Tetap Beriman di Tengah Realitas Hidup

Realitas hidup yang mudah berubah kerap memengaruhi kita. Kita jadi ikut mudah berubah dalam mengambil keputusan, bersikap, bahkan dalam beriman. Kehidupan beriman juga memiliki dinamikanya tersendiri, kadang stabil, tetapi tak jarang naik turun. Tidak semua realitas hidup berlangsung sebagaimana yang kita harapkan, meskipun kita merasa sudah beriman.

Abraham yang kisahnya sudah kita kenal bersama pun, dalam relasi dengan Allah mengalami realitas hidup yang tidak mudah (Kej. 22:1-14). Imannya kepada Allah harus menghadapi tantangan yang sedemikian sulit. Mendapatkan apa yang telah Allah janjikan setelah penantian panjang, tentu sangat menyenangkan. Ishak begitu dikasihi Abraham bukan hanya karena ia telah dinanti begitu lama, tetapi juga karena ia adalah anak perjanjian dari Allah. Ishak adalah pemberian Allah yang istimewa. Namun, ketika Allah memintanya kembali, bukankah itu membingungkan atau bahkan mengecewakan?

Beriman bukan jaminan bahwa hidup kita terbebas dari tantangan hidup, terhindar dari rasa kecewa, dan hidup akan selalu baik-baik saja. Jika kita mengingat kembali Ibrani 11:1 bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat, maka kita akan menemukan dasar berpijak dalam menghadapi realitas hidup yang tidak pasti. Pengharapan Abraham untuk memperoleh janji Allah sudah dimulai ketika ia berkomitmen untuk taat kepada Allah jauh sebelum ia menerima Ishak. Dalam penantian yang panjang, Abraham berupaya untuk selalu percaya kepada setiap perkataan Allah. Secara berulang Abraham menjawab “Ya Tuhan” untuk setiap panggilan Tuhan, (Kej. 22:11-13).

Imannya kepada Allah telah menerangi pikirannya untuk berselaras dengan kehendak Allah, meskipun belum ada kepastian setelahnya. Hingga pada akhirnya, Abraham menerima sebuah kepastian yang bahkan dapat ia sentuh dengan tangannya sendiri, yaitu: Ishak.

Tantangan hidup Abraham masih belum berakhir sampai di sana. Allah memintanya untuk mempersembahkan Ishak sebagai kurban bakaran. Sekali lagi Abraham bergumul untuk menaati perintah Allah, yang tidak mudah. Namun, sekali lagi juga Abraham menundukkan diri, takluk, dan patuh menuruti perintah Allah. Ia berpijak pada pengharapan yang ia sendiri belum tahu kepastiannya, tetapi tetap ia lakukan. Ketundukan yang lahir dari kasihnya kepada Allah dengan segenap akal budi.

Realitas hidup yang sulit terkadang mengaburkan pandangan kita dari masa depan. Kenyataan hidup yang tidak sesuai harapan pun menghadirkan kekecewaan yang tidak terelakkan. Semua realitas hidup akan berubah sesuai musimnya. Sebagai umat Allah, kisah keteguhan Abraham dalam menjaga relasi dengan Allah masih sangat relevan untuk kita hidupi saat ini. Berpijak pada pengharapan kepada Allah, meski segala sesuatu terlihat buram di depan, masih menjadi pilihan terbaik yang dapat kita wujudkan. Sakit penyakit, kesulitan ekonomi, pasangan hidup hidup yang belum kunjung dijumpai, dan ancaman atau tantangan zaman yang tidak menentu adalah contoh beberapa faktor eksternal yang bisa saja menjadi tantangan hidup bagi setiap kita umat Allah. Ketika hal itu harus kita hadapi, ingatlah bahwa Allah yang menerangi akal budi Abraham juga akan terus menerangi kita sebagai umat-Nya. Begitu juga, Allah yang menyediakan anak domba sebagai ganti Ishak bagi Abraham, masih akan terus menyediakan penyertaannya dalam Yesus dan Roh Kudus bagi setiap kita. Tetaplah berpijak pada pengharapan yang belum terlihat itu, yakni iman di dalam Kristus Yesus, Allah kita yang hidup. Allah senantiasa meneguhkan setiap kita. Amin. (YNI)

Renungan Sepekan

Keteguhan Iman dalam Pergumulan

Bacaan: Kejadian 32:22-31

Kalau ditanya, “Siapa yang mau menjadi Spider-Man?”, mungkin banyak orang akan mengangkat tangan. Menjadi pahlawan yang memiliki kekuatan super, menyelamatkan banyak orang, dan dikagumi tentu terdengar menyenangkan.

Namun pertanyaannya berubah ketika ditanya, “Siapa yang mau menjadi Peter Parker?”

Tidak banyak yang bersedia.

Sebab menjadi Peter Parker berarti menjalani hidup yang tidak mudah. Ia kehilangan orang-orang yang dikasihinya, harus merahasiakan identitasnya, rela mengorbankan kebahagiaannya demi orang lain, bahkan sering kali harus menjalani kesepian. Banyak orang menginginkan kemuliaan Spider-Man, tetapi sedikit yang bersedia menjalani pergumulan Peter Parker. Justru pergumulan itulah yang membentuknya menjadi pahlawan yang sejati.

Bukankah sering kali kita juga demikian? Kita ingin menjadi orang yang diberkati Tuhan, dipakai-Nya, dan menikmati kemenangan. Namun kita berharap semuanya terjadi tanpa air mata, tanpa penantian, dan tanpa pergumulan.

Yakub juga menginginkan berkat Tuhan. Namun sebelum menerima berkat itu, ia harus melewati satu malam yang panjang di tepi sungai Yabok. Menariknya, dalam bahasa Ibrani terdapat permainan bunyi antara Yakub (Ya’aqov), Yabok (Yabboq), dan kata bergulat (‘abaq). Seolah-olah penulis Kejadian ingin mengajak kita melihat bahwa perjalanan Yakub menuju Yabok bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perjalanan menuju pergumulan yang mengubah hidupnya.

Yakub masuk ke Yabok sebagai seorang yang penuh ketakutan dan masih mengandalkan kemampuannya sendiri. Namun setelah bergumul dengan Allah, ia keluar sebagai Israel, manusia yang telah diubahkan. Memang ia berjalan dengan kaki yang pincang, tetapi ia juga membawa identitas yang baru. Allah tidak hanya mengubah situasi yang akan dihadapinya bersama Esau, tetapi terlebih dahulu mengubah hati dan hidup Yakub.

Sering kali kita berdoa agar Tuhan segera mengangkat pergumulan kita. Padahal mungkin Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang lebih penting, yaitu membentuk kita melalui pergumulan itu. Allah tidak selalu mengubah keadaan secepat yang kita harapkan, tetapi Ia tidak pernah berhenti mengerjakan perubahan dalam diri kita.

Hari ini, mungkin kita sedang berada di “Yabok” kita masing-masing. Ada pergumulan dalam keluarga, pekerjaan, kesehatan, pelayanan, atau masa depan. Jangan buru-buru menganggap Tuhan sedang meninggalkan kita. Bisa jadi, justru di tempat pergumulan itulah Tuhan sedang membentuk iman kita menjadi lebih dewasa.

Keteguhan iman bukan berarti hidup tanpa pergumulan. Keteguhan iman adalah keberanian untuk tetap berpegang kepada Tuhan di tengah pergumulan, sambil percaya bahwa Ia sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih serupa dengan kehendak-Nya.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1401638
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1401538
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :