Belajar Seimbang di Jalan yang Tidak Rata

Ada satu tahap dalam hidup ketika kita menyadari bahwa iman bukan tentang memilih sisi yang paling kelihatan benar, melainkan tentang belajar berdiri tegak di tengah tarikan yang saling berlawanan. Mengasihi dengan segenap hati, namun tidak membiarkan ketidakadilan berlalu. Rendah hati, tetapi tidak kehilangan martabat. Percaya diri, tanpa meninggikan diri. Proaktif, tanpa terjebak menjadi penyelamat semesta.

Kesadaran ini tidak lahir dari hidup yang steril. Ia dibentuk perlahan di jalan yang tidak rata, di ruang abu-abu tempat keputusan jarang hitam putih dan iman diuji bukan oleh teori, melainkan oleh kenyataan hidup sehari-hari yang sering menuntut kebijaksanaan.

Belajar melalui Khotbah di Bukit dalam Injil Matius, Yesus tidak sedang menciptakan manusia yang lemah dan pasif. Ia menghadirkan standar hidup Kerajaan Sorga, standar yang lebih tinggi, lebih dalam, dan lebih mahal. Mengasihi musuh bukan berarti menormalisasi kekerasan. Memberi pipi yang lain bukan berarti meniadakan keadilan (Mat. 5:39). Ketika Yesus berkata, Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran (Mat. 5:6), Ia menegaskan bahwa iman sejati selalu gelisah terhadap yang timpang dan rusak.

Pemahaman ini sering tidak lahir dari ruang ibadah, melainkan dari pengalaman hidup yang jauh dari ideal. Kita pernah diam demi menjaga damai, tetapi pulang dengan hati yang terasa dikhianati. Kita pernah marah melihat ketidakadilan, lalu ragu apakah ini panggilan nurani atau luapan ego. Kita pernah bertindak terlalu cepat, lalu sadar bahwa keberanian tanpa hikmat dapat melukai lebih banyak daripada menyembuhkan.

Di titik inilah terang dan gelap kembali menari. Bukan sebagai musuh yang harus segera dipisahkan, melainkan sebagai realitas yang menuntut kedewasaan untuk disikapi secara jujur dan bertanggung jawab.

Yesus tidak datang untuk menyederhanakan hidup, melainkan menyertai proses pendewasaan kita di dalam kompleksitasnya. Ia mengajar tentang kelemahlembutan, namun juga berkata, siapa pun yang menampar pipi kananmu… (Mat. 5:39), sebuah undangan untuk memutus siklus kekerasan, bukan ajakan kehilangan harga diri. Ia mengasihi tanpa syarat, tetapi juga membalikkan meja ketidakadilan di Bait Allah (Mat. 21:12). Dalam diri-Nya, kasih dan kebenaran tidak pernah terpisah.

Semua ini tidak dibentuk lewat hafalan kosong. Sukacita, keteguhan, dan kebijaksanaan adalah otot rohani yang bertumbuh melalui tekanan. Anggaplah sebagai kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan... (Yak. 1:2), bukan karena penderitaan itu indah, melainkan karena di sanalah ketekunan dilahirkan dan iman dimurnikan.

Ada luka yang mengajarkan batas. Ada kegagalan yang menumbuhkan kerendahan hati. Ada ketidakadilan yang membangunkan keberanian. Sedikit demi sedikit, kita belajar bahwa iman yang hidup bukan iman yang selalu lembut atau selalu keras, melainkan iman yang tepat guna, hadir sebagai pelukan ketika dibutuhkan dan sebagai suara tegas ketika kebenaran diinjak.

Inilah hidup yang Yesus tawarkan, hidup dengan kualitas surgawi di tengah dunia yang belum ditebus sepenuhnya. Hidup yang reflektif, bukan reaktif. Hidup yang proaktif, namun dijalani dengan hikmat. Hidup yang tidak meniadakan gelap, tetapi membiarkan terang membentuk cara kita berjalan di dalamnya.

Dan pada kedalaman perjalanan iman ini, kita mulai memahami makna perkataan Yesus, Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna (Mat. 5:48). Ia tidak menuntut kesempurnaan tanpa luka, tanpa salah, dan tanpa jatuh. Ia mengundang kita menuju keutuhan hati yang berani mengasihi tanpa kehilangan kebenaran, bersikap tanpa kehilangan kelembutan, dan bertumbuh di tengah hidup yang nyata dan sering melelahkan. Di sanalah iman berhenti menjadi konsep dan berubah menjadi kehidupan. (SAR)

Renungan Sepekan

KERJAKAN KESELAMATANMU

Keluaran 17:1–7; Mazmur 78:1–4, 12–16; Filipi 2:1–13; Matius 21:23–32

Kita sering berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan. Kita juga percaya bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita melalui Kristus. Namun, apakah keselamatan itu berhenti pada apa yang kita percaya? Bacaan-bacaan kita hari ini mengajak kita melihat bahwa keselamatan yang Allah kerjakan perlu dihidupi dalam perjalanan kehidupan kita.

Dalam Keluaran 17, bangsa Israel telah mengalami pembebasan Tuhan dari Mesir. Namun, perjalanan mereka belum selesai. Di Rafidim mereka menghadapi persoalan karena tidak ada air. Mereka kemudian mempertanyakan kehadiran Tuhan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Mereka sudah mengalami pertolongan Tuhan, tetapi dalam persoalan baru mereka kembali mengalami keraguan. Tuhan tetap hadir dan menyediakan air bagi mereka. Kisah ini mengingatkan kita bahwa menjadi umat yang telah mengalami karya keselamatan Tuhan tidak berarti perjalanan hidup selalu mudah. Kita tetap belajar percaya dan bergantung kepada Tuhan dalam setiap keadaan.

Mazmur 78 kemudian mengajak umat untuk mengingat dan menceritakan karya Tuhan kepada generasi berikutnya. Pengalaman tentang kesetiaan Tuhan tidak boleh berhenti pada satu generasi. Apa yang telah Tuhan lakukan perlu diingat, diceritakan, dan menjadi dasar bagi kehidupan umat pada masa kini. Keselamatan yang kita ingat seharusnya memengaruhi cara kita menjalani kehidupan.

Hal ini semakin jelas dalam surat Paulus kepada jemaat Filipi. Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Perkataan ini bukan berarti kita harus berusaha mendapatkan keselamatan dengan kekuatan dan perbuatan kita sendiri. Paulus langsung menegaskan bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan. Karena itu, mengerjakan keselamatan berarti menghidupi keselamatan yang telah Allah kerjakan. Keselamatan itu terlihat ketika kita hidup dalam kasih, tidak mementingkan diri sendiri, memperhatikan kepentingan orang lain, dan memiliki kerendahan hati seperti Kristus.

Hal yang sama terlihat dalam perumpamaan Yesus tentang dua anak dalam Matius 21. Anak pertama berkata “ya” kepada ayahnya, tetapi tidak pergi. Anak kedua berkata “tidak”, tetapi kemudian menyesal dan pergi melakukan kehendak ayahnya. Yesus menunjukkan bahwa melakukan kehendak Allah tidak cukup hanya dengan perkataan. Iman dan pertobatan harus terlihat dalam tindakan.

Keempat bacaan ini membawa kita kepada satu pertanyaan sederhana: Apakah keselamatan yang Allah kerjakan di dalam diri kita sudah terlihat dalam kehidupan kita? Bukan hanya dalam perkataan kita, tetapi dalam cara kita memperlakukan keluarga, sesama, gereja, dan orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Maka, mengerjakan keselamatan berarti terus berjalan bersama Tuhan, mengingat dan menceritakan karya-Nya, membiarkan Kristus membentuk karakter kita, serta melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak mengerjakan keselamatan supaya diselamatkan. Kita mengerjakannya karena kita telah diselamatkan dan Allah sedang terus bekerja di dalam kita.

Kiranya kehidupan kita bukan hanya berkata, “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi juga menunjukkan melalui tindakan: “Saya hidup sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan.”

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan informasi tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1493685
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1493585
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :