Kristen Part-Timer
Menarik membaca kembali tulisan Pdt. Eka Darmaputera yang berjudul “Kristen Part-Timer” dalam buku “Hidup yang Bermakna: Khotbah-Khotbah tentang Kehidupan Kristen” (BPK Gunung Mulia, 2014). Dalam tulisan tersebut, menurut Pdt. Eka, banyak orang ingin mengikut Yesus, memiliki tekad, semangat, kerelaan berkorban, dan sebagainya. Namun, sedikit yang bersedia meletakkan semua segi kehidupannya dalam kerangka ketaatan kepada Tuhan. Selalu ada hal lain yang menjadi pertimbangan dan alasan.
Dalam bacaan Injil Lukas 9:57-62 yang menjadi dasar tulisan ini, sebutan “Kristen Part-Timer” digunakan oleh Pdt. Eka untuk orang kedua dan ketiga. Kepada orang kedua Tuhan Yesus berkata “Ikutlah Aku!”, tetapi orang itu menjawab “Izinkanlah aku pergi dulu menguburkan bapakku”. Permintaan tersebut sesungguhnya merupakan permintaan yang wajar. Musa sendiri menekankan tanggung jawab seorang anak terhadap orang tuanya dan Yesus sendiri mengatakan, bahwa Ia datang bukan untuk merombak hukum Taurat. Orang ini ingin mengikut Yesus sambil memenuhi tanggung jawabnya terhadap keluarga. Namun Tuhan Yesus menjawab “Biarlah orang mati menguburkan orang mati, tetapi engkau pergilah dan beritakanlah kerajaan Allah di mana-mana”. Adakah Yesus mengatakan bahwa orang tidak perlu bertanggung jawab atas orang tuanya? Apakah mengikut Yesus berarti kita harus mengasingkan diri dari keluarga?
Menurut Pdt. Eka, Yesus tidak bermaksud demikian. Apa yang hendak Yesus katakan adalah bahwa tanggung jawab kekeluargaan yang utuh itu justru terjadi ketika orang mengikut Yesus secara penuh. Apa yang Yesus katakan ialah bahwa tidak mungkin membagi ketaatan kepada Tuhan 50% dan ketaatan kepada keluarga 50%, atau ketaatan kepada Tuhan 90% dan ketaatan kepada keluarga 10%. Ketaatan terhadap Tuhan harus 100%. Karena dengan begini orang dapat melaksanakan tanggung jawab kemanusiaan dan kekeluargaannya 100% pula.
Dengan berkata “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana”, Yesus sesungguhnya hendak mengulangi apa yang pernah Ia katakan: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka sekaliannya akan ditambahkan kepadamu.” Tanggung jawab kemanusiaan tidak hilang. Bahkan Yesus datang untuk mengokohkannya. Hanya tanggung jawab itu harus dilaksanakan di dalam kerangka tanggung jawab manusia kepada Allah. Barulah di sini kita dapat menemukan tanggung jawab kemanusiaan yang sejati dan sesungguhnya.
Hal yang hampir sama terjadi pada orang ketiga. “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dulu dengan keluargaku.”Yesus juga menolak alasan orang ini dan berkata “Setiap orang yang siap untuk membajak, tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Ada tekad untuk menatap ke depan dengan mengikut Yesus. Akan tetapi selalu ada alasan walaupun kecil untuk menoleh ke belakang terlebih dahulu. Pdt. Eka menggolongkan orang tersebut sebagai “Kristen Part-Timer” yang membajak sambil menoleh ke belakang.
Mengikut Yesus memang bukanlah perkara mudah. Ketika orang pertama menyatakan keinginannya untuk mengikut Yesus, Yesus menyambutnya dengan berkata kepadanya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Walaupun berat kita diminta untuk tetap meletakkan semua segi kehidupan kita dalam kerangka ketaatan sepenuhnya kepada Tuhan.
Pdt. Eka mengingatkan bahwa anugerah Allah tidaklah murah. Ia berharga nyawa seorang Putra Allah. Jalannya adalah Via Dolorosa, jalan yang penuh penderitaan, jalan menuju Salib. Jika untuk kita saja, Yesus mau memberikan seluruh diri-Nya 100%, Ia juga menghendaki kita 100% mengikut-Nya, sebagai bukti kepercayaan kita. seluruhnya atau tidak sama sekali. (ITS)





Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1221815
Who's Online :