Ketika Tuhan mengubah luka menjadi berkat
“Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah.” (Kejadian 45:8)
Ada luka yang tidak mudah dilupakan. Ada perkataan yang terus teringat. Ada perlakuan orang lain yang meninggalkan kekecewaan. Bahkan terkadang orang yang paling melukai kita justru adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita.
Hal seperti inilah yang dialami Yusuf ketika dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Mereka iri kepadanya, membencinya, lalu menjualnya sebagai budak. Yusuf mengalami penderitaan yang panjang: jauh dari keluarga, menjadi budak, bahkan harus masuk penjara meskipun ia tidak bersalah.
Secara manusia, Yusuf mempunyai banyak alasan untuk membenci saudara-saudaranya. Namun dalam Kejadian 45, sesuatu yang luar biasa terjadi. Ketika saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk membeli makanan, Yusuf akhirnya menyatakan siapa dirinya. Saudara-saudaranya sangat terkejut dan takut. Mereka mungkin berpikir bahwa Yusuf akan membalas semua kejahatan mereka. Tetapi yang mereka temukan justru adalah pengampunan dan kasih. Pengampunan bukan berarti kita tidak pernah terluka. Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, ia tidak berpura-pura bahwa masa lalu tidak pernah terjadi. Yusuf menangis dengan sangat keras. Tangisnya menunjukkan bahwa apa yang terjadi kepadanya benar-benar meninggalkan luka.
Mengampuni bukan berarti menyangkal bahwa kita pernah disakiti. Kita tidak perlu mengatakan, “Tidak apa-apa,” jika sebenarnya kita terluka. Kita boleh mengakui bahwa kita kecewa. Kita boleh menangis. Kita boleh mengakui bahwa perbuatan orang lain memang salah. Tetapi pengampunan berarti kita tidak membiarkan luka tersebut menguasai kehidupan kita selamanya.
Yusuf tidak membiarkan kejahatan saudara-saudaranya menentukan masa depannya. Ia memilih untuk menyerahkan masa lalu kepada Tuhan. Yusuf melihat tangan Tuhan di balik penderitaannya. Salah satu perkataan Yusuf yang paling luar biasa terdapat dalam ayat 8: “Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah.”
Yusuf tidak mengatakan bahwa tindakan saudara-saudaranya itu benar. Apa yang mereka lakukan tetap merupakan kejahatan. Tetapi Yusuf mampu melihat sesuatu yang lebih besar: Tuhan tetap bekerja melalui keadaan yang buruk.
Saudara-saudaranya mempunyai niat jahat, tetapi Tuhan mempunyai rencana yang jauh lebih besar. Yusuf yang dahulu dijual sebagai budak sekarang menjadi orang yang memiliki kedudukan penting di Mesir. Melalui posisi itu, Tuhan memakai Yusuf untuk menyelamatkan banyak orang dari kelaparan, termasuk keluarganya sendiri.
Hal Ini mengajarkan kepada kita bahwa: Apa yang manusia maksudkan untuk menghancurkan kita, Tuhan dapat pakai untuk menggenapi rencana-Nya.
Jangan biarkan masa lalu menentukan siapa diri kita. Yusuf tidak hidup sebagai korban sepanjang hidupnya. Ia tetap berjalan bersama Tuhan. Ada orang yang terus hidup dalam luka masa lalu sehingga seluruh kehidupannya dikendalikan oleh apa yang pernah dilakukan orang lain kepadanya.
Ketika kita terus menyimpan kepahitan, sebenarnya kita sedang membiarkan orang yang menyakiti kita terus memiliki kendali atas hidup kita. Tetapi ketika kita mengampuni, kita berkata: “Apa yang terjadi memang menyakitkan, tetapi itu tidak akan menentukan masa depanku. Tuhan yang menentukan masa depanku.” Yusuf tidak melupakan masa lalunya, tetapi ia tidak membiarkan masa lalu menguasainya.
Yusuf bukan hanya mengatakan bahwa ia mengampuni. Ia juga mendekati saudara-saudaranya dan memeluk mereka. Ayat 15 mengatakan bahwa Yusuf mencium semua saudaranya dan menangis sambil memeluk mereka. Setelah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia. Betapa indahnya gambaran ini. Hubungan yang dahulu rusak mulai dipulihkan. Pengampunan tidak selalu berarti hubungan akan kembali seperti semula dalam semua keadaan. Tetapi pengampunan membuka pintu bagi pemulihan hati dan rekonsiliasi ketika hal itu memungkinkan dan aman untuk dilakukan. Yusuf memilih untuk tidak membalas. Ia memilih untuk mengasihi.
Hari ini mungkin ada luka yang masih kita bawa. Mungkin ada seseorang yang belum bisa kita ampuni. Mungkin ada pengalaman masa lalu yang masih membuat hati kita sakit. Belajarlah dari Yusuf. Serahkan luka itu kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat menyerahkan masa depan kepada Tuhan.
Jangan biarkan kepahitan menjadi akhir cerita hidup kita. Biarlah kasih karunia Tuhan menjadi akhir ceritanya. (RCT)






Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1413801
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :