DUKUNGAN DOA : 1.Bangsa & Negara, 2.Presiden, Wakil Presiden dan aparat pemerintah, 3.Gereja-gereja di Indonesia, 4.Kesatuan hati MJ/BP/Aktifis dan kerinduan umat utk melayani , 5.Mereka yang mengalami kelemahan tubuh dan pergumulan, 6.Panitia Pembangunan Gedung Ibadah, 7.Pelaksanaan Progpel 2020-2021, 8.Panitia Bulan Keluarga 2020, 9.Pandemi COVID-19.

Print

Makna Adven

MAKNA ADVEN
Oleh. Pdt. Eka Darmaputera      

     Setiap tahun tentu kita merayakan minggu-minggu Adven. Tetapi apakah kita tahu maknanya?  O, tentu tahu! Adven artinya kedatangan. Minggu-minggu Adven, artinya minggu-minggu menantikan kedatangan Sang Kristus, Sang Mesias, Sang Almasih alaihi salam! Setelah empat minggu Adven, lalu Natal! Natal artinya kelahiran
    Baiklah! Anda dapat angka 100. Nah, sekarang kalau Natal, kita tahu bagaimana merayakannya! Pohon terang, lilin-lilin, lagu Malam Kudus, Hai Mari Berhimpun, dan sebagainya. Tetapi minggu-minggu Adven– bagaimana merayakannya? Itu yang ingin saya bahas berikut ini. Bagaimana merayakan minggu-minggu Adven? Suasana atau sikap hati yang bagaimana yang harus ada, agar minggu-minggu Adven itu benar-benar punya makna? Nah, Anda siap? Baik.
    Orang hanya dapat memahami dan menghayati makna Adven, jika ia menyadari nasib buruk yang membelitnya, dan kesuraman masa depan yang dihadapinya! Yang penting, ia menyadari bahwa hal yang menyakitkan itu adalah akibat ulahnya sendiri. Oleh karena itu, bukan hanya ada teriak kepedihan dan kesakitan, tetapi juga ratap penyesalan.
    Inilah suasana hati yang dapat kita rasakan ketika Israel berteriak kepada Tuhan, seperti yang kita baca dalam Yesaya 64:5-6: Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak   dahulu kala. Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.
    Menyadari, mengakui, meratapi dosa-dosa serta kejahatan kita! Menyadari, mengakui dan meratapi betapa ngeri dan celakanya kita bila murka Allah itu sungguh-sungguh menimpa kita! Oleh karena itu, bukan saja mengaduh dan meratap, tetapi juga berharap kepada Allah, sungguh-sungguh merasa tergantung kepada Allah. Ayat 8 berbunyi: Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, kami sekalian adalah buatan tangan-Mu!
    Ada penyerahan diri yang sungguh dan penuh kepada Allah. Apakah Anda merasakan hal itu?
Kemungkinan besar tidak! Hampir semua orang mengakui bahwa dirinya tidak sempurna, ada cacatnya, ada kurangnya, ada salahnya, ada dosanya! Anda juga begitu, bukan? Iya! Tetapi apa Anda menyesalinya? Benar-benar menyesalinya? Atau, dengan enteng, kita mengatakan, “Ya maklum aja deh. Namanya juga manusia!?”
    Ini kecenderungan orang. Selalu menganggap enteng dosanya sendiri. Kalau dosa atau kesalahan orang lain? Wow, kita teropong pakai kaca pembesar! Tetapi dosa dan kesalahan sendiri, kita teropong pakai kaca pengecil. Amat sulit memaafkan orang lain, tetapi begitu gampang memaafkan diri sendiri. Begitu bukan?
    Selama sikap mental kita seperti ini, ya tidak mungkin kita bertobat. Lha mau bertobat bagaimana, wong merasa salah saja tidak! Kalau tidak merasa perlu bertobat, memperbaiki dan memperbarui diri, kita juga tidak akan merasakan perlunya Juruselamat. Apa perlunya Juruselamat, kalau kita merasa safe dan baik-baik saja? Kalau tidak merasa memerlukan Juruselamat, kita juga tidak merasa perlu menanti, berharap, dan merindukan kedatangan Sang Juruselamat, bukan? Adven jadi tidak punya arti.
    Ada saatnya kita betul-betul menantikan kedatangan seseorang. Wah, kalau sudah begini, satu menit rasanya satu jam. Satu hari, rasanya satu abad. Kenapa? Karena kita betul-betul memerlukan kehadiran orang itu. Celakalah kita, jika orang itu tidak datang! Kedamaian hati kita betul-betul tergantung pada kedata-ngan dan kehadiran orang itu. Oleh karena itu, ketika dari jauh kita melihat orang itu datang, betapa leganya kita. Hati kita rasanya ingin bersorak! Kaki kita rasanya ingin berlari       menyongsongnya! Tangan kita ingin segera memeluknya!
    Apakah ada perasaan seperti itu dalam diri kita sekarang ini? Tidak? Ini terjadi karena sebenarnya kita tidak betul-betul merindukan kedatangan Yesus. Tentu kita membuat pesta Natal setiap tahun. Tetapi pesta itu lebih sering merupakan pesta untuk kita, bukan pesta untuk Yesus. Kita yang berpesta. Yesus ada kek, tidak ada kek, tidak ada bedanya. Jarang, atau mungkin malah tidak pernah, dalam pesta Natal kita sampai gelisah, setiap kali melongok ke kanan dan ke kiri: mana sih Yesus? Yesus datang nggak sih? Pernah-kah Anda merasakan hal itu?
    Tentu pernah kita betul-betul, malah    sering dengan tidak sabar, menanti-nantikan  Tuhan datang. Ayo Tuhan! Cepat Tuhan!    Datang Tuhan! Sekarang! Celaka saya kalau sampai Engkau tidak datang! Kapan? Pada saat hidup kita mengalami krisis! Pada saat kita menyadari kecelakaan kita, merasakan pe-rihnya luka kita, saat kita betul-betul menyadari bahwa kita tidak berdaya kalau Tuhan tidak datang menolong kita. O, betapa khusyuknya kita berdoa pada saat seperti itu!
    Tetapi hanya pada saat-saat seperti itu. Jika hidup sudah berjalan normal dan biasa lagi, Tuhan akan kita kembalikan lagi ke latar belakang. Dia hadir kek, tidak hadir kek, kita tidak merasa apa-apa. Tuhan sering seperti petugas pemadam kebakaran. Kalau suasana normal, kita tidak memerlukan mereka. Tidak pula mengingat mereka. Tetapi bila ada kebakaran, nah, kehadiran mereka baru terasa   gunanya.
    Inilah sifat khas manusia! Habis manis sepah dibuang. Kalau Tuhan sudah tidak kita perlukan, karena kita merasa bahwa semuanya dapat kita atasi sendiri, Tuhan kita simpan di gudang! Ada sih ada. Bahkan dekat dengan kita. Tetapi ya itu, di gudang.
    Persoalannya, kapan sih sebenarnya kita tidak memerlukan Dia? Kalau Tuhan itu kita pahami sebagai “barang di gudang”, ya memang ada kalanya kita membutuhkan Dia, ada kalanya tidak. Tetapi sejak Kitab Kejadian,  Alkitab sudah menyatakan Tuhan itu bukan seperti barang di gudang, tetapi adalah napas kita sendiri. Ia yang mengembuskan napas kehidupan itu, sehingga kita hidup. Napas itu yang membentuk kita dari lempung yang mati, menjadi manusia yang hidup. Nah, kalau Tuhan itu kita pahami seperti udara, kapan kita tidak membutuhkan-Nya? Setiap saat kita membutuhkan Dia!
    Anda mau menghayati makna Adven yang sebenarnya? Ikutilah resep Augustinus. Ia mengatakan, kita harus menyadari bahwa kita seolah-olah seperti orang yang sedang tenggelam. Sebab itu, kita meronta-ronta,    tangan kita menggapai-gapai, kita berusaha mengangkat kepala kita dari dalam air. Untuk apa? Untuk mencari udara! Untuk bisa bernapas. Sebab kita tahu, itulah satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup! Kata Augustinus, semestinyalah orang Kristen itu mencari Tuhan seperti orang tenggelam mencari udara! Hidup kita senantiasa merupakan Adven.
    Mudah-mudahan sekarang jelas bagi kita, bagaimana seharusnya merayakan Adven dan Natal itu. Bagaimana caranya agar Adven dan Natal itu sungguh-sungguh bermakna dan tidak sekadar sebagai pesta semalam suntuk yang amat meriah, tetapi keesokan harinya hanya menyisakan onggokan sampah yang bertebaran, tak ada apa-apa yang tersisa di dalam hati.
    Paling sedikit, Anda tahu apa sebabnya kalau Adven dan Natal sering terasa hambar. Sangat boleh jadi, itu adalah karena kita kurang mengharapkan kedatangan dan kehadiran-Nya, karena kita kurang merasa membutuhkan Dia, karena kita kurang menyadari kecelakaan kita, keseriusan dosa kita, ketidakberdayaan kita mengatasi persoalan-persoalan hidup, juga kecenderungan-kecenderungan buruk diri kita sendiri.
    Martin Luther pernah berkata begini, dan saya kira ia benar,”Orang hanya dapat mengalami manisnya dan indahnya anugerah pengampunan Tuhan, kalau ia menyadari betapa tidak berdayanya ia melawan dosa, dan betapa celakanya bila dosa itu tetap menguasainya! Hanya ketika kita merasakan betapa perlu kita ditolong, kita akan merasakan  indahnya pertolongan itu!”
    Kita menyaksikan sekian puluh orang– banyak anak-anak muda – yang menyerahkan diri kepada Tuhan, mau mengaku percaya dan dibaptis. Hati saya tentu saja bersyukur dan bergembira. Tetapi juga ada perasaan dan pertanyaan lain yang menyelinap di dalam hati saya: Apa yang ada di hati saudara-saudara kita ini? Apakah juga ada keseriusan dalam mencari Tuhan, seperti orang tenggelam yang begitu serius mencari udara? Apakah ada kesadaran, bahwa betapa mencari dan menemukan Tuhan itu adalah soal hidup-mati, masalah to be or not to be?

Alangkah celakanya saya, kalau sampai saya tidak menemukan  Tuhan dan Tuhan tidak menemukan saya!   Mudah-mudahan!.


Oleh: Pdt. Eka Darmaputera
Tatkala Allah Melawat Umat-Nya: Khotbah-khotbah tentang Adven dan Natal

 

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata - Cibubur
Bogor 16968
Telp : 021 8493 6167
  : 021 8493 0768
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 
Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA  : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea   Siswa)

Selengkapnya

Statistik Pengunjung

Hari iniHari ini47
KemarinKemarin615
Minggu iniMinggu ini1898
Bulan iniBulan ini21665
Total PengunjungTotal Pengunjung697003
Pengunjung Online 7