Kedewasaan Iman
Berbicara tentang kedewasaan, pastinya tidak bisa dikaitkan dengan umur seseorang. Bisa jadi kita, sebagai orang tua, ternyata kalah dewasa dibanding dengan anak kita. Kedewasaan seseorang tidak ditentukan oleh umur. Kedewasaan ditentukan oleh kematangan mental dan emosional yang akan memengaruhi cara merespon sebuah masalah.
Demikian juga dengan kedewasaan iman, kita tidak bisa melihat dari aktifnya seseorang atau jabatannya di gereja. Hal itu tidak memastikan seseorang mempunyai kedewasaan iman yang baik. Kedewasaan iman juga bukan tentang berapa lama seseorang menjadi orang Kristen, seberapa sering mengikuti kebaktian, atau dalamnya pengetahuan tentang Alkitab. Kedewasaan iman terlihat dari bagaimana seseorang menghidupi imannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu ciri kedewasaan iman itu dapat terlihat dari cara seseorang merespon segala peristiwa yang dihadapi dan dialami dalam kehidupannya.
Bagaimana kita merespon ketika Tuhan menunjukkan kehendak-Nya, misalnya ditinggal orang yang kita cintai, menghadapi kegagalan, atau menyandang penyakit berat yang menggerogoti kita? Ketika kita mengalami hal itu, saat itulah kita kedewasaan iman kita diuji.
Apakah respon kita akan reaktif? Menyalahkan Tuhan dengan memberikan respon berdasarkan emosi atau perasaan yang muncul pada saat itu? Tidak bisa menerima dan marah pada Tuhan? Membenci orang lain yang menyebabkan kegagalan? Atau bahkan meninggalkan Tuhan (untuk sesaat)? Sikap seperti ini sangat manusiawi. Namun, jika kita terus menerus mengambil sikap itu, bisa jadi kita dapat mengambil langkah yang kemudian akan kita sesali. Dalam kehidupan iman, kita dipanggil untuk belajar mengendalikan diri (emosi) kita, ketika menghadapi situasi yang tidak kita sukai. Amsal 14:29 “Orang yang panjang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.”
Ataukah respon kita akan reflektif? Kita memberikan ruang bagi diri kita untuk berhenti sejenak, melihat k embali apa yang terjadi, memahami perasaan kita, dan mencari kehendak Tuhan sebelum mengambil tindakan (mungkin saat itu sambil penuh dengan derai air mata). Saat respon kita reflektif, kita tidak mudah menyalahkan Tuhan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan. Kita belajar bertanya, “Tuhan, apa yang ingin Engkau ajarkan kepadaku melalui keadaan/kejadian ini?”. Ada keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri yang hancur, kecewa, juga sedih. Untuk kemudian membiarkan Tuhan menuntun kita. Mazmur 139:23-24 memberikan gambaran tentang sikap reflektif: “Selidikilah aku, ya Allah, dan selamilah hatiku, ujilah aku dan ketahuilah pikiranpikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
Respon yang berubah, dari reaktif menjadi reflektif, merupakan sebuah kedewasaan iman, walaupun kedewasaan iman itu juga tidak luput dari reaksi emosional. Barangkali kita tetap punya rasa marah, kecewa, sedih, dan tidak terima. Namun, respon setelahnya yang memperlihatkan kita reaktif atau reflektif, saat emosi dan amarah datang dalam diri kita. Yakobus 1:19 “Saudarasaudaraku yang terkasih, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”.
Kedewasaan iman adalah proses pertumbuhan yang kita dapat dari firman Tuhan, khotbah Pendeta dalam kebaktian, renungan, doa, persekutuan yang kita ikuti, dan dari kejadian jatuh bangun kehidupan yang kita hadapi dan alami. Apakah iman kita tidak akan pernah goyah ketika kita sudah mempunyai kedewasaan iman? Bisa saja tetap goyah, tetapi pada saat itu, kita akan berusaha berdiri tegak lagi dan kembali mencari Tuhan. Berhenti sejenak, menyadari, merenungkan, berdoa, kemudian merespon. Ada jeda yang harus kita ambil, agar Roh Kudus mempunyai ruang untuk dapat bekerja dalam diri kita.
Kedewasaan iman merupakan proses dalam diri kita bersama Tuhan. Kedewasaan iman itu bukan memperlihatkan diri kita sudah sempurna, tetapi semakin mengingatkan diri kita yang lemah, mengingatkan untuk terus percaya pada Tuhan, bergantung, bersandar, dan setiap saat membutuhkan Tuhan. Kiranya firman Tuhan yang setia kita dengarkan akan mengubah cara kita merespon kehidupan bersama Tuhan. Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancanganrancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. (NAW)







Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1495205
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :