita belum mengerti apa yang sedang Ia kerjakan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1342542
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1342442
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :