Kelihatannya Rohani
(dari Kisah Saul sepulang dari peperangannya menumpas Bangsa Amalek – 1 Samuel 15:1-23)
“Apakah Tuhan berkenan pada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada kurban sembelihan, mengindahkan lebih baik daripada lemak domba jantan” (1Sam. 15:22).
Tuhan memerintahkan Saul untuk menumpas Bangsa Amalek tanpa terkecuali (termasuk yang disebutkan secara spesifik: lembu maupun domba, unta maupun keledai). Saul menyatakan bahwa ia paham betul perintah itu, “Aku justru mendengarkan suara Tuhan, maka aku pergi sebagaimana Tuhan mengutus aku. Aku membawa Agag raja Amalek, sedangkan orang Amalek telah kutumpas” (ay. 20). Tentang hewan ternak jarahannya, ia berkata, “… hendak mengurbankannya kepada Tuhan …” (ay. 21).
Apa yang salah dengan Saul? Pelanggaran apa yang telah dilakukannya dengan membawa pulang Agag Raja Amalek? Apakah niatannya untuk mengurbankan kambing domba dan lembu terbaik hasil jarahannya bagi Tuhan itu tidak mulia?
Pertama, Saul ‘mengerdilkan’ perintah Tuhan. Samuel mengatakan bahwa Saul telah menolak firman Tuhan (ay. 23b). Dalam bahasa Aram, kata “menolak” dalam ayat ini memiliki arti memandang rendah. Tuhan tidak hanya mengutusnya pergi, tetapi juga memerintahkannya untuk menumpas Bangsa Amalek.
Kedua, Saul ‘membelokkan’ perintah Tuhan untuk menumpas Bangsa Amalek dengan membawa pulang Agag Raja Amalek. Baginya, seorang raja yang dibawa pulang itu sama nilainya dengan orang-orang Amalek yang telah ditumpas. Saul menyatakan dirinya telah mendengarkan suara Tuhan dengan pergi sebagaimana Tuhan mengutusnya, padahal ia lebih mendengarkan anggapan dan pemahamannya sendiri tentang apa yang harus dilakukannya dalam perang itu. Tujuan pengutusan tersebut justru dimanipulasi.
Ketiga, Saul menganggap dapat me-laundering pelanggarannya dengan melakukan tindakan lain yang kelihatannya rohani, yaitu mempersembahkan hasil jarahannya – yang seharusnya dimusnahkan itu – bagi Tuhan. Saul merasa rugi jika hewan dan ternak yang berharga itu dimusnahkan, sehingga dibawa pulang hidup-hidup. Ketika Samuel menegurnya, ia berdalih bahwa hewan ternak itu akan dikurbankan bagi Tuhan, dan dengan cara itu ia menganggap tindakannya yang salah dapat dibenarkan.
Di zaman ini, banyak peristiwa dan situasi yang menggoda kita untuk menganggap remeh perintah Tuhan. Mulai dari hal-hal kecil yang jika dipupuk akan tumbuh menjadi kebiasaan baru yang – disadari atau tidak – menggeser norma. Misalnya berbohong ‘tipis-tipis’, mengakali-akali anggaran ‘sedikit saja’, korupsi waktu, dan lain-lain.
Kadang kita seperti Saul yang ‘me-rohani-kan’ sesuatu untuk membenarkan tindakan kita yang bertentangan dengan kebenaran, seperti memanipulasi data untuk menyenangkan hati orang lain, mengatasnamakan Tuhan yang Mahamurah dan Penolong padahal dia sendiri malas bekerja, berkata ‘Puji Tuhan’ karena tidak tertangkap polisi saat melanggar lalulintas, memberi persembahan untuk tujuan money laundering, dan sebagainya.
Kita hidup di tengah situasi yang penuh tipu daya, yang dapat dengan mudahnya memanipulasi perintah Tuhan untuk ketamakan dan kecongkakan sendiri. Mengabaikan kehendak Tuhan demi menuai pujian dari banyak orang. Kebenaran seringkali diukur dari apa yang menjadi keyakinan mayoritas, padahal belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan.
Akan lebih mudah membawa ‘anak lembu atau domba jarahan’ untuk “dibakar di atas mezbah” daripada membawa segala pikiran dan kehendak sendiri lalu menaklukkannya kepada Allah. Namun ingatlah, tidak ada yang lebih menyukakan hati Allah daripada ketaatan. (uty)







Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1378209
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :