Author Archive

Karya Roh Kudus

KARYA ROH KUDUS Banyak orang Kristen sering dibuat bingung dan ragu apakah di dalam dirinya atau dalam kehidupannya ada Roh Kudus atau tidak. Banyak pula yang bertanya kalau saya punya Roh Kudus, kenapa saya tidak dapat berbahasa Roh? Atau sebaliknya anak-anak Tuhan yang sering mempraktekkan apa yang mereka sebut “bahasa Roh”, menganggap bahwa orang Kristen […]

3 in 1

“3 in 1” Bagi kita yang tinggal di seputaran Jakarta atau pernah melintas di jalanan ibukota, tentu tidak asing lagi dengan istilah “3 in 1” (three in one) ini, di mana pada jam-jam tertentu di kawasan tersebut diberlakukan aturan mobil berpenumpang minimal 3 orang. Dalam 1-2 bulan terakhir pembahasan 3 in 1 yang mulai diberlakukan […]

Hidup di dalam Roh

HIDUP DI DALAM ROH   Minggu, 7 Desember 1941, pangkalan militer Amerika di Hawai (Pearl Harbour) dihancurkan oleh Jepang. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berada di dalam peperangan. Ini merupakan gambaran yang tepat untuk melukiskan keadaan orang Kristen di sepanjang masa: tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam […]

Hari Minggu, hari Tuhan

Hari Minggu Hari Tuhan Sesama sebagai Mitra Berkarya adalah tema Ibadah Remaja 17 April 2016 yang lalu dibawakan oleh Pdt. Gordon S. Hutabarat, dimana dalam konteks remaja tujuan dari tema ini adalah menjelaskan bahwa pada hakikatnya manusia diciptakan seturut dengan rupa Allah, dan sebagai bacaan diambil dari kitab Kejadian, yaitu pasal 1 ayat 1 dimulai […]

Maria vs Martha

      Maria vs Martha Sebagai orang Kristen, kita seringkali bertanya : Mana yang lebih penting, jadi Maria atau Martha? Duduk di kaki Tuhan mendengarkan sabdaNya atau sibuk melayaniNya? Kisah Alkitab mengenai kedua wanita pada jaman Yesus ini begitu populer di kalangan orang Kristen. Banyak diantara kita jemaat gereja yang memilih menjadi Maria saja, […]

Definisi kesuksesan di mata Allah

Definisi kesuksesan di mata Allah Entah sudah berapa kali tulisan mengenai kesuksesan di mata Allah sering diperdengungkan. Meski demikian, ada baiknya tulisan ini kembali diutarakan – tidak lain untuk mengingatkan diri kita sebagai manusia bahwa di tengah kemajuan dan perubahan hidup terutama setelah revolusi industri. Masyarakat sangat mendambakan sebuah kesuksesan yang berlandaskan ego dan harta. […]

Menghadapi krisis

MENGHADAPI KRISIS Mazmur 27:5 “Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu.” Pembacaan dari Mazmur 27 – Aman dalam perlindungan Allah Sebagaimana kita ketahui bahwa huruf Cina itu memiliki berbagai banyak karakter dengan arti yang bermacam-macam. Salah seorang tokoh pemimpin […]

Kasih Kristus yang besar

      Kasih Kristus yang Besar Filipi 2:8“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Minggu lalu, umat Kristiani akan merayakan dua peristiwa penting, kematian Yesus Kristus yang diperingati sebagai Jumat Agung dan kebangkitan-Nya yang dirayakan sebagai hari raya Paska. Terlepas dari perayaan yang dijalani […]

Renungan Sepekan

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Bacaan: Matius 18:21–35

“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
(Matius 18:22)

Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” Petrus bahkan memberikan batas yang menurutnya sudah cukup murah hati, yaitu tujuh kali. Namun Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Dalam beberapa terjemahan Alkitab, ayat ini diterjemahkan “tujuh puluh tujuh kali”, sedangkan dalam terjemahan lain “tujuh puluh kali tujuh kali”. Perbedaan ini muncul dari cara memahami ungkapan bahasa Yunani yang digunakan Matius. Para ahli Alkitab sendiri masih mendiskusikan apakah maksudnya 77 atau 490 kali. Namun yang jauh lebih penting daripada menghitung angkanya adalah maksud Yesus: pengampunan tidak dimaksudkan untuk dibatasi dengan hitungan.

Menariknya, ungkapan ini mengingatkan kita pada Kejadian 4:24. Lamekh berbicara tentang pembalasan yang dilakukan “tujuh puluh tujuh kali”. Jika dalam kisah Lamekh kita melihat semangat manusia yang ingin membalas kejahatan dengan kejahatan yang berlipat ganda, Yesus justru membawa kita kepada arah yang berlawanan. Apa yang dahulu menjadi simbol pembalasan, kini menjadi gambaran tentang pengampunan.

Karena itu, Yesus sebenarnya sedang mengubah cara kita menjalani kehidupan. Dunia sering mengajarkan, “Kalau dia menyakiti saya, saya juga akan menyakitinya.” Bahkan terkadang kita berpikir, “Saya akan membalas supaya dia tahu bagaimana rasanya.” Tetapi Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Kejahatan tidak dihentikan dengan menambah kejahatan. Kebencian tidak disembuhkan dengan kebencian. Dendam tidak menghasilkan kehidupan yang baru.

Setelah menjawab pertanyaan Petrus, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar kepada rajanya. Ia tidak mungkin mampu membayar hutang tersebut. Namun raja itu berbelas kasihan dan menghapuskan seluruh hutangnya.

Masalahnya, setelah menerima pengampunan yang begitu besar, hamba tersebut bertemu dengan orang yang berhutang kepadanya. Hutang orang itu jauh lebih kecil, tetapi ia tidak mau mengampuninya. Ia bahkan menuntut agar hutang itu dibayar.

Di sinilah Yesus menunjukkan sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Kita sangat mudah mengingat kesalahan orang lain, tetapi mudah melupakan betapa besar pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan. Kita berharap Tuhan mengerti kelemahan kita, tetapi kita sulit mengerti kelemahan orang lain. Kita meminta Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita, tetapi terkadang kita tidak mau memberikan kesempatan kedua kepada sesama.

Padahal setiap hari kita hidup karena kasih karunia Tuhan. Kita bukan manusia yang sempurna. Kita juga pernah salah, mengecewakan orang lain, berkata-kata yang menyakitkan, mengambil keputusan yang keliru, dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak memperlakukan kita hanya berdasarkan kesalahan kita. Ia memberikan pengampunan dan kesempatan untuk bertobat.

Karena itu, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan seseorang tidak serius. Mengampuni juga tidak berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti. Dalam keadaan tertentu, kita tetap perlu membuat batas, menjaga jarak, bahkan mengambil langkah yang tegas terhadap ketidakadilan. Tetapi di dalam hati, kita tidak lagi membiarkan dendam dan kebencian menguasai kehidupan kita.

Pengampunan adalah keputusan untuk menyerahkan hak membalas kepada Tuhan.Sering kali kita berpikir bahwa ketika kita mengampuni, kita sedang memberikan hadiah kepada orang yang bersalah kepada kita. Padahal pengampunan juga merupakan pembebasan bagi diri kita sendiri. Ketika kita terus memelihara kebencian, kita sebenarnya sedang membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hidup kita. Orang itu mungkin sudah melanjutkan hidupnya, tetapi kita masih terikat pada peristiwa yang sama.

Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tetapi pengampunan dapat mengubah kuasa masa lalu atas hidup kita.Karena itu, mungkin hari ini ada seseorang yang perlu kita ampuni. Mungkin luka itu belum sepenuhnya hilang. Mungkin kita masih merasa sakit ketika mengingat apa yang terjadi. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi kita dapat datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup mengampuni dengan kekuatanku sendiri. Tolong aku melepaskan dendam ini dan menyerahkan semuanya kepada-Mu.”

Pertanyaan Yesus kepada kita bukan hanya, “Siapa yang harus kamu ampuni?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah kamu menyadari betapa besar pengampunan yang telah kamu terima dari Allah?”

Ketika kita menyadari bahwa hidup kita sendiri berdiri di atas pengampunan Tuhan, kita akan belajar memandang kesalahan orang lain dengan belas kasihan. Bukan karena kesalahan itu kecil, tetapi karena kasih karunia Allah jauh lebih besar.

Kiranya kita tidak menjadi seperti hamba dalam perumpamaan Yesus yang menerima pengampunan besar tetapi tidak mau mengampuni. Sebaliknya, karena telah menerima pengampunan Allah, marilah kita menjadi orang yang membawa pengampunan bagi orang lain. Sebab pengampunan Allah menyelamatkan kita dari dosa, dan pengampunan yang kita berikan menolong kita untuk bebas dari kepahitan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1452882
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1452782
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :