Telah lahir baginya seorang anak

Telah lahir baginya seorang anak
(Aruna Gnanadason)

Maria menaruh ember itu di atas kepalanya, dan ia mulai mendaki tangga darurat itu menuju bagian atas bangunan. ‘Cepatlah, perempuan, kita tidak punya waktu banyak,’ teriak sang kontraktor. Ia adalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang dipekerjakannya. Ia adalah seorang kontraktor bangunan. Maria perlahan-lahan menuangkan ember berisi semen itu, dan untuk sejenak ia berhenti untuk memegang punggungnya yang sakit. Kapankah hari yang panjang ini berakhir, pikirnya; kapankah ia dapat membaringkan diri dan beristirahat? Ia tak dapat berlama-lama merenung, ia kuatir sang kontraktor akan mengusirnya pulang; kontraktor itu tidak begitu suka mempekerjakannya. Tidak ada banyak gunanya mempekerjakan seorang perempuan yang hamil tua, delapan setengah bulan. Maria masih dapat bekerja di sana karena ia mengaku bahwa kehamilannya baru enam bulan. Syukurlah kehamilannya ini tidak terlalu tampak besar. Ia menaruh kembali ember itu di atas kepalanya dan mendaki turun. Ia berusaha keras untuk menguasai rasa pusingnya dan berpegang erat-erat pada tangga agar tidak terjatuh.

Dengan menggenggam erat-erat empat setengah rupee yang diperolehnya dari sang kontraktor, Maria bergegas pulang ke rumah. Baru-baru ini ia mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa para lelaki yang bekerja di tempat bangunan itu menerima lebih banyak daripada para perempuan. Setelah membeli beras, bawang dan cabe, ia berhenti sebentar untuk minum teh di pinggir jalan. Ia menelan teh disertai rasa bersalah, bagaimana pun juga hal seperti ini merupakan suatu kemewahan baginya. Ia kembali merenung, kapan hari ini akan berakhir, ketika ia teringat segala pekerjaan yang masih harus dilakukannya di rumah.

Bahkan dari jarak yang masih jauh ia mendengar teriakan anak lelakinya dan suara amarah suaminya yang berusaha untuk menyuruh sang anak diam. Dengan menekan perasaannya, Maria membuka pintu reyot rumah gubuknya. Ketiga anaknya sedang bertengkar memperebutkan sepotong pisang yang mereka peroleh dari seorang perempuan tua di jalanan. Yusuf, suaminya, tak dapat tahan dengan pertengkaran anak-anak ini sekembalinya dari pekerjaan di pertukangan kayunya. Yusuf memukuli semua anaknya. Sementara anak perempuan Maria lari bersembunyi di salah satu sudut rumah, anak lelaki tertuanya berdiri menghadapi ayahnya, dan anak lelaki satu lagi menjerit-jerit. Sekarang semua memandang Maria untuk mendatangkan damai di rumah. Dengan cepat Maria membagikan masing-masing sepuluh paise logam ke tangan anak-anak, yang segera berhamburan keluar rumah. Kembali Maria bertanya-tanya, kapan hari ini akan berakhir.

Yusuf memberikan Maria lima rupee dari gaji hariannya, yang setelah dihitungnya disimpannya dalam sebuah kotak tabungannya. Mereka menabung untuk membelikan pakaian bagi anak-anak pada saat Natal. Yusuf sendiri membawa 5 rupee lainnya untuk pergi ke pondok judi . . . atau ke warung arak. Maria pun mulai melakukan ritualnya – menimba air, mencuci pakaian, mempersiapkan makanan serba sederhana. Sambil duduk di dalam gubuk yang dipenuhi asap, ia berlinang air mata. Kapan hari ini akan berakhir, pikirnya, kapan ia dapat membaringkan punggungnya yang sakit ini?

Demikianlah hari-hari berjalan terus, hari Natal semakin dekat. Tabungan untuk membeli pakaian tidak pernah sampai ke tokoh pakaian. Mereka terpaksa memberikannya kepada orang yang memiliki tanah di mana gubuk mereka berdiri. Ancaman akan pengusiran setiap hari mengganggu mereka. Perumahan orang-orang berada yang berada di sekeliling pemukiman kumuh ini, telah dihiasi dengan meriah. Ada hiasan berbagai rupa dan lampu-lampu berwarna-warni. Anak-anak terlihat begitu bernafsu pada kue-kue, manisan, mainan, pakaian dan kembang api yang ditawarkan di banyak toko. Yusuf mengerjakan sendiri bintang sederhana dari bambu dan korang bekas dan digantungkannya di muka gubuknya.

Sewaktu Maria mendaki tangga ember itu terasa sangat berat, dan sakit punggungnya semakin menjadi-jadi. Teriakan dari sang kontraktor menyebabkannya terus bertahan. Namun tidak lagi kemudian, ia benar-benar tidak dapat melanjutkannya lagi. Perasaan yang tidak menentu membuatnya buru-buru pulang ke rumah, dan ia tiba di rumah tepat pada waktunya. Dengan pertolongan dari anak perempuannya, Maria melahirkan seorang anak laki-laki. Ibu-ibu dari gubuk di sekitarnya datang menolong sang ibu dan anak agar bisa merasa sedikit nyaman. Anjing liar yang berkeliling di jalanan, datang mengintip ke dalam gubuk dan menyaksikan kegembiraan besar sedang berlangsung. Yusuf dengan bangga menyambut orang-orang yang datang untuk menengok sang bayi yang baru lahir ini. Tiga orang pemimpin dari kawasan kumuh ini datang membawa bingkisan – sebuah selimut tua yang penuh tambalan, setumpuk jerami kering untuk membuat tempat tidur dan segelas susu untuk Maria. Bintang yang telah dipasang oleh Yusuf di pintu gubuknya menyambut semua yang datang. Natal ada di sini; kedamaian, kesukacitaan dan harapan memancar dari kawasan kumuh yang terlantar, yang berada di pojokan kota yang kelebihan penduduknya ini.

Wajah Maria tampak bahagia memandangi bayi mungilnya. Suara dari anak-anak terdengar:

Away in a manger, no crib for a bed
The little Lord Jesus lays down his sweet head.
The stars in the bright sky look down where he lay,
The little Lord Jesus asleep on the hay

Maria memandang lagi anak lelaki kecilnya ini dan air mata bahagia menggenang di matanya; bayi kecil ini merupakan simbol pengharapan baginya. Ia teringat tempat bangunan di mana ia bekerja, upah hariannyayang sangat rendah, kotak tabungannya yang sekarang kosong, ketakutan akan pengusiran, dan masa depan yang tak jelas. Baginya ia mendengar sang bayi berkata: ‘Mengapa ibu, mengapakah engkau dengan rendah dan pasif menerima begitu saja semua penindasan ini? Bangkitlah dan lawan – ibulah sang perempuan dari Magnificat.’  Dan Maria tersenyum, sebab baginya hari ini telah lahir seorang anak. (YSU)

 

 

 

KEBAKTIAN MINGGU

KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN

Yesaya 42:1–9; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 10:34–43; Matius 3:13–17

Kebaktian 11 Januari 2026 oleh Pdt. Debora Rachelina S. Simanjuntak

Kita hidup di dunia yang penuh suara: opini, klaim kebenaran, dan tuntutan pembenaran diri. Namun tidak semua “kebenaran” membebaskan. Banyak yang justru menekan, menghakimi, dan melukai. Firman Tuhan hari ini mengajak kita kembali pada kebenaran yang sejati—kebenaran yang membebaskan karena berasal dari Allah sendiri.

Dalam Yesaya 42:1–9, Allah memperkenalkan Hamba-Nya yang dipilih-Nya. Ia tidak berteriak atau mematahkan buluh yang terkulai; Ia datang dengan kelembutan, tetapi membawa keadilan yang teguh. Kebenaran Allah tidak dipaksakan dengan kekerasan, melainkan dihadirkan dengan kasih yang memulihkan. Di sini kita belajar bahwa kebenaran yang membebaskan bukanlah kebenaran yang mempermalukan, melainkan yang mengangkat dan memberi harapan.

Mazmur 29 menegaskan bahwa suara Tuhan penuh kuasa dan kemuliaan. Suara-Nya mengguncang alam, namun berakhir dengan damai sejahtera bagi umat-Nya. Kebenaran Allah bukan sekadar konsep; ia adalah firman hidup yang berkuasa membongkar kepalsuan dan sekaligus memberi ketenangan. Ketika suara Tuhan didengar, kekacauan di dalam diri menemukan arah dan keteguhan.

Dalam Kisah Para Rasul 10:34–43, Petrus menyaksikan bahwa Allah tidak memandang muka. Kebenaran Injil membebaskan manusia dari tembok-tembok pemisah: suku, status, dan latar belakang. Yesus Kristus adalah Tuhan atas semua, dan melalui Dia pengampunan dosa diberitakan. Kebenaran yang membebaskan ini meluaskan ruang hidup—membuka pintu bagi siapa pun yang percaya, tanpa syarat-syarat buatan manusia.

Puncaknya terlihat dalam Matius 3:13–17, ketika Yesus dibaptis. Di sana kebenaran Allah dinyatakan secara utuh: Anak yang taat, Roh yang turun, dan suara Bapa yang berkenan. Kebenaran bukan hanya diajarkan, tetapi dihidupi. Yesus merendahkan diri-Nya, masuk ke dalam air bersama manusia berdosa, agar kita diangkat menjadi anak-anak yang dikasihi. Inilah kebenaran yang membebaskan—kebenaran yang rela turun untuk mengangkat.

Refleksi dan Aplikasi

  1. Apakah cara kita menyampaikan “kebenaran” sudah mencerminkan kelembutan Hamba Tuhan, atau justru melukai?

  2. Apakah kita sungguh mendengar suara Tuhan di tengah riuh suara lain yang membentuk keputusan hidup kita?

  3. Apakah kita masih membangun tembok-tembok eksklusif, padahal Injil membebaskan dan merangkul semua?

  4. Apakah kita bersedia hidup dalam ketaatan seperti Kristus, percaya bahwa di sanalah perkenanan Allah nyata?

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1046599
Users Today : 142
Users Yesterday : 1905
This Month : 17857
This Year : 17857
Total Users : 1046599
Who's Online : 15