DUKUNGAN DOA : 1.Bangsa & Negara, 2.Presiden, Wakil Presiden dan aparat pemerintah, 3.Gereja-gereja di Indonesia, 4.Kesatuan hati MJ/BP/Aktifis dan kerinduan umat utk melayani , 5.Mereka yang mengalami kelemahan tubuh dan pergumulan, 6.Panitia Pembangunan Gedung Ibadah, 7.Pelaksanaan Progpel 2020-2021, 8.Panitia Natal 2020, 9.Pandemi COVID-19.

Print

Manusia di era digital

Manusia di era digital

Ada sebuah judul buku yang sedang saya baca dalam beberapa hari ini berjudulkan Manusia Digital. Buku ini menceritakan tentang perubahan zaman manusia dari dulu hingga sekarang. Perkembangan teknologi yang telah mengubah cara kita berbicara, berdagang dan bertransaksi. Adanya sebuah transformasi yang meliputi seluruh lapisan kehidupan dunia. Buku ini juga mengatakan bahwa masa sekarang adalah era disrupsi terjadi di berbagai bidang. Oleh karena itu manusia zaman sekarang harus memersiapkan diri dalam menghadapi tantangan zaman sekarang.

Umat yang terkasih, penciptaan sebuah mesih uap pada akhir abad ke-18 (pada tahun 1750-1850), menyebabkan terjadinya revolusi industri. Revolusi industri ini menyebabkan perubahan besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, teknologi dan memiliki dampak yang mendalam terhadap segala aspek kehidupan dunia. Saat ini kita sedang menghadapi revolusi industri keempat yang dikenal dengan revolusi industri 4.0. Revolusi ini merupakan era inovasi disruptif, dimana era ini berkembang sangat begitu pesat, sehingga membawa dampak terciptanya pasar baru bahkan lebih dasyatnya lagi era ini mampu mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, menggantikan teknologi yang sudah ada.

Apa itu era disrupsi? Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa disrupsi adalah hal yang tercabut dari akarnya, maka ketika definisi ini dikaitkan dengan perubahan, disrupsi bisa diartikan sebagai perubahan yang mendasar atau fundamental. Perubahan yang terlihat sangat nyata adalah berkembang pesatnya dunia maya dalam segala aspek kehidupan manusia. Hampir bisa dikatakan, setiap manusia yang ada di dunia ini mempunyai jejak digital. Pada era disrupsi ini apakah keluarga, para pendidik, gereja siap menghadapi tantangan zaman ini? Atau menolak segala hal yang berbau digitalisasi? Pada revolusi industri 4.0 ini memiliki slogan ‘’Yang Cepat dapat Memangsa yang Lambat’’ sudah bukan zamannya lagi ‘’Yang Besar Memangsa yang Kecil’’. Ini berarti diperlukan sebuah kecepatan dalam bertindak saat menghadapi tantangan zaman ini. Jika dunia pendidikan tidak memersiapkan naradidiknya maka mereka akan bisa terlempar dari persaingan. Ataupun jika gereja, tidak dengan cepat tanggap menghadapi tantangan zaman, bisa saja gereja akan ditinggalkan kaum muda karena dianggap tidak memberikan dampak dalam kehidupan mereka.

Apa yang bisa kita bekali untuk anak-anak kita dalam menghadapi tantangan zaman sekarang? untuk bisa menyiapkan generasi milenial yang siap menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 harus disiapkan berbagai aspek yang mendukungnya. Aspek Pendidikan memiliki peran yang besar untuk membentuk karakter, budi pekerti, agama, serta pengembangan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Maka dari itu, bisa dibilang tonggak keberhasilan generasi milenial untuk menghadapi revolusi tersebut dimulai dari para pendidik di setiap jenjang. Para pendidik sekiranya harus bisa meninggalkan pola pembelajaran lama diganti dengan pola pembelajaran kekinian yang bisa melahirkan generasi-generasi tangguh untuk menghadapi tantangan tersebut. Karena itu, memang sudah seharusnya para pendidik menjadi insan pembelajar Dimana mereka harus bisa menerima, beradaptasi, dan mengikuti perubahan zaman.

Pada minggu ini kita bersama-sama merayakan dies natalis UKRIDA yang resmi berdiri pada 20 Januari 1967. Arti kata Krida adalah berkarya, sedangkan Wacana berarti Firman (Tuhan). Universitas Kristen Krida Wacana berarti Universitas yang Berkarya bagi Sang Firman (Tuhan). Sebagai bagian dalam pelayanan GKI Sinode Wilayah Jabar, kita sepatutnya bersyukur bahwa GKI ikut terlibat dalam mempersiapkan naradidik di era digital ini. Namun patutlah kita ingat seperti yang tertulis di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari di dalam Amsal 1:7 Untuk memperoleh ilmu sejati, pertama-tama orang harus mempunyai rasa hormat dan takut kepada TUHAN. Orang bodoh tidak menghargai hikmat dan tidak mau diajar.

Sebagai bagian dari pelayanan untuk pendidikan di Indonesia ini, maka pihak-pihak yang terlibat di dalam pelayanan pendidikan di UKRIDA haruslah tetap berpegang kepada Tuhan sebagai titik berangkat pelayanan di bidang pendidikan.

Dalam menghadapi tantangan zaman sekarang maka ada lima hal yang perlu diperhatikan di dalam pelayanan pendidikan di era digital ini:

  1. Kemampuan untuk beradaptasi
  2. Kemampuan untuk berkolaborasi
  3. Kemampuan untuk memecahkan masalah
  4. Kemampuan untuk mempimpin
  5. Kemampuan untuk menciptakan sebuah kreatifitas dan juga inovasi

Kelima hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab gereja dan dunia pendidikan (dalam hal ini UKRIDA) untuk mempersiapkan setiap orang untuk menghadapi tantangan zaman namun dengan tetap beriman kepada Kristus.

Selamat untuk UKRIDA di usia yang ke-53, semoga terus menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menyalurkan berkat Tuhan. Soli Deo Gloria. (DRS)

 

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata - Cibubur
Bogor 16968
Telp : 021 8493 6167
  : 021 8493 0768
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 
Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA  : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea   Siswa)

Selengkapnya

Statistik Pengunjung

Hari iniHari ini92
KemarinKemarin665
Minggu iniMinggu ini3942
Bulan iniBulan ini92
Total PengunjungTotal Pengunjung699047
Pengunjung Online 10