Berbuat Baiklah Senantiasa

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik..” (Galatia 6:9a) Kita telah memasuki bulan Juli. Dengan penuh syukur, kita telah melalui Bulan Misi GKI Kota Wisata. Kita bersyukur karena Tuhan telah menggerakkan hati umat-Nya untuk berdoa, peduli, dan memberi dengan sukacita. Melalui kebersamaan itu, dana untuk pembangunan gereja di Sagulubbeg dapat terkumpul lebih dari cukup, dan seluruhnya akan […]

Tetap Beriman di Tengah Realitas Hidup

Realitas hidup yang mudah berubah kerap memengaruhi kita. Kita jadi ikut mudah berubah dalam mengambil keputusan, bersikap, bahkan dalam beriman. Kehidupan beriman juga memiliki dinamikanya tersendiri, kadang stabil, tetapi tak jarang naik turun. Tidak semua realitas hidup berlangsung sebagaimana yang kita harapkan, meskipun kita merasa sudah beriman. Abraham yang kisahnya sudah kita kenal bersama pun, […]

Rekan Sekerja Allah

Dalam dunia pelayanan, sering kali seseorang tanpa sadar mulai mengukur dirinya berdasarkan posisi, kemampuan, pengalaman, atau kontribusi yang telah ia berikan. Ketika pelayanan berkembang, program berjalan baik, dan banyak hal dapat diselesaikan seringkali membuat muncul godaan halus, yang perlahan masuk ke dalam hati, merasa bahwa pelayanan tidak akan berjalan tanpa kehadiran kita. Padahal Alkitab mengingatkan […]

Lebih Berbahagia Memberi daripada Menerima

Natur dasar manusia yang telah jatuh dalam dosa digerakkan oleh insting pertahanan diri dan akumulasi. Sejak masa kanak-kanak, konsep kepemilikan (“ini milikku”) adalah salah satu kognisi pertama yang terbentuk. Dunia beroperasi pada prinsip kelangkaan (scarcity principle): jika saya memberikan apa yang saya miliki, maka porsi saya akan berkurang. Kekayaan diukur dari seberapa banyak yang berhasil […]

Lelah yang Bernilai Kekal

Sebagai seorang perempuan pekerja, ibu dari dua anak yang kini mulai beranjak remaja, pengelola rumah tangga, sekaligus pelayan Tuhan di gereja, ada kalanya saya duduk termenung di tepi ranjang saat malam larut. Pekerjaan kantor yang menuntut tanggung jawab, waktu, konsentrasi, analisis, dan ketelitian tinggi sering kali sangat menguras pikiran, ditambah lagi rutinitas menembus kemacetan panjang […]

Gereja itu Rumah Kita…, Masihkah?

“Gereja itu rumah kita.” jawab mama Sha ketika putri tercintanya bertanya “Ma, kenapa sih kita mesti ke gereja?” Percakapan tersebut merupakan salah satu penggalan dialog Drama Musikal bertajuk “Level 15: Home for All, Serving as One” sebagai representasi perayaan ulang tahun GKI Kota Wisata ke-15 pada tanggal 16 Mei 2026 lalu. Jika bapak/ibu/saudara ditanya hal […]

Kaya ‘Noise’, Miskin ‘Voice’

Ada pemandangan yang diam-diam menjadi gaya utama manusia modern. Seseorang duduk bersama keluarga atau teman-temannya, tetapi matanya terus tertuju ke layar. Percakapan terjadi, tetapi tidak ada yang benar-benar hadir. Kepala penuh respons, hati miskin keterhubungan batin. Anehnya, setelah seharian “terhubung”, malamnya mereka tetap merasa sendiri. Kita hidup di zaman paling bising dalam sejarah manusia. Bukan […]

Menjaga Hati

“ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan .” (Amsal 4:23). Penulis Amsal menulis bahwa hati adalah sumber kehidupan. Apapun yang ada dalam hati kita akan terlihat jelas dari cara, gaya dan sikap hidup kita. Kita bisa mengetahui suasana hati seseorang dari apa yang keluar dari mulutnya. Bahkan dari raut mukanya pun […]

Kristen Part-Timer

Menarik membaca kembali tulisan Pdt. Eka Darmaputera yang berjudul “Kristen Part-Timer” dalam buku “Hidup yang Bermakna: Khotbah-Khotbah tentang Kehidupan Kristen” (BPK Gunung Mulia, 2014). Dalam tulisan tersebut, menurut Pdt. Eka, banyak orang ingin mengikut Yesus, memiliki tekad, semangat, kerelaan berkorban, dan sebagainya. Namun, sedikit yang bersedia meletakkan semua segi kehidupannya dalam kerangka ketaatan kepada Tuhan. […]

Memberi Talenta bagi Kemuliaan Tuhan

Tepat pada tanggal 27 April yang lalu, PSB (Paduan Suara Bapak) Simfoni merayakan ulang tahun yang ke-2. Walaupun saya baru 1 tahun menjadi anggota Paduan Suara tersebut, namun saya merasa bersyukur dapat mengambil bagian pelayanan dalam PSB. Di tengah kesibukan pekerjaan, rumah tangga, dan aktivitas pelayanan yang lain, saya berterimakasih kepada Tuhan karena mengingatkan saya […]

Renungan Sepekan

Bukan Ketundukan Brutal

Kejadian 22:1–19

Ada dua jenis ketaatan. Yang pertama adalah ketaatan karena paksaan. Orang taat karena takut dihukum, takut kehilangan jabatan, takut dimarahi, atau takut dikucilkan. Ketaatan seperti ini lahir dari kekuasaan yang menekan. Yang kedua adalah ketaatan yang lahir dari relasi, kasih, dan kepercayaan. Ketaatan seperti inilah yang Allah kehendaki.

Kisah Abraham yang diperintahkan mempersembahkan Ishak sering kali menjadi salah satu bagian Alkitab yang paling sulit dipahami. Sekilas, Allah tampak seperti penguasa yang menuntut ketaatan mutlak tanpa mempedulikan penderitaan manusia. Perintah itu bahkan bertentangan dengan janji Allah sendiri, sebab melalui Ishak keturunan Abraham akan dilanjutkan (Kej. 21:12). Mengapa Allah meminta sesuatu yang tampaknya begitu kejam?

Di sinilah kita perlu membaca kisah ini secara utuh.

Perhatikan bahwa Allah tidak pernah menginginkan kematian Ishak. Pada saat Abraham mengangkat pisau, Allah segera menghentikannya (Kej. 22:12). Bahkan Allah telah menyediakan domba jantan sebagai pengganti. Artinya, sejak awal tujuan Allah bukanlah mengorbankan seorang anak, melainkan menguji hati Abraham. Allah membedakan diri-Nya dari dewa-dewa bangsa sekitar yang benar-benar menuntut korban manusia. Justru melalui kisah ini Allah menunjukkan bahwa Ia menolak praktik tersebut.

Yang diuji bukan sekadar apakah Abraham mampu menaati perintah, tetapi apakah ia sungguh mempercayai Allah ketika jalan Allah tidak lagi dapat dipahami. Penulis Ibrani bahkan mengatakan bahwa Abraham percaya Allah sanggup membangkitkan Ishak dari kematian (Ibr. 11:17–19). Jadi ketaatan Abraham bukanlah ketundukan buta, melainkan iman yang tetap memegang karakter Allah meskipun situasi tampak bertentangan dengan janji-Nya.

Inilah perbedaan antara ketundukan brutal dan iman yang sejati.

Ketundukan brutal lahir ketika seseorang dipaksa menaati otoritas yang sewenang-wenang. Tidak ada ruang untuk bertanya, bergumul, atau mempercayai kasih. Sebaliknya, iman kepada Allah selalu dibangun di atas relasi. Abraham telah mengalami perjalanan panjang bersama Allah: dipanggil keluar dari Ur, dipelihara dalam berbagai kesulitan, menerima janji yang mustahil, dan akhirnya memperoleh Ishak sebagai anugerah. Karena mengenal Allah itulah Abraham dapat mempercayakan dirinya, bahkan ketika ia tidak memahami perintah-Nya.

Menariknya, di sepanjang perjalanan menuju Gunung Moria, Abraham tidak menunjukkan sikap pasrah tanpa harapan. Kepada para bujangnya ia berkata, “Kami akan pergi ke sana, kami akan sembahyang, sesudah itu kami akan kembali kepadamu” (Kej. 22:5). Kepada Ishak ia berkata, “Allah yang akan menyediakan anak domba” (Kej. 22:8). Ucapan-ucapan ini memperlihatkan keyakinan bahwa Allah akan bertindak sesuai dengan kasih dan janji-Nya.

Pada akhirnya, yang dikorbankan bukanlah Ishak, melainkan rasa aman Abraham yang selama ini mungkin melekat pada anugerah Allah, bukan kepada Allah sendiri. Abraham belajar bahwa pemberi anugerah lebih penting daripada anugerah itu sendiri.

Kisah ini mencapai puncak maknanya di dalam Yesus Kristus. Di Gunung Moria, Allah tidak mengizinkan Abraham mengorbankan anaknya. Namun berabad-abad kemudian, di wilayah yang sama, Allah sendiri memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi keselamatan dunia. Allah tidak meminta sesuatu yang Ia sendiri tidak rela lakukan. Bedanya, ketika Abraham dihentikan, tidak ada malaikat yang menghentikan penyaliban Yesus. Kristus benar-benar menjadi Anak Domba yang disediakan Allah bagi manusia.

Karena itu, iman Kristen bukanlah iman kepada Allah yang menuntut ketundukan brutal. Kita percaya kepada Allah yang terlebih dahulu mengasihi, berkorban, dan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Ketaatan kita bukan lahir dari ketakutan kepada tiran, tetapi dari kepercayaan kepada Bapa yang telah membuktikan kasih-Nya di kayu salib.

Refleksi

Apakah selama ini saya menaati Tuhan karena takut dihukum, atau karena saya mengenal dan mempercayai kasih-Nya?

Ketika jalan Tuhan tidak saya pahami, apakah saya tetap berpegang pada karakter-Nya yang setia, atau saya mulai meragukan kebaikan-Nya?

Semoga kita belajar dari Abraham bahwa iman sejati bukanlah ketundukan yang membabi buta, melainkan keberanian untuk mempercayai Allah yang selalu setia, bahkan ketika kita belum mengerti apa yang sedang Ia kerjakan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1341168
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1341068
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :