Tetap Bertahan dalam Kasih Tuhan

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” (Yohanes 15:9 )

Dalam perjalanan hidup, tidak setiap hari berjalan seperti yang kita harapkan. Ada masa ketika kita merasa kuat, penuh semangat, dan yakin menghadapi masa depan. Namun, ada juga saat kita merasa lelah, kecewa, terluka, bingung, bahkan ingin menyerah. Sebagai manusia, kita dapat menghadapi berbagai tekanan. Ada persoalan dalam keluarga, pertemanan yang berubah, hubungan yang mengecewakan, tugas dan pekerjaan yang terasa berat, pelayanan yang melelahkan, hingga kekhawatiran tentang masa depan. Kadang kita bertanya, “Apakah Tuhan masih peduli dengan hidupku?” Di tengah semua perubahan itu, ada satu kebenaran yang harus kita pegang: kasih Tuhan tidak pernah berubah. Masalah boleh datang, keadaan boleh berubah, orang lain dapat mengecewakan kita, tetapi yakinlah bahwa kasih Tuhan tidak pernah berubah. Artinya, ketika hidup terasa berat, jangan menjauh dari Tuhan. Justru kita perlu semakin mendekat kepada-Nya. Kekuatan kita untuk bertahan bukan berasal dari kemampuan diri sendiri, tetapi dari kasih Tuhan yang terus menopang kehidupan kita. Lalu, bagaimana kita dapat tetap bertahan dalam kasih Tuhan?

  1. TETAP MELEKAT KEPADA TUHAN. Yesus berkata, “Tinggallah di dalam kasih-Ku.” Ini adalah undangan untuk terus hidup dekat dengan Tuhan. Sebuah pohon tidak dapat bertumbuh dengan baik, tanpa akar yang kuat. Demikian juga kehidupan rohani kita. Kita tidak akan memiliki kekuatan untuk menghadapi kehidupan jika kita menjauh dari sumber kekuatan kita, yaitu Tuhan.
    Sering kali seseorang baru sungguh-sungguh mencari Tuhan ketika masalah datang. Ketika semuanya berjalan baik, doa mulai berkurang, firman Tuhan jarang dibaca, dan hubungan dengan Tuhan menjadi sekadar rutinitas. Padahal kita tidak hanya membutuhkan Tuhan saat sedang mengalami masalah. Kita membutuhkan Tuhan dalam setiap musim kehidupan. Oleh karena itu, tetaplah berdoa dan berbicara dengan Tuhan, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, setialah beribadah, bertumbuh dalam persekutuan yang membangun, dan melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan hidup. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita memahami kasih-Nya. Semakin kita melekat kepada Tuhan, semakin kita memiliki kekuatan untuk menghadapi perubahan dan tantangan hidup. Bertahan dimulai dengan tetap melekat kepada Tuhan.
  2. JANGAN MENYERAH KETIKA MENGHADAPI MASALAH. Mengikut Tuhan bukan berarti hidup kita tidak akan pernah menghadapi masalah. Ada kalanya kita sudah berdoa, tetapi masalah belum selesai. Kita sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Kita mungkin mengalami kekecewaan, kegagalan, atau kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Namun, ketika ada masalah bukan berarti Tuhan meninggalkan kita. Ketika kita berada pada masa sulit, bukan karena Tuhan tidak mengasihi kita, tetapi karena dalam setiap proses kehidupan, Tuhan sedang membentuk iman dan karakter kita. Roma 8:38–39 mengingatkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus. Artinya, kesulitan hidup, tidak akan mampu menghentikan kasih Tuhan kepada kita. Ketika keadaan berkata, “Menyerahlah,” iman kita dapat berkata: “Aku mungkin belum mengerti, tetapi aku tetap percaya kepada Tuhan.” Bertahan berarti kita tetap memegang Tuhan, sekalipun hati kita sedang terluka dan air mata masih mengalir.
  3. TERUS HIDUP DALAM KASIH DAN MELAKUKAN YANG BAIK. Salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan adalah ketika kita terluka oleh orang lain. Kita mungkin pernah dikecewakan, disalahpahami, tidak dihargai, atau diperlakukan dengan tidak baik. Luka-luka tersebut dapat membuat hati kita menjadi pahit. Namun kita tidak dapat mengendalikan semua tindakan orang lain, yang dapat kita pilih adalah bagaimana kita meresponnya. Oleh karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita, kita juga dipanggil untuk belajar mengampuni. Pengampunan bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan orang lain adalah sesuatu yang benar. Pengampunan juga bukan berarti luka itu tidak pernah terjadi. Namun, pengampunan adalah keputusan untuk tidak terus membiarkan kepahitan menguasai hati kita. Jangan biarkan kesalahan orang lain membuat kita kehilangan sukacita, berhenti mengasihi, atau bahkan menjauh dari Tuhan. Selain itu, jangan berhenti melakukan yang baik. Galatia 6:9 berkata: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai.” Mungkin kita pernah merasa bahwa kebaikan kita tidak dihargai, Pelayanan kita tidak diperhatikan. Namun ingatlah bahwa Tuhan melihat semuanya. Jangan berhenti menjadi orang baik hanya karena kita pernah diperlakukan tidak baik.
  4. KASIH TUHAN LEBIH BESAR DARIPADA KEADAAN. Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan adalah mengukur kasih Tuhan berdasarkan keadaan yang sedang kita alami. Ketika semuanya berjalan baik, kita berkata, “Tuhan sangat mengasihiku.”
    Namun ketika masalah datang, kita mulai berpikir bahwa Tuhan mungkin sudah tidak peduli. Padahal kasih Tuhan tidak berubah mengikuti keadaan. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, hidup ini tidak selalu mudah. Ada perjalanan yang panjang, ada masa penuh pertanyaan, ada air mata, kekecewaan, kegagalan, dan berbagai pergumulan. Rencana yang sudah kita susun dapat berjalan tidak sesuai dengan harapan, tetapi kasih Tuhan membuat kita dapat bertahan. Kita tidak perlu menghadapi semuanya dengan kekuatan sendiri. Kekuatan kita untuk bertahan bukan berasal kemampuan kita sendiri, tetapi dari kasih Tuhan yang terus menopang kehidupan kita. Yesus berkata “Tinggallah di dalam kasih -Ku itu.” Tuhan lebih memilih untuk memperhatikan dan mempedulikan hati dan karakter kita daripada zona nyaman dan aman dalam kehidupan kita. Tujuannya adalah agar kita memiliki hati bersih dan murni yang terekspresi melalui karakter yang baik dan benar sekalipun dalam badai kehidupan. Setiap berkat yang Tuhan berikan kepada kita, baik itu kekayaan, kekuasaan, atau jabatan bisa menjadi sesuatu yang berpotensi merusak hidup kita dan menjauhkan kita dari Tuhan, jikalau hati kita tidak murni dan karakter kita belum matang. Untuk melahirkan karakter Kristen yang kuat, diperlukan sebuah proses penyiapan hati yang berpegang pada kebenaran firman. Tuhan ingin kita terus berproses menjadi lebih baik dan semakin baik. Dengan begitu, kita tetap rendah hati, bersyukur, dan tidak menjadi sombong dalam setiap musim kehidupan.

Kita perlu menyadari bahwa Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak dalam kehidupan kita, tetapi hati dan karakter kita. Seperti emas dan perak yang dimurnikan melalui api, hati kita pun dapat Tuhan uji melalui berbagai keadaan kehidupan untuk menyatakan, membersihkan, dan membentuk apa yang ada di dalam diri kita. Karena itu, ketika kita mengalami kelimpahan, pujian, tanggung jawab, kesulitan, maupun pengalaman yang tidak kita harapkan, kita perlu memeriksa hati kita: apakah kita tetap rendah hati, bersyukur, setia, dan berpegang pada kebenaran Tuhan?

Ujian yang Tuhan izinkan bukan semata-mata untuk membuat kita menderita, melainkan dapat menjadi proses pembentukan agar hati dan karakter kita semakin matang. Oleh sebab itu, marilah kita membuka hati di hadapan Tuhan dan seperti pemazmur, meminta Dia menyelidiki serta menguji batin kita, supaya kita terus hidup dalam kasih setia dan kebenaran-Nya. Kita mungkin dapat menyembunyikan keadaan hati kita dari manusia, tetapi tidak ada satu pun yang tersembunyi dari Tuhan. Karena itu, biarlah setiap keadaan yang kita hadapi menjadi kesempatan untuk belajar memiliki hati yang murni, rendah hati, dan karakter yang semakin serupa dengan kehendak-Nya.

Bapak, ibu dan saudara terkasih, ingatlah bahwa TUHAN mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar hanya kepada pribadi yang hati dan karakternya sudah terbentuk. Apakah hati dan karakter kita siap dibentuk Tuhan ? Mazmur 26:2-3 (TB) “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.” (MNH)

Renungan Sepekan

KEPEDULIAN SEBAGAI WUJUD CINTA KASIH

Keluaran 12:1–14; Mazmur 149; Roma 13:8–14; Matius 18:15–20

Kita semua memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan kepedulian. Ada orang yang mengungkapkan kasih melalui kata-kata, ada yang lebih suka membantu secara nyata, ada yang memberikan waktu, dan ada pula yang menunjukkan perhatian dengan sekadar hadir dan menemani. Karena itu, terkadang muncul persoalan: seseorang sebenarnya peduli, tetapi kepeduliannya tidak terlihat seperti yang kita harapkan.

Seorang ayah mungkin merasa sudah menunjukkan kasih kepada anaknya dengan bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Namun anaknya mungkin justru berkata, “Saya ingin Papa punya waktu untuk saya.” Sang ayah merasa sudah mengasihi, sementara sang anak merasa kurang dikasihi. Bukan selalu karena tidak ada kasih, melainkan karena cara mengungkapkan kasih berbeda.

Dalam Keluaran 12, kita melihat bagaimana Allah menunjukkan kepedulian-Nya kepada Israel. Allah tidak hanya mengetahui penderitaan umat-Nya, tetapi bertindak untuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Bahkan dalam peristiwa Paskah, Tuhan memberikan petunjuk yang sangat konkret agar umat-Nya mengalami keselamatan. Kasih Allah bukan sekadar perkataan; kasih itu hadir dalam tindakan.

Karena itu, Roma 13:8 mengingatkan, “Hendaklah kamu saling mengasihi.” Bagi Paulus, kasih bukan sekadar perasaan yang ada dalam hati. Kasih harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama. Orang yang mengasihi akan memperhatikan, menolong, menjaga, dan berusaha tidak menyakiti orang lain.

Namun, kasih juga membutuhkan kepekaan untuk memahami orang lain. Gary Chapman melalui gagasan The 5 Love Languages mengingatkan bahwa manusia dapat memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menerima kasih. Ada yang merasa dikasihi ketika diberi waktu, ada yang melalui kata-kata, tindakan pelayanan, pemberian, atau sentuhan. Walaupun konsep ini bukan teori Alkitab, gagasan tersebut menolong kita memahami satu hal sederhana: tidak semua orang mengalami kasih dengan cara yang sama.

Karena itu kita perlu berhati-hati ketika mengatakan, “Dia tidak peduli kepada saya.” Bisa jadi orang tersebut memang tidak peduli. Tetapi bisa juga ia peduli dengan cara yang belum kita pahami.

Di sisi lain, kita juga tidak dapat berkata, “Saya memang peduli dengan cara saya, jadi terimalah.” Kalau kita sungguh mengasihi, kita bersedia belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain.

Prinsip ini terlihat dengan sangat jelas dalam Matius 18. Ketika seorang saudara melakukan kesalahan, Yesus berkata, “Tegorlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak mengajarkan kita untuk membicarakan kesalahan seseorang kepada orang lain, tetapi untuk datang kepadanya. Tujuannya pun bukan untuk mempermalukan atau memenangkan perdebatan, melainkan “mendapatkannya kembali”.

Di sini kita melihat bahwa kepedulian tidak sama dengan membiarkan segala sesuatu. Terkadang kepedulian berarti menolong. Terkadang berarti mendengarkan. Terkadang berarti hadir. Tetapi ada saatnya kepedulian berarti berani menegur—dengan kasih dan dengan tujuan memulihkan.

Stephen Covey pernah menggunakan prinsip, “Seek first to understand, then to be understood.” Carilah dahulu untuk memahami, baru kemudian berusaha dipahami. Prinsip ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat membuat kesimpulan tentang orang lain. Daripada berkata, “Kamu tidak peduli kepada saya,” mungkin lebih baik kita berkata, “Saya sedang membutuhkan perhatianmu.” Daripada menghakimi, kita belajar berbicara. Daripada berasumsi, kita belajar bertanya.

Pada akhirnya, kepedulian membutuhkan dua kerendahan hati. Pertama, kerendahan hati untuk belajar mengasihi orang lain dengan cara yang dapat mereka rasakan. Kedua, kerendahan hati untuk menerima bahwa kasih orang lain mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sebenarnya mengasihi kita, tetapi selama ini kita gagal melihatnya karena bentuk kasihnya berbeda dari yang kita harapkan. Sebaliknya, mungkin ada seseorang di sekitar kita yang selama ini merasa tidak diperhatikan. Barangkali Tuhan mengajak kita belajar menunjukkan kasih dengan cara yang lebih dapat ia rasakan.

Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya hanya peduli dengan cara yang nyaman bagi saya, atau saya mau belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain?

Dan ketika seseorang tidak menunjukkan kepedulian seperti yang kita harapkan, marilah kita tidak terburu-buru menghakimi. Datangilah, berbicaralah, dan belajarlah memahami.

Sebab kepedulian yang sejati bukan hanya tentang kasih yang ada di dalam hati kita, tetapi tentang kasih yang sungguh-sungguh sampai dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Kiranya melalui hidup kita, orang lain bukan hanya mendengar bahwa Kristus mengasihi mereka, tetapi mengalami kasih Kristus melalui kepedulian kita. Amin.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1434035
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1433935
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :