Makna Hidup Berkelimpahan

Tafsiran akan “ hidup berkelimpahan “ dapat menjadi ekstrem dan tidak sehat dalam perjalanan Gereja Tuhan. Teologi sukses atau teologi kemakmuran misalnya begitu cepat mengamini dan mengutip ucapan Yesus ini sebagai modal untuk mengklaim hidup yang nyaman, aman, tentram, dan makmur karena kuasa Kristus. Padahal dalam keutuhan berita kitab suci dan karya Kristus, ” hidup berkelimpahan ” yang diucapkan Yesus sebagai janji-Nya terkait dengan perjuangan kasih yang berkorban demi banyak orang. Tindakan Nya sangat bertolak belakang dengan pencarian kesenangan dan kenyamanan diri.

Dalam Yohanes 10:10, ”…Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah.” Kata ”berlimpah” artinya melampaui batas biasa atau lebih dari cukup dan berkelanjutan. Jika kita melihat gaya, cara dan jalan hidup Yesus di dalam Injil, jelas kelimpahan di sini jauh dari sekedar hidup yang panjang umur atau penuh materi, tetapi hidup yang penuh makna, terarah, dan terhubung dengan Allah Tritunggal.

Dalam ikut serta masuk persekutuan Allah Tritunggal itu, ”keberlimpahan” tidak pernah mengarah pada diri sendiri, tetapi menjadi terarah mengikuti kepedulian Allah kepada dunia yang rapuh dan butuh keselamatan. Karya hidup Kristus sebagai Anak Allah adalah karya hidup yang terikat dalam kasih yang berkorban dan tidak ditentukan oleh kondisi eksternal belaka. Kelimpahan dalam Kristus mengarahkan hidup yang mampu menemukan damai di tengah badai hidup, pengharapan di tengah kekecewaan, dan sukacita dalam keterbatasan. Dalam kelimpahan yang demikian, hidup menjadi hidup yang tetap dimampukan menjadi jalan berkat bagi sesama manusia. Kasih Yesus dalam pertolongan Roh Kudus akan menjadi daya kekuatan untuk bertindak melampaui dari apa yang biasanya.

Yesus menyebut diri-Nya sebagai Pintu dan Gembala. Di tengah ragam nilai dan arahan teologis yang berkembang pada zaman-Nya, bahkan sampai saat ini, Yesus mengundang umat untuk mendengarkan suara-Nya. Suara-Nya adalah suara yang menuntun ke padang rumput yang hijau dan air yang tenang, seperti dinyatakan oleh Daud dalam Mazmur 23.

Sebagai Gembala yang baik, Tuhan mengenal domba-domba-Nya satu per satu. Dia sanggup memulihkan jiwa serta hadir bersama umat dalam lembah kekelaman. Dalam persekutuan kasih Ilahi bersama Sang Gembala sejati, hidup akan menemukan rasa aman dan damai yang sejati dalam kesetiaan-Nya. Yesus adalah sumber kelimpahan. Sewaktu menerima relasi yang dianugerahkan Kristus, umat menerima kelimpahan itu dan diundang melanjutkan dalam berbagai lingkup keseharian hidup.

Hidup yang berkelimpahan tidak berhenti pada rasa cukup dan puas secara pribadi. Jemaat mula-mula dalam Kis. 2 : 42-47, menunjukan bahwa kasih Kristus yang hidup dan melimpahi mereka berkuasa menggugah, mendorong, dan membentuk persekutuan yang solider, yang tekun mempelajari makna firman, berdoa, berbagi harta, dan memelihara sukacita bersama.

Karena dan dalam anugerah Allah mereka menjadi komunitas yang menghidupi nilai kesetiaan, keadilan, kesederhanaan dan kasih yang membangun. Mereka mengikuti jejak kasih Kristus Sang Gembala baik, yang berjalan bersama mereka dalam kuasa Roh Kudus.

Sewaktu umat menerima anugerah kasih Kristus dan bersedia melanjutkan kasih itu dalam keseharian hidup, penderitaan dan ketidakadilan niscaya dijumpai, sebab iman memang tidak pernah diuji di ruang nyaman. Namun sewaktu hidup dalam kelimpahan kasih Kristus, mereka sadar bahwa mereka sedang mengikut jejak Sang Gembala yang terluka. Kristus ketika dihina tidak membalas, ketika menderita, Ia menyerahkan diri kepada Allah yang adil (1Ptr 2:23 ). Di balik luka-luka-Nya, ada kesembuhan (1 Ptr. 2:24 ). Dengan demikian, nilai-nilai pengampunan, kerendahan hati, dan keteguhan iman menjadi prinsip bagi orang yang hidup berkelimpahan dalam Kristus.

Jadi hidup berkelimpahan dalam Kristus adalah hidup yang bersedia menjawab undangan untuk menjadi bagian dari komunitas yang saling menopang, berani mengampuni, hidup sederhana tetapi bermakna, dan menghadirkan damai di tengah dunia yang terpecah. Dalam perjalanan hidup yang demikian, Suara Sang Gembala menjadi Suara yang bukan sekadar didengar, tetapi dicermati dan diikuti lewat tindakan nyata. Amin…Tuhan memberkati (ALA)

Renungan Sepekan

KEPEDULIAN SEBAGAI WUJUD CINTA KASIH

Keluaran 12:1–14; Mazmur 149; Roma 13:8–14; Matius 18:15–20

Kita semua memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan kepedulian. Ada orang yang mengungkapkan kasih melalui kata-kata, ada yang lebih suka membantu secara nyata, ada yang memberikan waktu, dan ada pula yang menunjukkan perhatian dengan sekadar hadir dan menemani. Karena itu, terkadang muncul persoalan: seseorang sebenarnya peduli, tetapi kepeduliannya tidak terlihat seperti yang kita harapkan.

Seorang ayah mungkin merasa sudah menunjukkan kasih kepada anaknya dengan bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Namun anaknya mungkin justru berkata, “Saya ingin Papa punya waktu untuk saya.” Sang ayah merasa sudah mengasihi, sementara sang anak merasa kurang dikasihi. Bukan selalu karena tidak ada kasih, melainkan karena cara mengungkapkan kasih berbeda.

Dalam Keluaran 12, kita melihat bagaimana Allah menunjukkan kepedulian-Nya kepada Israel. Allah tidak hanya mengetahui penderitaan umat-Nya, tetapi bertindak untuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Bahkan dalam peristiwa Paskah, Tuhan memberikan petunjuk yang sangat konkret agar umat-Nya mengalami keselamatan. Kasih Allah bukan sekadar perkataan; kasih itu hadir dalam tindakan.

Karena itu, Roma 13:8 mengingatkan, “Hendaklah kamu saling mengasihi.” Bagi Paulus, kasih bukan sekadar perasaan yang ada dalam hati. Kasih harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama. Orang yang mengasihi akan memperhatikan, menolong, menjaga, dan berusaha tidak menyakiti orang lain.

Namun, kasih juga membutuhkan kepekaan untuk memahami orang lain. Gary Chapman melalui gagasan The 5 Love Languages mengingatkan bahwa manusia dapat memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menerima kasih. Ada yang merasa dikasihi ketika diberi waktu, ada yang melalui kata-kata, tindakan pelayanan, pemberian, atau sentuhan. Walaupun konsep ini bukan teori Alkitab, gagasan tersebut menolong kita memahami satu hal sederhana: tidak semua orang mengalami kasih dengan cara yang sama.

Karena itu kita perlu berhati-hati ketika mengatakan, “Dia tidak peduli kepada saya.” Bisa jadi orang tersebut memang tidak peduli. Tetapi bisa juga ia peduli dengan cara yang belum kita pahami.

Di sisi lain, kita juga tidak dapat berkata, “Saya memang peduli dengan cara saya, jadi terimalah.” Kalau kita sungguh mengasihi, kita bersedia belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain.

Prinsip ini terlihat dengan sangat jelas dalam Matius 18. Ketika seorang saudara melakukan kesalahan, Yesus berkata, “Tegorlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak mengajarkan kita untuk membicarakan kesalahan seseorang kepada orang lain, tetapi untuk datang kepadanya. Tujuannya pun bukan untuk mempermalukan atau memenangkan perdebatan, melainkan “mendapatkannya kembali”.

Di sini kita melihat bahwa kepedulian tidak sama dengan membiarkan segala sesuatu. Terkadang kepedulian berarti menolong. Terkadang berarti mendengarkan. Terkadang berarti hadir. Tetapi ada saatnya kepedulian berarti berani menegur—dengan kasih dan dengan tujuan memulihkan.

Stephen Covey pernah menggunakan prinsip, “Seek first to understand, then to be understood.” Carilah dahulu untuk memahami, baru kemudian berusaha dipahami. Prinsip ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat membuat kesimpulan tentang orang lain. Daripada berkata, “Kamu tidak peduli kepada saya,” mungkin lebih baik kita berkata, “Saya sedang membutuhkan perhatianmu.” Daripada menghakimi, kita belajar berbicara. Daripada berasumsi, kita belajar bertanya.

Pada akhirnya, kepedulian membutuhkan dua kerendahan hati. Pertama, kerendahan hati untuk belajar mengasihi orang lain dengan cara yang dapat mereka rasakan. Kedua, kerendahan hati untuk menerima bahwa kasih orang lain mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sebenarnya mengasihi kita, tetapi selama ini kita gagal melihatnya karena bentuk kasihnya berbeda dari yang kita harapkan. Sebaliknya, mungkin ada seseorang di sekitar kita yang selama ini merasa tidak diperhatikan. Barangkali Tuhan mengajak kita belajar menunjukkan kasih dengan cara yang lebih dapat ia rasakan.

Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya hanya peduli dengan cara yang nyaman bagi saya, atau saya mau belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain?

Dan ketika seseorang tidak menunjukkan kepedulian seperti yang kita harapkan, marilah kita tidak terburu-buru menghakimi. Datangilah, berbicaralah, dan belajarlah memahami.

Sebab kepedulian yang sejati bukan hanya tentang kasih yang ada di dalam hati kita, tetapi tentang kasih yang sungguh-sungguh sampai dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Kiranya melalui hidup kita, orang lain bukan hanya mendengar bahwa Kristus mengasihi mereka, tetapi mengalami kasih Kristus melalui kepedulian kita. Amin.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1434036
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1433936
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :