Author Archive

Ini aku, utuslah aku

Pernahkah kita dihadapkan pada suatu pilihan? Jawabnya pasti pernah bahkan sering. Terkadang kita diminta untuk memutuskan sesuatu hal yang sulit apalagi itu berkaitan dengan pribadi dan keseharian kita, pasti sulit. Salah satu yang harus kita putuskan adalah jika tiba saatnya untuk melayani Tuhan. Dalam re- nungan kombas Bulan November yang lalu kendala terbesar bagi kita […]

Menjadi ‘Pohon yang Berbuah atau Pohon tanpa Buah?’

MENJADI “POHON YANG BERBUAH ATAU POHON TANPA BUAH?” Saudara yang terkasih, pernahkah anda menanam sebuah pohon? Atau pernahkah anda mengamati pertumbuhan sebuah pohon? Kita mengetahui bahwa pohon akan tumbuh sehat jika mendapatkan makanan berupa zat hara dan air yang cukup dari tanah tempatnya berdiri. Saat saya melihat sebuah pohon di taman komplek rumah, saya menyadari […]

Istirahat yang (tidak) Bebas Cemas

Istirahat yang (tidak) Bebas Cemas  Di masa pandemi ini, ketika kita diharuskan bepergian dalam jarak jauh tentunya kita akan sangat mempertimbangkan aspek protokol kesehatan khususnya tentang menjaga jarak. Untuk perjalanan darat di Pulau Jawa, pilihan menggunakan mobil pribadi melalui jalan tol menjadi lebih dominan. Dimana dengan mobil pribadi kita dapat lebih menjaga jarak dan membatasi […]

Dipelihara

Dipelihara Bicara mengenai keluarga, kita sering mendengar kata “dipelihara”. Seorang anak yang dipelihara sejak lahir oleh Ayah dan Ibunya telah tumbuh menjadi seorang dewasa yang sukses. Tapi mungkin kata “dipelihara” tidak hanya digunakan dalam konteks sebuah keluarga. Misalnya: Anjing kecil ini dipelihara oleh keluarga si Anu. Kebun anggur ini dipelihara oleh Pak Bambang. Begitu juga […]

Memahami Surat Pastoral/Penggembalaan

Memahami Surat Pastoral/Penggembalaan Ada orang yang memahami bahwa Surat Penggembalaan sama dengan Penggembalaan Khusus. Benarkah demikian? Beberapa kali Majelis Jemaat menerima Surat Penggembalaan dari BPMS GKI dan/atau BPMSW GKI. Biasanya surat tersebut dikaitkan dengan situasi dan kondisi yang terus berkembang dalam dinamika kehidupan dalam lingkup yang terbatas maupun yang lebih luas. Dalam lingkup internal sebagai […]

Melayani sepenuh hati dengan integritas

Melayani sepenuh hati dengan integritas   “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah- bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,” – Filipi 2:14-15 Ciri utama pelayanan adalah […]

Jaga dan Lindungi Kami, ya Tuhan

Jaga dan lindungi kami, ya Tuhan Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, pada saat ini GKI Kota Wisata sudah memulai kebaktian onsite perdana pada tanggal 6 September 2020 setelah kita mengikuti kebaktian online sejak pertengahan Maret. Melalui setiap perencanaan-perencanaan dengan sebuah protokol kesehatan yang ketat, maka GKI Kota Wisata memutuskan untuk melakukan kebaktian tersebut. Tentu […]

Kalibrasi hati

      Kalibrasi Hati Saat ini, hampir setiap waktu dalam sehari kita diperiksa suhu tubuh kita, biasanya dengan thermo gun, thermal imaging camera atau dengan metode lain tanpa bersentuhan secara fisik. Kita senantiasa diposisikan sebagai seorang “tersangka”, walaupun belum disertai bukti awal sehingga sebenarnya belum layak sebagai tersangka, namun “proses pembuktian awal”-nya cukup menyita […]

Renungan Sepekan

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Bacaan: Matius 18:21–35

“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
(Matius 18:22)

Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” Petrus bahkan memberikan batas yang menurutnya sudah cukup murah hati, yaitu tujuh kali. Namun Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Dalam beberapa terjemahan Alkitab, ayat ini diterjemahkan “tujuh puluh tujuh kali”, sedangkan dalam terjemahan lain “tujuh puluh kali tujuh kali”. Perbedaan ini muncul dari cara memahami ungkapan bahasa Yunani yang digunakan Matius. Para ahli Alkitab sendiri masih mendiskusikan apakah maksudnya 77 atau 490 kali. Namun yang jauh lebih penting daripada menghitung angkanya adalah maksud Yesus: pengampunan tidak dimaksudkan untuk dibatasi dengan hitungan.

Menariknya, ungkapan ini mengingatkan kita pada Kejadian 4:24. Lamekh berbicara tentang pembalasan yang dilakukan “tujuh puluh tujuh kali”. Jika dalam kisah Lamekh kita melihat semangat manusia yang ingin membalas kejahatan dengan kejahatan yang berlipat ganda, Yesus justru membawa kita kepada arah yang berlawanan. Apa yang dahulu menjadi simbol pembalasan, kini menjadi gambaran tentang pengampunan.

Karena itu, Yesus sebenarnya sedang mengubah cara kita menjalani kehidupan. Dunia sering mengajarkan, “Kalau dia menyakiti saya, saya juga akan menyakitinya.” Bahkan terkadang kita berpikir, “Saya akan membalas supaya dia tahu bagaimana rasanya.” Tetapi Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Kejahatan tidak dihentikan dengan menambah kejahatan. Kebencian tidak disembuhkan dengan kebencian. Dendam tidak menghasilkan kehidupan yang baru.

Setelah menjawab pertanyaan Petrus, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar kepada rajanya. Ia tidak mungkin mampu membayar hutang tersebut. Namun raja itu berbelas kasihan dan menghapuskan seluruh hutangnya.

Masalahnya, setelah menerima pengampunan yang begitu besar, hamba tersebut bertemu dengan orang yang berhutang kepadanya. Hutang orang itu jauh lebih kecil, tetapi ia tidak mau mengampuninya. Ia bahkan menuntut agar hutang itu dibayar.

Di sinilah Yesus menunjukkan sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Kita sangat mudah mengingat kesalahan orang lain, tetapi mudah melupakan betapa besar pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan. Kita berharap Tuhan mengerti kelemahan kita, tetapi kita sulit mengerti kelemahan orang lain. Kita meminta Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita, tetapi terkadang kita tidak mau memberikan kesempatan kedua kepada sesama.

Padahal setiap hari kita hidup karena kasih karunia Tuhan. Kita bukan manusia yang sempurna. Kita juga pernah salah, mengecewakan orang lain, berkata-kata yang menyakitkan, mengambil keputusan yang keliru, dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak memperlakukan kita hanya berdasarkan kesalahan kita. Ia memberikan pengampunan dan kesempatan untuk bertobat.

Karena itu, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan seseorang tidak serius. Mengampuni juga tidak berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti. Dalam keadaan tertentu, kita tetap perlu membuat batas, menjaga jarak, bahkan mengambil langkah yang tegas terhadap ketidakadilan. Tetapi di dalam hati, kita tidak lagi membiarkan dendam dan kebencian menguasai kehidupan kita.

Pengampunan adalah keputusan untuk menyerahkan hak membalas kepada Tuhan.Sering kali kita berpikir bahwa ketika kita mengampuni, kita sedang memberikan hadiah kepada orang yang bersalah kepada kita. Padahal pengampunan juga merupakan pembebasan bagi diri kita sendiri. Ketika kita terus memelihara kebencian, kita sebenarnya sedang membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hidup kita. Orang itu mungkin sudah melanjutkan hidupnya, tetapi kita masih terikat pada peristiwa yang sama.

Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tetapi pengampunan dapat mengubah kuasa masa lalu atas hidup kita.Karena itu, mungkin hari ini ada seseorang yang perlu kita ampuni. Mungkin luka itu belum sepenuhnya hilang. Mungkin kita masih merasa sakit ketika mengingat apa yang terjadi. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi kita dapat datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup mengampuni dengan kekuatanku sendiri. Tolong aku melepaskan dendam ini dan menyerahkan semuanya kepada-Mu.”

Pertanyaan Yesus kepada kita bukan hanya, “Siapa yang harus kamu ampuni?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah kamu menyadari betapa besar pengampunan yang telah kamu terima dari Allah?”

Ketika kita menyadari bahwa hidup kita sendiri berdiri di atas pengampunan Tuhan, kita akan belajar memandang kesalahan orang lain dengan belas kasihan. Bukan karena kesalahan itu kecil, tetapi karena kasih karunia Allah jauh lebih besar.

Kiranya kita tidak menjadi seperti hamba dalam perumpamaan Yesus yang menerima pengampunan besar tetapi tidak mau mengampuni. Sebaliknya, karena telah menerima pengampunan Allah, marilah kita menjadi orang yang membawa pengampunan bagi orang lain. Sebab pengampunan Allah menyelamatkan kita dari dosa, dan pengampunan yang kita berikan menolong kita untuk bebas dari kepahitan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1450414
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1450314
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :