Lelah yang Bernilai Kekal
Sebagai seorang perempuan pekerja, ibu dari dua anak yang kini mulai beranjak remaja, pengelola rumah tangga, sekaligus pelayan Tuhan di gereja, ada kalanya saya duduk termenung di tepi ranjang saat malam larut. Pekerjaan kantor yang menuntut tanggung jawab, waktu, konsentrasi, analisis, dan ketelitian tinggi sering kali sangat menguras pikiran, ditambah lagi rutinitas menembus kemacetan panjang sejauh puluhan kilometer setiap harinya membuat hari-hari terasa semakin berat.
Saat tiba di rumah, deretan tanggung jawab menanti, tugas untuk mendampingi urusan sekolah anak-anak, memastikan kondisi rumah berjalan baik, dan, di sela-sela itu, masih ada pekerjaan rumah mempersiapkan bahan ajar, menghadiri berbagai persiapan, dan mengorganisasi berbagai pelayanan gereja yang dimandatkan bagi seorang pelayan. Seringkali rasa lelah fisik dan mental atau anak gen z menyebutnya burnout datang menyergap. Dalam keheningan, terkadang ada perasaan yang mengatakan: “Ah betapa banyak tanggung jawab ini ya Tuhan, untuk apa saya melakukan semua ini atau mengapa saya harus memikul tanggung jawab sebanyak ini sampai kehabisan napas?”
Pada titik nadir itulah, ayat Alkitab Kolose 3:23 seolah hadir menyapa saya, bukan sebagai tuntutan, melainkan sebuah pelukan,”Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ayat ini meneduhkan dan mengajak kita untuk menata ulang alasan utama dari segala kesibukan yang kita lakukan.
Membesarkan anak-anak dengan penuh kesabaran, menyelesaikan setumpuk pekerjaan dengan integritas, hingga kesempatan melayani dengan berbagai aktivitas, semuanya bukanlah sekadar daftar kewajiban hidup. Semua itu adalah altar ibadah kita kepada Allah. Saat kita menggeser fokus dari “beban yang menguras tenaga” menjadi “persembahan cinta untuk Tuhan”, lelah itu tidak hilang, tetapi maknanya berubah. Seperti janji Tuhan dalam Yesaya 40:31: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya…”
Ketika hati kita dipenuhi kembali oleh anugerah-Nya, kita akan menyadari bahwa panggilan melayani Tuhan tidak berhenti di meja kerja atau ruang makan keluarga kita. Mandat Kristus untuk menjadi saksi-Nya menembus batas-batas kenyamanan kita, bergerak dari dalam hati kita, ke seluruh rumah kita hingga “ke ujung bumi”.
Pada bulan Juni ini, panggilan itu menggema secara khusus dalam Bulan Misi 2026. Saya sangat menunggu-nunggu bulan misi, bulan saat kasih kita dinyatakan bagi sesama. Peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus dan Pentakosta yang telah kita rayakan mengingatkan kita bahwa kita diutus sesuai Kisah Para Rasul 1:8 untuk tidak sekadar berdiam di zona nyaman. Ujung bumi bagi kita, saat ini, adalah sebuah kampung kecil bernama Sagulubbeg, Kecamatan Siberut Bara Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat.
“Dari Kita untuk Mentawai”, di sini kita diajak mendukung pelayanan dan pembangunan gereja bagi saudara-saudara seiman yang merindukan kasih Kristus di sana. Lagu Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) 264 mengingatkan kita: “Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada rela sujud dan sungkur? … Ibadah sejati, jadikanlah persembahan.”
Di tengah ritme hidup yang menyita begitu banyak tenaga, mari kita jadikan hidup kita sebagai sebuah persembahan yang hidup. Kita dapat berpartisipasi dalam Bulan Misi ini melalui doa, daya, dan dana menjadi perpanjangan tangan Tuhan dari keluarga kita, gereja kita, hingga ke Mentawai. Kita memahami ketika melakukan misi di sini atau di sana, kita melakukan semuanya dengan segenap hati, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Percayalah, lelah kita tidak akan pernah sia-sia jika diletakkan di dalam tangan-Nya. Tuhan memampukan dan memberkati setiap peran kita. Amin. TWB







Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1356626
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :