Melepaskan Luka, Membebaskan Hati

Pernahkah kita terluka oleh perkataan atau tindakan seseorang? Mungkin pasangan mengecewakan, saudara menyakiti, teman mengkhianati, rekan kerja mempermalukan, atau seseorang yang tidak pernah meminta maaf. Luka itu mungkin terjadi bertahun-tahun lalu, tetapi setiap namanya disebut, hati kembali panas. Peristiwanya telah berlalu, namun tanpa sadar kita masih membawanya ke mana-mana.

Kemarahan adalah respons manusiawi ketika kita diperlakukan tidak adil. Namun jika dipelihara, kemarahan dapat berubah menjadi kebencian dan dendam. Kita terus mengulang kejadian itu dalam pikiran dan berharap pelakunya menerima akibatnya. Ironisnya, sementara orang tersebut mungkin hidup tenang seperti biasa, justru kita yang terus tersiksa. Dendam ibarat menggenggam bara api, agar orang lain terbakar, padahal tangan kita sendiri yang lebih dahulu terus terluka.

Dalam Matius 18:21-22 tertulis: Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh”
Dalam hal ini, Yesus mengajarkan bahwa pengampunan harus menjadi sikap hidup orang yang telah mengalami kasih dan pengampunan Allah.

Pada ayat selanjutnya kita bisa membaca perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni, memperlihatkan sebuah ironi. Ia telah dibebaskan dari utang yang sangat besar, tetapi kemudian menolak mengampuni sesamanya yang berutang jauh lebih kecil. Pesannya tajam: kita mampu mengampuni bukan karena kesalahan orang lain kecil, tetapi karena kita sendiri telah menerima pengampunan yang jauh lebih besar dari Allah. Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa perbuatan yang salah menjadi benar.

Mengampuni juga bukan berarti kita harus kembali mempercayai orang yang berulang kali menyakiti kita tanpa perubahan. Batas yang sehat tetap diperlukan. Pengampunan berarti kita memutuskan untuk tidak lagi membiarkan kesalahan orang lain menguasai hati dan menentukan hidup kita. Kita menyerahkan hak untuk membalas kepada Allah.

Roma 14:10 mengingatkan, “Namun engkau, mengapa engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapa engkau menghina saudaramu? Sebab, kita semua harus menghadap tahta pengadilan Allah”. Selanjutanya ayat 12 menegaskan bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah. Kita tidak dipanggil menjadi hakim terakhir bagi sesama. Ada perkara yang harus kita serahkan kepada Tuhan agar hati kita dapat kembali bebas.

Bayangkan dua saudara yang bertahun-tahun tidak berbicara karena persoalan warisan. Setiap pertemuan keluarga menjadi canggung. Anak-anak mereka ikut menjaga jarak, bahkan tanpa memahami masalah sebenarnya. Suatu hari salah seorang berkata, “Aku masih terluka, tetapi aku tidak mau luka ini diwariskan kepada anak-anak kita.” Persoalan mungkin belum selesai seluruhnya, tetapi ketika pintu pengampunan dibuka, pintu pemulihan mulai terbuka juga.

Karena itu, pengampunan pertama-tama bukan hadiah bagi orang yang menyakiti kita. Pengampunan adalah jalan yang Tuhan sediakan agar kita sendiri tidak terus menjadi tawanan masa lalu. Kita mungkin tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, tetapi bersama Tuhan kita dapat menentukan apakah luka itu akan terus menguasai masa depan kita.

Adakah nama seseorang yang sampai hari ini masih membuat hati kita penuh kemarahan? Kita mungkin belum mampu berkata, “Aku sudah tidak terluka.” Tetapi kita dapat membawanya dalam doa: “Tuhan, aku tidak mau lagi dikuasai luka ini. Tolong aku belajar mengampuni.” Sebab ketika kita mengampuni, kita sedang membuka tangan yang selama ini menggenggam luka dan tangan yang terbuka itulah yang dapat menerima pemulihan dari Tuhan. (KTA)

Renungan Sepekan

KEPEDULIAN SEBAGAI WUJUD CINTA KASIH

Keluaran 12:1–14; Mazmur 149; Roma 13:8–14; Matius 18:15–20

Kita semua memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan kepedulian. Ada orang yang mengungkapkan kasih melalui kata-kata, ada yang lebih suka membantu secara nyata, ada yang memberikan waktu, dan ada pula yang menunjukkan perhatian dengan sekadar hadir dan menemani. Karena itu, terkadang muncul persoalan: seseorang sebenarnya peduli, tetapi kepeduliannya tidak terlihat seperti yang kita harapkan.

Seorang ayah mungkin merasa sudah menunjukkan kasih kepada anaknya dengan bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Namun anaknya mungkin justru berkata, “Saya ingin Papa punya waktu untuk saya.” Sang ayah merasa sudah mengasihi, sementara sang anak merasa kurang dikasihi. Bukan selalu karena tidak ada kasih, melainkan karena cara mengungkapkan kasih berbeda.

Dalam Keluaran 12, kita melihat bagaimana Allah menunjukkan kepedulian-Nya kepada Israel. Allah tidak hanya mengetahui penderitaan umat-Nya, tetapi bertindak untuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Bahkan dalam peristiwa Paskah, Tuhan memberikan petunjuk yang sangat konkret agar umat-Nya mengalami keselamatan. Kasih Allah bukan sekadar perkataan; kasih itu hadir dalam tindakan.

Karena itu, Roma 13:8 mengingatkan, “Hendaklah kamu saling mengasihi.” Bagi Paulus, kasih bukan sekadar perasaan yang ada dalam hati. Kasih harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama. Orang yang mengasihi akan memperhatikan, menolong, menjaga, dan berusaha tidak menyakiti orang lain.

Namun, kasih juga membutuhkan kepekaan untuk memahami orang lain. Gary Chapman melalui gagasan The 5 Love Languages mengingatkan bahwa manusia dapat memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menerima kasih. Ada yang merasa dikasihi ketika diberi waktu, ada yang melalui kata-kata, tindakan pelayanan, pemberian, atau sentuhan. Walaupun konsep ini bukan teori Alkitab, gagasan tersebut menolong kita memahami satu hal sederhana: tidak semua orang mengalami kasih dengan cara yang sama.

Karena itu kita perlu berhati-hati ketika mengatakan, “Dia tidak peduli kepada saya.” Bisa jadi orang tersebut memang tidak peduli. Tetapi bisa juga ia peduli dengan cara yang belum kita pahami.

Di sisi lain, kita juga tidak dapat berkata, “Saya memang peduli dengan cara saya, jadi terimalah.” Kalau kita sungguh mengasihi, kita bersedia belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain.

Prinsip ini terlihat dengan sangat jelas dalam Matius 18. Ketika seorang saudara melakukan kesalahan, Yesus berkata, “Tegorlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak mengajarkan kita untuk membicarakan kesalahan seseorang kepada orang lain, tetapi untuk datang kepadanya. Tujuannya pun bukan untuk mempermalukan atau memenangkan perdebatan, melainkan “mendapatkannya kembali”.

Di sini kita melihat bahwa kepedulian tidak sama dengan membiarkan segala sesuatu. Terkadang kepedulian berarti menolong. Terkadang berarti mendengarkan. Terkadang berarti hadir. Tetapi ada saatnya kepedulian berarti berani menegur—dengan kasih dan dengan tujuan memulihkan.

Stephen Covey pernah menggunakan prinsip, “Seek first to understand, then to be understood.” Carilah dahulu untuk memahami, baru kemudian berusaha dipahami. Prinsip ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat membuat kesimpulan tentang orang lain. Daripada berkata, “Kamu tidak peduli kepada saya,” mungkin lebih baik kita berkata, “Saya sedang membutuhkan perhatianmu.” Daripada menghakimi, kita belajar berbicara. Daripada berasumsi, kita belajar bertanya.

Pada akhirnya, kepedulian membutuhkan dua kerendahan hati. Pertama, kerendahan hati untuk belajar mengasihi orang lain dengan cara yang dapat mereka rasakan. Kedua, kerendahan hati untuk menerima bahwa kasih orang lain mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sebenarnya mengasihi kita, tetapi selama ini kita gagal melihatnya karena bentuk kasihnya berbeda dari yang kita harapkan. Sebaliknya, mungkin ada seseorang di sekitar kita yang selama ini merasa tidak diperhatikan. Barangkali Tuhan mengajak kita belajar menunjukkan kasih dengan cara yang lebih dapat ia rasakan.

Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya hanya peduli dengan cara yang nyaman bagi saya, atau saya mau belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain?

Dan ketika seseorang tidak menunjukkan kepedulian seperti yang kita harapkan, marilah kita tidak terburu-buru menghakimi. Datangilah, berbicaralah, dan belajarlah memahami.

Sebab kepedulian yang sejati bukan hanya tentang kasih yang ada di dalam hati kita, tetapi tentang kasih yang sungguh-sungguh sampai dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Kiranya melalui hidup kita, orang lain bukan hanya mendengar bahwa Kristus mengasihi mereka, tetapi mengalami kasih Kristus melalui kepedulian kita. Amin.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1434032
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1433932
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :