Menjadi Garam dan Terang

“Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia… … Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat. 5:13-16) Firman Tuhan ini mengingatkan kita sebagai anak-anak Allah yang telah ditebus dan menerima status baru melalui Yesus Kristus, untuk tetap hidup berdampak bagi orang – […]

Melayani dengan Kesungguhan Hati

Melayani Tuhan adalah sebuah panggilan, namun menjadi berbahaya jika tidak dijalani dengan hati yang benar. Berbahaya bukan karena pelayanannya itu sendiri, melainkan karena kecenderungan manusia di dalamnya. Salah satu godaan terbesar dalam pelayanan adalah ketika tanpa sadar kita mulai mencuri kemuliaan Tuhan. Kita melayani, bekerja, berkorban, bahkan berprestasi dalam pelayanan, namun di kedalaman hati, kita […]

Belajar Seimbang di Jalan yang Tidak Rata

Ada satu tahap dalam hidup ketika kita menyadari bahwa iman bukan tentang memilih sisi yang paling kelihatan benar, melainkan tentang belajar berdiri tegak di tengah tarikan yang saling berlawanan. Mengasihi dengan segenap hati, namun tidak membiarkan ketidakadilan berlalu. Rendah hati, tetapi tidak kehilangan martabat. Percaya diri, tanpa meninggikan diri. Proaktif, tanpa terjebak menjadi penyelamat semesta. […]

Penyertaan Tuhan Sempurna

“… Aku sekali-kali tidak akan mengabaikan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b). Sangat bersyukur, tidak terasa sudah 2 minggu lebih kita memasuki tahun 2026. Banyak hal yang sudah kita lewati di tahun 2025, suka maupun duka. Satu hal yang pasti, PENYERTAAN TUHAN SEMPURNA. Tahun 2026 masih panjang, kita harus ingat bahwa […]

Kebenaran yang Membebaskan di Tengah Bencana

Bulan November – Desember tahun 2025 lalu beberapa daerah di Sumatera, terutama Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, mengalami banjir bandang parah yang menyebabkan korban jiwa dan luka. Banjir juga mengakibatkan kerusakan parah pada rumah, tempat ibadah, sekolah, kantor, jalan, jembatan dan fasilitas umum lainnya. Banyak orang kehilangan sanak saudara dan harta benda dalam sekejap […]

Melangkah bersama Tuhan Yesus

Berbicara tentang masa depan mengingatkan kita tentang lagu Que serra serra, whatever will be will be. Sesuatunya tidak ada yang pasti. Di muka bumi ini semuanya bisa berubah. Saat kita kecil pikiran kita hanya ada di sekeliling kita. Sekolah membantu orang tua, meningkat remaja pemikiran kita menjadi lebih berkembang lalu menjadi dewasa yang membuat tantangan […]

Sangat Dimanja oleh Tuhan

Suasana Natal tahun ini mengingatkan saya akan hadiah Natal 25 Desember 2024 yang diberikan Tuhan untuk saya. Hadiah Natal yang tidak pernah saya bayangkan tersebut saya terima pada saat saya dan rekan-rekan Panitia Natal sedang mempersiapkan ruangan yang akan dipergunakan untuk merayakan Natal 25 Desember 2024, bentuk hadiah Natal yang disampaikan merupakan ‘PERTANYAAN’ apakah saya […]

Belajar Melihat Tangan Tuhan di Tengah Badai

Beberapa waktu terakhir ini, Indonesia kembali dilanda berita-berita yang membuat banyak orang gelisah: bencana alam muncul di berbagai daerah memakan korban jiwa dan harta benda, harga kebutuhan pokok melonjak, dan tidak sedikit keluarga yang bergumul dengan masalah kesehatan maupun pekerjaan. Dalam situasi seperti ini, iman kita mudah sekali melemah. Kita lebih cepat mendengar berita buruk […]

Identitas Yesus

Injil Yohanes sering juga disebut sebagai Injil tentang identitas Yesus. Menurut tradisi gereja, Injil Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes, yang disebut sebagai murid yang dikasihi, yaitu rasul Yohanes, anak Zebedeus. Yohanes inilah yang menurut Bapa Gereja Irenaeus (akhir abad ke-2 M) adalah “murid yang bersandar di dada Yesus” dan menulis Injil ini ketika ia tinggal […]

God is Our Save Place

Perjalanan hidup setiap orang pastilah pernah mengalami goncangan badai kehidupan: di saat diperhadapkan dengan suatu keputusan yang terasa berat, ketika masalah datang bertubi-tubi, ketika hati diliputi kekhawatiran, atau ketika kita merasa sendirian meskipun dikelilingi oleh banyak orang. Dunia ini dapat memberikan berbagai pilihan pelarian, di antaranya: hiburan, makanan, pekerjaan, pencapaian, atau bahkan orang lain. Namun, […]

Renungan Sepekan

Bukan Ketundukan Brutal

Kejadian 22:1–19

Ada dua jenis ketaatan. Yang pertama adalah ketaatan karena paksaan. Orang taat karena takut dihukum, takut kehilangan jabatan, takut dimarahi, atau takut dikucilkan. Ketaatan seperti ini lahir dari kekuasaan yang menekan. Yang kedua adalah ketaatan yang lahir dari relasi, kasih, dan kepercayaan. Ketaatan seperti inilah yang Allah kehendaki.

Kisah Abraham yang diperintahkan mempersembahkan Ishak sering kali menjadi salah satu bagian Alkitab yang paling sulit dipahami. Sekilas, Allah tampak seperti penguasa yang menuntut ketaatan mutlak tanpa mempedulikan penderitaan manusia. Perintah itu bahkan bertentangan dengan janji Allah sendiri, sebab melalui Ishak keturunan Abraham akan dilanjutkan (Kej. 21:12). Mengapa Allah meminta sesuatu yang tampaknya begitu kejam?

Di sinilah kita perlu membaca kisah ini secara utuh.

Perhatikan bahwa Allah tidak pernah menginginkan kematian Ishak. Pada saat Abraham mengangkat pisau, Allah segera menghentikannya (Kej. 22:12). Bahkan Allah telah menyediakan domba jantan sebagai pengganti. Artinya, sejak awal tujuan Allah bukanlah mengorbankan seorang anak, melainkan menguji hati Abraham. Allah membedakan diri-Nya dari dewa-dewa bangsa sekitar yang benar-benar menuntut korban manusia. Justru melalui kisah ini Allah menunjukkan bahwa Ia menolak praktik tersebut.

Yang diuji bukan sekadar apakah Abraham mampu menaati perintah, tetapi apakah ia sungguh mempercayai Allah ketika jalan Allah tidak lagi dapat dipahami. Penulis Ibrani bahkan mengatakan bahwa Abraham percaya Allah sanggup membangkitkan Ishak dari kematian (Ibr. 11:17–19). Jadi ketaatan Abraham bukanlah ketundukan buta, melainkan iman yang tetap memegang karakter Allah meskipun situasi tampak bertentangan dengan janji-Nya.

Inilah perbedaan antara ketundukan brutal dan iman yang sejati.

Ketundukan brutal lahir ketika seseorang dipaksa menaati otoritas yang sewenang-wenang. Tidak ada ruang untuk bertanya, bergumul, atau mempercayai kasih. Sebaliknya, iman kepada Allah selalu dibangun di atas relasi. Abraham telah mengalami perjalanan panjang bersama Allah: dipanggil keluar dari Ur, dipelihara dalam berbagai kesulitan, menerima janji yang mustahil, dan akhirnya memperoleh Ishak sebagai anugerah. Karena mengenal Allah itulah Abraham dapat mempercayakan dirinya, bahkan ketika ia tidak memahami perintah-Nya.

Menariknya, di sepanjang perjalanan menuju Gunung Moria, Abraham tidak menunjukkan sikap pasrah tanpa harapan. Kepada para bujangnya ia berkata, “Kami akan pergi ke sana, kami akan sembahyang, sesudah itu kami akan kembali kepadamu” (Kej. 22:5). Kepada Ishak ia berkata, “Allah yang akan menyediakan anak domba” (Kej. 22:8). Ucapan-ucapan ini memperlihatkan keyakinan bahwa Allah akan bertindak sesuai dengan kasih dan janji-Nya.

Pada akhirnya, yang dikorbankan bukanlah Ishak, melainkan rasa aman Abraham yang selama ini mungkin melekat pada anugerah Allah, bukan kepada Allah sendiri. Abraham belajar bahwa pemberi anugerah lebih penting daripada anugerah itu sendiri.

Kisah ini mencapai puncak maknanya di dalam Yesus Kristus. Di Gunung Moria, Allah tidak mengizinkan Abraham mengorbankan anaknya. Namun berabad-abad kemudian, di wilayah yang sama, Allah sendiri memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi keselamatan dunia. Allah tidak meminta sesuatu yang Ia sendiri tidak rela lakukan. Bedanya, ketika Abraham dihentikan, tidak ada malaikat yang menghentikan penyaliban Yesus. Kristus benar-benar menjadi Anak Domba yang disediakan Allah bagi manusia.

Karena itu, iman Kristen bukanlah iman kepada Allah yang menuntut ketundukan brutal. Kita percaya kepada Allah yang terlebih dahulu mengasihi, berkorban, dan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Ketaatan kita bukan lahir dari ketakutan kepada tiran, tetapi dari kepercayaan kepada Bapa yang telah membuktikan kasih-Nya di kayu salib.

Refleksi

Apakah selama ini saya menaati Tuhan karena takut dihukum, atau karena saya mengenal dan mempercayai kasih-Nya?

Ketika jalan Tuhan tidak saya pahami, apakah saya tetap berpegang pada karakter-Nya yang setia, atau saya mulai meragukan kebaikan-Nya?

Semoga kita belajar dari Abraham bahwa iman sejati bukanlah ketundukan yang membabi buta, melainkan keberanian untuk mempercayai Allah yang selalu setia, bahkan ketika kita belum mengerti apa yang sedang Ia kerjakan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1341339
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1341239
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :