Kaya ‘Noise’, Miskin ‘Voice’

Ada pemandangan yang diam-diam menjadi gaya utama manusia modern. Seseorang duduk bersama keluarga atau teman-temannya, tetapi matanya terus tertuju ke layar. Percakapan terjadi, tetapi tidak ada yang benar-benar hadir. Kepala penuh respons, hati miskin keterhubungan batin. Anehnya, setelah seharian “terhubung”, malamnya mereka tetap merasa sendiri.

Kita hidup di zaman paling bising dalam sejarah manusia. Bukan hanya bising suara, tetapi bising pikiran. Setiap hari manusia dibanjiri opini, target, notifikasi, konten, tuntutan, dan informasi tanpa jeda. Otak terus aktif, tetapi jiwa perlahan mati rasa. Kita menjadi generasi yang kaya ide, tetapi miskin kejernihan; kaya informasi, tetapi kehilangan makna; kaya noise, tetapi miskin voice.

Barangkali inilah penyakit terselubung terbesar manusia modern: bukan hidup yang terlalu berat, tetapi batin yang terlalu sesak. Jiwa membutuhkan ruang untuk bernapas. Itulah sebabnya ketika Yesus datang kepada murid-murid yang takut dan kehilangan arah, Ia tidak memberi strategi baru. Yohanes 20:22 berkata, “Ia menghembusi mereka dan berkata: Terimalah Roh Kudus.” Menarik sekali! Yesus memberi napas sebelum memberi tugas. Sebab manusia yang kehilangan napas batin perlahan kehilangan kemampuan untuk hidup bermakna. Inilah esensi Pentakosta!

Dunia modern merangsang kita menjadi cepat bereaksi, tetapi dangkal memahami. Cepat tersinggung karena adanya sedikit perbedaan pendapat, lihai menjawab, tetapi miskin mendengar dan beragam kenyataan lainnya. Intinya, hati manusia sebenarnya paling terluka bukan karena kritik, melainkan karena merasa tidak dipahami.

Roh Kudus memulihkan emosi manusia. Kisah Para Rasul 2:6 menunjukkan bahwa setiap orang mendengar para rasul berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Poin utamanya bukan tentang orang yang fasih berbicara dalam banyak bahasa, tetapi justru tentang orang-orang yang akhirnya merasa dimengerti dalam bahasa mereka sendiri.

Roh Kudus memulihkan kemampuan untuk menyesuaikan diri, mendengar lebih dalam, dan melihat sesama bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai manusia yang sama-sama rapuh. Di situlah hati dipulihkan. Roh Kudus melembutkan ego, menurunkan kebisingan batin, lalu membuka ruang empati. Tiba-tiba manusia tidak lagi sibuk menjadi paling benar, tetapi mulai belajar benar-benar hadir dengan kepekaannya. Roh Kudus tidak berhenti di sana. Ia juga memulihkan kedalaman jiwa manusia.

Fenomena yang sering kita lihat saat ini adalah banyak orang terlihat berhasil, tetapi hidupnya seperti berlari di mesin treadmill: sibuk bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar sampai. Dunia mengajarkan manusia mengejar pencapaian, tetapi lupa bertanya untuk apa semua itu. Mazmur 104:30 berkata, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi”. Roh Kudus tidak hanya memberi semangat sesaat. Ia menghidupkan kembali makna yang mati di dalam diri manusia. Manusia tidak goyah karena lelah bekerja; manusia mulai retak ketika pekerjaannya kehilangan makna. Pada akhirnya, manusia benar-benar hancur ketika kehilangan alasan untuk tetap hidup.

Ketika hidup mulai menekan, Roh Kudus menjadi sumber daya tahan batin. Murid-murid yang sebelumnya mengunci pintu karena takut, berubah menjadi pribadi yang berani menghadapi dunia. Yesaya 40:31 berkata, “Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru.” Inilah kekuatan yang langka hari ini: kemampuan tetap tenang tanpa menjadi dingin, tetap lembut tanpa menjadi lemah, dan tetap bertahan tanpa kehilangan harapan.

Barangkali masalah terbesar kita bukan kurang ide, motivasi, atau kesempatan. Mungkin kita hanya terlalu penuh noise, sampai tidak lagi bisa mendengar voice yang memberi hidup. Momen Pentakosta kiranya kita maknai sebagai undangan Roh Kudus, bukan membuat hidup kita lebih ramai, tetapi lebih jernih. Bukan menambah kecepatan, tetapi memperbaiki kualitas pikiran, hati dan jiwa hadir menyatu utuh. Karena pada akhirnya, manusia tidak dipulihkan oleh semakin banyak distraksi, opini, dan validasi dari luar dirinya, tetapi ketika ia kembali mendengar suara Allah yang menghidupkan batinnya agar lebih dapat berkarya dan bermakna. (SAR)

Renungan Sepekan

KERJAKAN KESELAMATANMU

Keluaran 17:1–7; Mazmur 78:1–4, 12–16; Filipi 2:1–13; Matius 21:23–32

Kita sering berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan. Kita juga percaya bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita melalui Kristus. Namun, apakah keselamatan itu berhenti pada apa yang kita percaya? Bacaan-bacaan kita hari ini mengajak kita melihat bahwa keselamatan yang Allah kerjakan perlu dihidupi dalam perjalanan kehidupan kita.

Dalam Keluaran 17, bangsa Israel telah mengalami pembebasan Tuhan dari Mesir. Namun, perjalanan mereka belum selesai. Di Rafidim mereka menghadapi persoalan karena tidak ada air. Mereka kemudian mempertanyakan kehadiran Tuhan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Mereka sudah mengalami pertolongan Tuhan, tetapi dalam persoalan baru mereka kembali mengalami keraguan. Tuhan tetap hadir dan menyediakan air bagi mereka. Kisah ini mengingatkan kita bahwa menjadi umat yang telah mengalami karya keselamatan Tuhan tidak berarti perjalanan hidup selalu mudah. Kita tetap belajar percaya dan bergantung kepada Tuhan dalam setiap keadaan.

Mazmur 78 kemudian mengajak umat untuk mengingat dan menceritakan karya Tuhan kepada generasi berikutnya. Pengalaman tentang kesetiaan Tuhan tidak boleh berhenti pada satu generasi. Apa yang telah Tuhan lakukan perlu diingat, diceritakan, dan menjadi dasar bagi kehidupan umat pada masa kini. Keselamatan yang kita ingat seharusnya memengaruhi cara kita menjalani kehidupan.

Hal ini semakin jelas dalam surat Paulus kepada jemaat Filipi. Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Perkataan ini bukan berarti kita harus berusaha mendapatkan keselamatan dengan kekuatan dan perbuatan kita sendiri. Paulus langsung menegaskan bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan. Karena itu, mengerjakan keselamatan berarti menghidupi keselamatan yang telah Allah kerjakan. Keselamatan itu terlihat ketika kita hidup dalam kasih, tidak mementingkan diri sendiri, memperhatikan kepentingan orang lain, dan memiliki kerendahan hati seperti Kristus.

Hal yang sama terlihat dalam perumpamaan Yesus tentang dua anak dalam Matius 21. Anak pertama berkata “ya” kepada ayahnya, tetapi tidak pergi. Anak kedua berkata “tidak”, tetapi kemudian menyesal dan pergi melakukan kehendak ayahnya. Yesus menunjukkan bahwa melakukan kehendak Allah tidak cukup hanya dengan perkataan. Iman dan pertobatan harus terlihat dalam tindakan.

Keempat bacaan ini membawa kita kepada satu pertanyaan sederhana: Apakah keselamatan yang Allah kerjakan di dalam diri kita sudah terlihat dalam kehidupan kita? Bukan hanya dalam perkataan kita, tetapi dalam cara kita memperlakukan keluarga, sesama, gereja, dan orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Maka, mengerjakan keselamatan berarti terus berjalan bersama Tuhan, mengingat dan menceritakan karya-Nya, membiarkan Kristus membentuk karakter kita, serta melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak mengerjakan keselamatan supaya diselamatkan. Kita mengerjakannya karena kita telah diselamatkan dan Allah sedang terus bekerja di dalam kita.

Kiranya kehidupan kita bukan hanya berkata, “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi juga menunjukkan melalui tindakan: “Saya hidup sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan.”

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan informasi tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1480218
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1480118
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :