Kuat itu Rapuh, Dalam itu Tangguh

“Akulah pokok anggur dan kamulah carang-carangnya. Siapa yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak…” (Yohanes 15:5)

Kita hidup di zaman ketika dunia bergerak dengan kecepatan yang belum pernah dikenal manusia sebelumnya. Artificial Intelligence menjadi salah satu fenomena terbesar abad ini. Mesin semakin mampu belajar, menganalisis, dan menghasilkan solusi dalam waktu yang menakjubkan. Namun di balik kemajuan itu, manusia berhadapan dengan realitas yang semakin kompleks: uncertainty semakin tinggi, ambiguity semakin luas. Dunia terasa semakin terbalik. Informasi semakin banyak, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Pilihan semakin luas, tetapi arah semakin kabur. Semua orang semakin terkoneksi, tetapi banyak hati semakin kehilangan ketenangan.

Dekade lalu, pertanyaan terbesarnya adalah “Seberapa cepat teknologi akan berkembang?” Tetapi kini pertanyaan yang relevan adalah “Manusia seperti apa yang mampu tetap utuh ketika segala sesuatu berubah sedemikian cepatnya?” Karena ternyata manusia tidak runtuh hanya karena badai yang datang dari luar. Banyak kali manusia runtuh karena tidak memiliki kedalaman batin. Kita diajarkan untuk menjadi kuat. Lebih kompetitif. Lebih cepat. Lebih tahan tekanan. Ada satu kebenaran yang sering terlupakan: Kekuatan fisik tanpa kedalaman batin akan mudah patah. Inilah mengapa manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kemampuan bertahan.

Manusia membutuhkan Adaptive Intelligence. Esensi istilah ini bukanlah kemampuan untuk mengikuti semua perubahan. Bukan juga kemampuan untuk menyesuaikan diri sampai kehilangan jati diri. Adaptive Intelligence adalah kemampuan untuk berubah tanpa kehilangan akar, bergerak tanpa kehilangan arah, dan bertumbuh tanpa kehilangan siapa diri kita di hadapan Tuhan. Di dalamnya terdapat dua kapasitas yang saling menguatkan yaitu Cognitive Agility dan Spiritualitas yang hidup.

Cognitive Agility adalah keberanian untuk memperbarui cara melihat kehidupan. Sering kali masalah terbesar manusia bukan apa yang terjadi, tetapi cara pandang lama dalam memahami apa yang terjadi. Pikiran yang kaku membawa cara pandang masa lalu untuk menghakimi masa depan. Ia melihat perubahan sebagai ancaman, ketidakpastian sebagai musuh, dan pergumulan sebagai akhir perjalanan. Namun pikiran yang diperbarui melihat dengan cara yang berbeda. Pikiran yang lentur membutuhkan jiwa yang berakar. Sebab tanpa akar, kemampuan beradaptasi hanya menjadi kemampuan mengikuti arus.

Spiritualitas Yang Matang. Spiritualitas ini tidak membuat manusia menjauh dari dunia, tetapi membuat manusia mampu hadir lebih utuh di dalam dunia. Seperti ranting yang tetap hidup karena melekat pada pokok anggur, manusia menemukan kekuatan bukan karena mampu mengendalikan semua keadaan, tetapi karena tetap terhubung dengan sumber kehidupan.

Di tengah dunia penuh noise dan samar akan voice, kekuatan yang semakin langka hari ini adalah kemampuan untuk tetap tenang tanpa menjadi dingin, tetap lembut tanpa menjadi lemah, dan tetap bertahan tanpa kehilangan harapan.

Inilah ketangguhan batin. Bukan hati yang keras, tetapi hati yang dalam. Bukan manusia yang tidak pernah terluka, tetapi manusia yang membiarkan Tuhan membentuk luka menjadi kebijaksanaan. Kerajaan Allah bukan soal di mana kita berada, tetapi siapa yang tinggal di dalam kita. Ketika manusia melekat kepada Tuhan, seperti carang kepada pokok anggur (Yohanes 15:5), kehidupan mulai menghasilkan buah. Di situlah Kerajaan Allah hadir: bukan hanya dalam ibadah, tetapi dalam cara kita mengasihi, memilih, bekerja, dan merespons dunia.

Pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan manusia yang kuat. Dunia membutuhkan manusia yang dalam. Karena kekuatan membantu kita melewati tekanan, tetapi kedalaman membantu kita tetap menjadi manusia di tengah tekanan. Kedalaman membuat kita mampu melihat lebih jernih, merespons lebih bijaksana, dan tetap memiliki harapan ketika keadaan belum berubah. Kuat itu rapuh. Dalam itu tangguh. AMIN. (SAR)

Renungan Sepekan

KERJAKAN KESELAMATANMU

Keluaran 17:1–7; Mazmur 78:1–4, 12–16; Filipi 2:1–13; Matius 21:23–32

Kita sering berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan. Kita juga percaya bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita melalui Kristus. Namun, apakah keselamatan itu berhenti pada apa yang kita percaya? Bacaan-bacaan kita hari ini mengajak kita melihat bahwa keselamatan yang Allah kerjakan perlu dihidupi dalam perjalanan kehidupan kita.

Dalam Keluaran 17, bangsa Israel telah mengalami pembebasan Tuhan dari Mesir. Namun, perjalanan mereka belum selesai. Di Rafidim mereka menghadapi persoalan karena tidak ada air. Mereka kemudian mempertanyakan kehadiran Tuhan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Mereka sudah mengalami pertolongan Tuhan, tetapi dalam persoalan baru mereka kembali mengalami keraguan. Tuhan tetap hadir dan menyediakan air bagi mereka. Kisah ini mengingatkan kita bahwa menjadi umat yang telah mengalami karya keselamatan Tuhan tidak berarti perjalanan hidup selalu mudah. Kita tetap belajar percaya dan bergantung kepada Tuhan dalam setiap keadaan.

Mazmur 78 kemudian mengajak umat untuk mengingat dan menceritakan karya Tuhan kepada generasi berikutnya. Pengalaman tentang kesetiaan Tuhan tidak boleh berhenti pada satu generasi. Apa yang telah Tuhan lakukan perlu diingat, diceritakan, dan menjadi dasar bagi kehidupan umat pada masa kini. Keselamatan yang kita ingat seharusnya memengaruhi cara kita menjalani kehidupan.

Hal ini semakin jelas dalam surat Paulus kepada jemaat Filipi. Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Perkataan ini bukan berarti kita harus berusaha mendapatkan keselamatan dengan kekuatan dan perbuatan kita sendiri. Paulus langsung menegaskan bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan. Karena itu, mengerjakan keselamatan berarti menghidupi keselamatan yang telah Allah kerjakan. Keselamatan itu terlihat ketika kita hidup dalam kasih, tidak mementingkan diri sendiri, memperhatikan kepentingan orang lain, dan memiliki kerendahan hati seperti Kristus.

Hal yang sama terlihat dalam perumpamaan Yesus tentang dua anak dalam Matius 21. Anak pertama berkata “ya” kepada ayahnya, tetapi tidak pergi. Anak kedua berkata “tidak”, tetapi kemudian menyesal dan pergi melakukan kehendak ayahnya. Yesus menunjukkan bahwa melakukan kehendak Allah tidak cukup hanya dengan perkataan. Iman dan pertobatan harus terlihat dalam tindakan.

Keempat bacaan ini membawa kita kepada satu pertanyaan sederhana: Apakah keselamatan yang Allah kerjakan di dalam diri kita sudah terlihat dalam kehidupan kita? Bukan hanya dalam perkataan kita, tetapi dalam cara kita memperlakukan keluarga, sesama, gereja, dan orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Maka, mengerjakan keselamatan berarti terus berjalan bersama Tuhan, mengingat dan menceritakan karya-Nya, membiarkan Kristus membentuk karakter kita, serta melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak mengerjakan keselamatan supaya diselamatkan. Kita mengerjakannya karena kita telah diselamatkan dan Allah sedang terus bekerja di dalam kita.

Kiranya kehidupan kita bukan hanya berkata, “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi juga menunjukkan melalui tindakan: “Saya hidup sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan.”

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan informasi tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1481791
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1481691
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :