Hidup adalah Sebuah Perjalanan

Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah.” (Yoh. 10:10)

Syalom! Selamat Hari Minggu Bapak/Ibu/Saudara-i yang dikasihi Tuhan Yesus… Ada sebuah tulisan yang cukup menarik dan pasti sebagian orang mengalaminya, demikian: Akte lahir adalah kertas. Ijazah juga kertas. Akte nikah juga kertas. Surat kepemilikan rumah, mobil, harta-harta juga kertas. UANG juga kertas. Kehidupan kita layaknya hanya dikelilingi kertas-kertas. Seiring waktu berlalu, semua bisa sobek. Kemudian dibuang dan dibakar. Berapa banyak orang bersedih karena “kertas-kertas” yang dimilikinya telah lenyap dalam sekejap. Banyak orang begitu berbahagia karena “kertas-kertas” yang dimilikinya. Tetapi ada satu lembar kertas yang tidak mungkin dilihat oleh manusia itu sendiri yaitu AKTE KEMATIAN-nya sendiri! Maka manusia itu ada batasnya, yang tidak mungkin adalah menjangkau waktu.

Ada dua hal yang tidak akan selamanya ada dalam diri seseorang, yaitu masa mudanya dan kekuatannya. Dua hal yang berguna untuk setiap orang, yakni hati yang mulia dan hati yang mengampuni. Juga dua hal pula yang akan mengangkat derajat seseorang: sikap rendah hati dan berbagi kasih. Belajarlah memiliki prinsip hidup.

Ada tiga fase hidup yang tampak dari kita. Pertama, masa puber: kita punya waktu dan kekuatan tetapi tidak punya “UANG”. Kedua, masa bekerja: kita punya uang dan kekuatan tetapi tidak punya “WAKTU”. Ketiga, masa tua: kita punya uang dan waktu tetapi tidak punya “KEKUATAN” lagi. Manfaatkanlah kesempatan hidup sebaik-baiknya selagi kita masih bernapas. Kadang kita mengira bahwa kehidupan orang lain lebih baik daripada kehidupan kita. Orang lain pun meyakini, bahwa kehidupan kita jauh lebih baik daripada kehidupannya. Hal itu terjadi karena kita melupakan satu hal terpenting dalam hidup, yaitu MENSYUKURI APA YANG SUDAH KITA MILIKI.

Oleh sebab itu, selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia hidup. Tidak capek pun perlu beristirahat. Tidak kaya pun perlu bersyukur. Sadarlah hidup ini pendek. Pasti ada saatnya untuk finish. Jangan tertipu oleh usia muda. Tuhan Yesus berfirman bahwa Dia datang agar kita memiliki hidup dalam segala kelimpahan. Jika selama ini Anda belum merasakan kelimpahan damai sejahtera dalam hidup Anda, maka inilah saat yang tepat untuk memulainya. Bersyukurlah kepada Allah.

Karena syarat untuk mati tidak harus “tua”. Maka, saudara-saudara sekalian marilah kita saling membantu seperti yang tertulis dalam Galatia 6. Selagi perjalanan kehidupan kita masih belum selesai, mari lakukan yang terbaik, karena akan tiba saatnya kita sudah tidak ada lagi di dunia. Hapus semua kebencian dan ampuni semua orang, apalagi orang-orang di sekitar kita. Di manapun kita berada, di keluarga, tempat kerja, pelayanan, berilah yang terbaik yang kita bisa lakukan.

Galatia 6:9-10, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menyerah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita.”

Mungkin kita tidak dapat melakukan hal-hal besar. Tetapi kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan penuh cinta –Mother Teresa

Marilah kita terus berjalan bersama Tuhan, di dalam Tuhan pasti ada sukacita dan damai sejahtera. Amin. (disadur dari Elohim Ministry – MEP)

Renungan Sepekan

KEPEDULIAN SEBAGAI WUJUD CINTA KASIH

Keluaran 12:1–14; Mazmur 149; Roma 13:8–14; Matius 18:15–20

Kita semua memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan kepedulian. Ada orang yang mengungkapkan kasih melalui kata-kata, ada yang lebih suka membantu secara nyata, ada yang memberikan waktu, dan ada pula yang menunjukkan perhatian dengan sekadar hadir dan menemani. Karena itu, terkadang muncul persoalan: seseorang sebenarnya peduli, tetapi kepeduliannya tidak terlihat seperti yang kita harapkan.

Seorang ayah mungkin merasa sudah menunjukkan kasih kepada anaknya dengan bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Namun anaknya mungkin justru berkata, “Saya ingin Papa punya waktu untuk saya.” Sang ayah merasa sudah mengasihi, sementara sang anak merasa kurang dikasihi. Bukan selalu karena tidak ada kasih, melainkan karena cara mengungkapkan kasih berbeda.

Dalam Keluaran 12, kita melihat bagaimana Allah menunjukkan kepedulian-Nya kepada Israel. Allah tidak hanya mengetahui penderitaan umat-Nya, tetapi bertindak untuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Bahkan dalam peristiwa Paskah, Tuhan memberikan petunjuk yang sangat konkret agar umat-Nya mengalami keselamatan. Kasih Allah bukan sekadar perkataan; kasih itu hadir dalam tindakan.

Karena itu, Roma 13:8 mengingatkan, “Hendaklah kamu saling mengasihi.” Bagi Paulus, kasih bukan sekadar perasaan yang ada dalam hati. Kasih harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama. Orang yang mengasihi akan memperhatikan, menolong, menjaga, dan berusaha tidak menyakiti orang lain.

Namun, kasih juga membutuhkan kepekaan untuk memahami orang lain. Gary Chapman melalui gagasan The 5 Love Languages mengingatkan bahwa manusia dapat memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menerima kasih. Ada yang merasa dikasihi ketika diberi waktu, ada yang melalui kata-kata, tindakan pelayanan, pemberian, atau sentuhan. Walaupun konsep ini bukan teori Alkitab, gagasan tersebut menolong kita memahami satu hal sederhana: tidak semua orang mengalami kasih dengan cara yang sama.

Karena itu kita perlu berhati-hati ketika mengatakan, “Dia tidak peduli kepada saya.” Bisa jadi orang tersebut memang tidak peduli. Tetapi bisa juga ia peduli dengan cara yang belum kita pahami.

Di sisi lain, kita juga tidak dapat berkata, “Saya memang peduli dengan cara saya, jadi terimalah.” Kalau kita sungguh mengasihi, kita bersedia belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain.

Prinsip ini terlihat dengan sangat jelas dalam Matius 18. Ketika seorang saudara melakukan kesalahan, Yesus berkata, “Tegorlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak mengajarkan kita untuk membicarakan kesalahan seseorang kepada orang lain, tetapi untuk datang kepadanya. Tujuannya pun bukan untuk mempermalukan atau memenangkan perdebatan, melainkan “mendapatkannya kembali”.

Di sini kita melihat bahwa kepedulian tidak sama dengan membiarkan segala sesuatu. Terkadang kepedulian berarti menolong. Terkadang berarti mendengarkan. Terkadang berarti hadir. Tetapi ada saatnya kepedulian berarti berani menegur—dengan kasih dan dengan tujuan memulihkan.

Stephen Covey pernah menggunakan prinsip, “Seek first to understand, then to be understood.” Carilah dahulu untuk memahami, baru kemudian berusaha dipahami. Prinsip ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat membuat kesimpulan tentang orang lain. Daripada berkata, “Kamu tidak peduli kepada saya,” mungkin lebih baik kita berkata, “Saya sedang membutuhkan perhatianmu.” Daripada menghakimi, kita belajar berbicara. Daripada berasumsi, kita belajar bertanya.

Pada akhirnya, kepedulian membutuhkan dua kerendahan hati. Pertama, kerendahan hati untuk belajar mengasihi orang lain dengan cara yang dapat mereka rasakan. Kedua, kerendahan hati untuk menerima bahwa kasih orang lain mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sebenarnya mengasihi kita, tetapi selama ini kita gagal melihatnya karena bentuk kasihnya berbeda dari yang kita harapkan. Sebaliknya, mungkin ada seseorang di sekitar kita yang selama ini merasa tidak diperhatikan. Barangkali Tuhan mengajak kita belajar menunjukkan kasih dengan cara yang lebih dapat ia rasakan.

Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya hanya peduli dengan cara yang nyaman bagi saya, atau saya mau belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain?

Dan ketika seseorang tidak menunjukkan kepedulian seperti yang kita harapkan, marilah kita tidak terburu-buru menghakimi. Datangilah, berbicaralah, dan belajarlah memahami.

Sebab kepedulian yang sejati bukan hanya tentang kasih yang ada di dalam hati kita, tetapi tentang kasih yang sungguh-sungguh sampai dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Kiranya melalui hidup kita, orang lain bukan hanya mendengar bahwa Kristus mengasihi mereka, tetapi mengalami kasih Kristus melalui kepedulian kita. Amin.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1434035
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1433935
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :