Menjadi Garam dan Terang

“Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia… … Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat. 5:13-16)

Firman Tuhan ini mengingatkan kita sebagai anak-anak Allah yang telah ditebus dan menerima status baru melalui Yesus Kristus, untuk tetap hidup berdampak bagi orang – orang yang ada di sekitar. Kita tidak dipanggil untuk hidup egois atau menikmati keselamatan yang Tuhan Yesus berikan secara eksklusif. Sebaliknya, Yesus memberikan identitas yang sangat jelas: Garam dan Terang Dunia. Ini bukan sekadar ajakan, melainkan deskripsi fungsi kita di tengah dunia.

  1. Dampak Garam: Mencegah Kebusukan dan Memberi Rasa Garam berfungsi untuk mencegah makanan menjadi busuk. Di dunia yang penuh dengan kejahatan, keegoisan, dan nilai-nilai yang merosot, anak Tuhan dipanggil untuk hidup berbeda. Kita menjadi “antiseptik” moral yang menahan kebusukan moral di sekitar kita. Dampak kita terlihat ketika kita berani jujur saat orang lain curang, tetap kasih saat orang lain membenci, dan membawa damai saat orang lain memicu konflik. Hidup kita memberikan rasa yang membawa kebaikan dan sukacita (menjadi berkat) bagi lingkungan, baik di rumah, tempat kerja, atau komunitas.
  2. Dampak Terang: Memancarkan Kasih Kristus Terang berfungsi untuk mengusir kegelapan. Anak Tuhan yang berdampak adalah mereka yang hidupnya memancarkan karakter Kristus – yaitu kasih, kejujuran, kerendahan hati, dan kebenaran. Perbuatan baik yang kita lakukan bukanlah untuk pamer agar dipuji, melainkan supaya melalui kehidupan kita, orang lain melihat kasih Allah dan memuliakan-Nya. Hidup yang berdampak adalah hidup yang menjadi solusi, bukan masalah, dan membawa pengharapan bagi mereka yang putus asa.
  3. Dampak Melalui Karakter, Bukan Hanya Perkataan. Dampak yang sesungguhnya berasal dari realitas Kristus yang hidup di dalam dan melalui kita. Orang lain mungkin tidak membaca Alkitab, tetapi me-reka bisa “membaca” hidup kita. Saat kita mempraktikkan kasih, meng-ampuni, dan menolong sesama, kita sedang menunjukkan dampak nyata sebagai anak-anak Allah.

Tapi Hidup berdampak bagi orang adalah sesuatu yang sulit dilakukan, kedengarannya mudah untuk menjadi berkat dan berdampak bagi orang lain tapi kenyataannya sangat sulit apalagi dalam berdampak butuh pengorbanan.

Berikut adalah beberapa contoh cara praktis dan Alkitabiah supaya, kita diberikan kemampuan untuk berdampak bagi orang lain:

  1. Bangun Hubungan Intim dengan Tuhan (Akar yang Kuat). Hidup dalam Firman dan Doa: Dampak sejati bersumber dari hadirat Tuhan. Dengan merenungkan Firman (Yohanes 15:5) dan berdoa, kita dibentuk menjadi serupa dengan Kristus, sehingga karakter-Nya memancar keluar.
  2. Hiduplah dalam Karakter Kristus (Menjadi Surat Terbuka). Integritas dan Kebenaran: Dampak terbesar seringkali datang dari konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Jadilah pribadi yang jujur dan benar.
  3. Tindakan Nyata Kasih (Berdampak Sehari-hari) Small Acts of Kindness (Kebaikan Kecil): Dampak tidak selalu besar. Memberi senyuman, mendengarkan orang yang butuh teman, menolong rekan kerja, atau menahan pintu untuk orang lain adalah berkat nyata.
  4. Jadilah Berkat di Tempat Anda Berada Bekerja untuk Tuhan: Apapun profesi Anda, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, bukan manusia (Kolose 3:23). Ini akan membuat Anda berdampak.

Dengan kesungguhan hati, Tuhan pasti memberikan kemampukan kepada kita untuk tetap berdampak dan terus menjadi berkat. Amin. (MEP)

Renungan Sepekan

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Bacaan: Matius 18:21–35

“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
(Matius 18:22)

Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” Petrus bahkan memberikan batas yang menurutnya sudah cukup murah hati, yaitu tujuh kali. Namun Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Dalam beberapa terjemahan Alkitab, ayat ini diterjemahkan “tujuh puluh tujuh kali”, sedangkan dalam terjemahan lain “tujuh puluh kali tujuh kali”. Perbedaan ini muncul dari cara memahami ungkapan bahasa Yunani yang digunakan Matius. Para ahli Alkitab sendiri masih mendiskusikan apakah maksudnya 77 atau 490 kali. Namun yang jauh lebih penting daripada menghitung angkanya adalah maksud Yesus: pengampunan tidak dimaksudkan untuk dibatasi dengan hitungan.

Menariknya, ungkapan ini mengingatkan kita pada Kejadian 4:24. Lamekh berbicara tentang pembalasan yang dilakukan “tujuh puluh tujuh kali”. Jika dalam kisah Lamekh kita melihat semangat manusia yang ingin membalas kejahatan dengan kejahatan yang berlipat ganda, Yesus justru membawa kita kepada arah yang berlawanan. Apa yang dahulu menjadi simbol pembalasan, kini menjadi gambaran tentang pengampunan.

Karena itu, Yesus sebenarnya sedang mengubah cara kita menjalani kehidupan. Dunia sering mengajarkan, “Kalau dia menyakiti saya, saya juga akan menyakitinya.” Bahkan terkadang kita berpikir, “Saya akan membalas supaya dia tahu bagaimana rasanya.” Tetapi Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Kejahatan tidak dihentikan dengan menambah kejahatan. Kebencian tidak disembuhkan dengan kebencian. Dendam tidak menghasilkan kehidupan yang baru.

Setelah menjawab pertanyaan Petrus, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar kepada rajanya. Ia tidak mungkin mampu membayar hutang tersebut. Namun raja itu berbelas kasihan dan menghapuskan seluruh hutangnya.

Masalahnya, setelah menerima pengampunan yang begitu besar, hamba tersebut bertemu dengan orang yang berhutang kepadanya. Hutang orang itu jauh lebih kecil, tetapi ia tidak mau mengampuninya. Ia bahkan menuntut agar hutang itu dibayar.

Di sinilah Yesus menunjukkan sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Kita sangat mudah mengingat kesalahan orang lain, tetapi mudah melupakan betapa besar pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan. Kita berharap Tuhan mengerti kelemahan kita, tetapi kita sulit mengerti kelemahan orang lain. Kita meminta Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita, tetapi terkadang kita tidak mau memberikan kesempatan kedua kepada sesama.

Padahal setiap hari kita hidup karena kasih karunia Tuhan. Kita bukan manusia yang sempurna. Kita juga pernah salah, mengecewakan orang lain, berkata-kata yang menyakitkan, mengambil keputusan yang keliru, dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak memperlakukan kita hanya berdasarkan kesalahan kita. Ia memberikan pengampunan dan kesempatan untuk bertobat.

Karena itu, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan seseorang tidak serius. Mengampuni juga tidak berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti. Dalam keadaan tertentu, kita tetap perlu membuat batas, menjaga jarak, bahkan mengambil langkah yang tegas terhadap ketidakadilan. Tetapi di dalam hati, kita tidak lagi membiarkan dendam dan kebencian menguasai kehidupan kita.

Pengampunan adalah keputusan untuk menyerahkan hak membalas kepada Tuhan.Sering kali kita berpikir bahwa ketika kita mengampuni, kita sedang memberikan hadiah kepada orang yang bersalah kepada kita. Padahal pengampunan juga merupakan pembebasan bagi diri kita sendiri. Ketika kita terus memelihara kebencian, kita sebenarnya sedang membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hidup kita. Orang itu mungkin sudah melanjutkan hidupnya, tetapi kita masih terikat pada peristiwa yang sama.

Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tetapi pengampunan dapat mengubah kuasa masa lalu atas hidup kita.Karena itu, mungkin hari ini ada seseorang yang perlu kita ampuni. Mungkin luka itu belum sepenuhnya hilang. Mungkin kita masih merasa sakit ketika mengingat apa yang terjadi. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi kita dapat datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup mengampuni dengan kekuatanku sendiri. Tolong aku melepaskan dendam ini dan menyerahkan semuanya kepada-Mu.”

Pertanyaan Yesus kepada kita bukan hanya, “Siapa yang harus kamu ampuni?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah kamu menyadari betapa besar pengampunan yang telah kamu terima dari Allah?”

Ketika kita menyadari bahwa hidup kita sendiri berdiri di atas pengampunan Tuhan, kita akan belajar memandang kesalahan orang lain dengan belas kasihan. Bukan karena kesalahan itu kecil, tetapi karena kasih karunia Allah jauh lebih besar.

Kiranya kita tidak menjadi seperti hamba dalam perumpamaan Yesus yang menerima pengampunan besar tetapi tidak mau mengampuni. Sebaliknya, karena telah menerima pengampunan Allah, marilah kita menjadi orang yang membawa pengampunan bagi orang lain. Sebab pengampunan Allah menyelamatkan kita dari dosa, dan pengampunan yang kita berikan menolong kita untuk bebas dari kepahitan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1450334
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1450234
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :