Melayani dengan Kesungguhan Hati

Melayani Tuhan adalah sebuah panggilan, namun menjadi berbahaya jika tidak dijalani dengan hati yang benar. Berbahaya bukan karena pelayanannya itu sendiri, melainkan karena kecenderungan manusia di dalamnya. Salah satu godaan terbesar dalam pelayanan adalah ketika tanpa sadar kita mulai mencuri kemuliaan Tuhan. Kita melayani, bekerja, berkorban, bahkan berprestasi dalam pelayanan, namun di kedalaman hati, kita berharap nama kitalah yang diingat, dipuji, dan dihargai.

Sering kali keberhasilan pelayanan membuat kita gelisah jika tidak diakui. Kita mulai bertanya, “Mengapa namaku tidak disebut?” atau “Kenapa jerih payahku seolah tidak terlihat?” Pada titik inilah pelayanan bergeser dari altar penyembahan menjadi panggung pembuktian diri. Kita lupa bahwa pelayanan sejatinya bukan tentang siapa yang terlihat, melainkan siapa yang dimuliakan. Ketika kita tidak rela jika Tuhan saja yang mendapat kemuliaan, sesungguhnya kita sedang mencuri apa yang bukan milik kita.

Padahal, melayani Tuhan pada hakikatnya adalah bentuk ketundukan. Kita melayani bukan karena Tuhan membutuhkan kita, melainkan karena kita tunduk kepada Dia yang adalah Pemilik hidup kita. Allah adalah Pencipta langit dan bumi, Pemilik segala sesuatu, termasuk talenta, kesempatan, dan keberhasilan yang kita nikmati. Jika demikian, apa yang sebenarnya bisa kita banggakan? Bukankah segala yang kita kerjakan hanyalah respons ketaatan dari apa yang telah lebih dahulu Tuhan percayakan kepada kita?

Hakikat pelayanan adalah ketundukan. Kita melayani bukan karena Tuhan membutuhkan kita, melainkan karena kita tunduk kepada Dia yang memiliki hidup kita. Rasul Paulus berkata, Sebab segala sesuatu Adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemulian sampai selalma-lamanya! Amin. (Rm. 11:36).

Pelayanan yang sejati tidak pernah lahir dari keinginan untuk diakui, melainkan dari kerelaan untuk taat. Menyadari siapa Tuhan dan siapa diri kita, maka orientasi pelayanan pun akan berubah. Kita tidak lagi sibuk mengumpulkan pujian, tetapi rindu menyenangkan hati Tuhan. Kita tidak lagi resah ketika tidak terlihat, sebab kita tahu Tuhan melihat. Ketika pujian manusia meredup, kepuasan karena berkenan di hadapan Tuhan justru semakin nyata.

Kesungguhan hati dalam pelayanan juga tercermin dari cara kita mempersiapkan diri. Melayani Tuhan tidak pernah dimaksudkan untuk dilakukan dengan gampangan, asal jadi, atau sekadar rutinitas. Justru karena kita melayani Tuhan – bukan manusia – maka seharusnya pelayanan dilakukan dengan standar yang lebih tinggi, bukan lebih rendah. Sayangnya, tidak jarang kita bersikap seolah-olah Tuhan dapat menerima apa saja: persiapan seadanya, doa yang sekadarnya, komitmen yang longgar, dan disiplin yang setengahsetengah. Persiapan yang matang, komitmen yang setia, dan kerendahan hati yang konsisten adalah wujud nyata bahwa kita sungguh mengerjakannya bagi Tuhan. Bukan untuk dilihat, bukan untuk dipuji, bukan untuk dibenarkan, tetapi untuk memuliakan Dia semata.

Jika kita benar-benar takut akan Tuhan, rasa hormat itu akan nyata dalam keseriusan kita melayani. Kita akan mempersiapkan diri dengan sungguh, mengolah talenta dengan maksimal, dan datang melayani bukan dengan sisa tenaga, tetapi dengan hati yang utuh. Ketika seseorang berkata bahwa ia mengerjakan sesuatu “untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”, seharusnya kalimat itu mendorongnya pada kualitas yang terbaik, bukan sebaliknya. Tuhan layak menerima yang terbaik, bukan yang tersisa.

Ketika pelayanan kita tidak dihargai, tetaplah setia, sebab kita tahu kepada siapa kita melayani. Melayani Tuhan dengan kesungguhan hati adalah perjalanan seumur hidup untuk terus mematikan ego, menundukkan diri, dan mengingat satu kebenaran penting: kita bukan pusat pelayanan, Tuhanlah pusatnya. (PSG)

Renungan Sepekan

KERJAKAN KESELAMATANMU

Keluaran 17:1–7; Mazmur 78:1–4, 12–16; Filipi 2:1–13; Matius 21:23–32

Kita sering berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan. Kita juga percaya bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita melalui Kristus. Namun, apakah keselamatan itu berhenti pada apa yang kita percaya? Bacaan-bacaan kita hari ini mengajak kita melihat bahwa keselamatan yang Allah kerjakan perlu dihidupi dalam perjalanan kehidupan kita.

Dalam Keluaran 17, bangsa Israel telah mengalami pembebasan Tuhan dari Mesir. Namun, perjalanan mereka belum selesai. Di Rafidim mereka menghadapi persoalan karena tidak ada air. Mereka kemudian mempertanyakan kehadiran Tuhan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Mereka sudah mengalami pertolongan Tuhan, tetapi dalam persoalan baru mereka kembali mengalami keraguan. Tuhan tetap hadir dan menyediakan air bagi mereka. Kisah ini mengingatkan kita bahwa menjadi umat yang telah mengalami karya keselamatan Tuhan tidak berarti perjalanan hidup selalu mudah. Kita tetap belajar percaya dan bergantung kepada Tuhan dalam setiap keadaan.

Mazmur 78 kemudian mengajak umat untuk mengingat dan menceritakan karya Tuhan kepada generasi berikutnya. Pengalaman tentang kesetiaan Tuhan tidak boleh berhenti pada satu generasi. Apa yang telah Tuhan lakukan perlu diingat, diceritakan, dan menjadi dasar bagi kehidupan umat pada masa kini. Keselamatan yang kita ingat seharusnya memengaruhi cara kita menjalani kehidupan.

Hal ini semakin jelas dalam surat Paulus kepada jemaat Filipi. Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Perkataan ini bukan berarti kita harus berusaha mendapatkan keselamatan dengan kekuatan dan perbuatan kita sendiri. Paulus langsung menegaskan bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan. Karena itu, mengerjakan keselamatan berarti menghidupi keselamatan yang telah Allah kerjakan. Keselamatan itu terlihat ketika kita hidup dalam kasih, tidak mementingkan diri sendiri, memperhatikan kepentingan orang lain, dan memiliki kerendahan hati seperti Kristus.

Hal yang sama terlihat dalam perumpamaan Yesus tentang dua anak dalam Matius 21. Anak pertama berkata “ya” kepada ayahnya, tetapi tidak pergi. Anak kedua berkata “tidak”, tetapi kemudian menyesal dan pergi melakukan kehendak ayahnya. Yesus menunjukkan bahwa melakukan kehendak Allah tidak cukup hanya dengan perkataan. Iman dan pertobatan harus terlihat dalam tindakan.

Keempat bacaan ini membawa kita kepada satu pertanyaan sederhana: Apakah keselamatan yang Allah kerjakan di dalam diri kita sudah terlihat dalam kehidupan kita? Bukan hanya dalam perkataan kita, tetapi dalam cara kita memperlakukan keluarga, sesama, gereja, dan orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Maka, mengerjakan keselamatan berarti terus berjalan bersama Tuhan, mengingat dan menceritakan karya-Nya, membiarkan Kristus membentuk karakter kita, serta melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak mengerjakan keselamatan supaya diselamatkan. Kita mengerjakannya karena kita telah diselamatkan dan Allah sedang terus bekerja di dalam kita.

Kiranya kehidupan kita bukan hanya berkata, “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi juga menunjukkan melalui tindakan: “Saya hidup sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan.”

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan informasi tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1496573
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1496473
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :