Keakuan
Namun, aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20).
Memasuki Minggu Prapaska ini, marilah kita melihat ke dalam diri kita kembali, siapakah aku ini dan apakah aku bisa menang atas keakuanku? Apa itu ”Keakuan”? Keakuan adalah sifat mementingkan diri sendiri. Ciri-ciri sifat ini di antaranya adalah egois, iri hati, dengki, dendam, sombong dan selalu ingin dihargai. Keakuan juga mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan sikap yang bertentangan dengan keinginan Allah.
Allah ingin agar kita hidup menyenangkan hati-Nya dan bukan menyenangkan hati kita sendiri. Tuhan Yesus telah memberikan teladan bagaimana hidup bagi Allah dan sesama. Alkitab mengatakan bahwa ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki, ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam.
Kalau Tuhan Yesus tidak bisa mengatasi ego dan keakuan-Nya, maka kita tidak akan menerima penebusan dosa itu. Dia bergumul di Taman Getsemani, sebelum Ia disesah dan disalib, karena Ia tahu betapa berat beban yang harus dipikul oleh-Nya. Namun, di sini Dia berkata, ”Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu (Bapa) lah yang jadi.”
Apakah Tuhan Yesus tidak bisa turun dari kayu salib? Dia bisa melakukan itu. Tetapi ketika orang-orang berseru dengan mengejek, ”Orang lain Dia selamatkan, tapi diri-Nya sendiri tidak bisa Ia selamatkan!”, dalam bahasa kita sehari-hari mungkin mereka bicara seperti ini, ”Ayo turun! Katanya berkuasa, katanya Tuhan, kok gak bisa turun dari salib?” Coba bayangkan kalau saudara dalam posisi itu? Apakah keakuan anda yang bekerja ataukah ketaatan kita kepada kehendak Allah? Mungkin saudara akan berkata, ”Kurang ajar nih orang, gue turun nih sekarang juga!”
Kita sering lupa bahwa Tuhan Yesus telah lebih dulu menderita dan tidak dihargai, Dia dihina dan direndahkan, tapi Dia menang. Alkitab mengatakan, ”Ia telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba dan telah menjadi sama dengan manusia.” Padahal Dia adalah Allah sendiri. Sungguh luar biasa Tuhan kita yang mau melepaskan keakuan-Nya.
Saudara yang terkasih, marilah kita “mengosongkan diri” kita dan mengizinkan Tuhan Yesus yang berkuasa atas kehidupan kita. Sehingga bukan lagi kita sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam hidup kita.
Apakah ego atau keakuan masih menguasai hati dan pikiran kita? Mintalah kuasa Roh Kudus untuk mengubah dan memampukan kita agar selalu hidup bagi Allah dan sesama. Lakukanlah yang baik, ucapkan kata-kata yang membangun orang lain, jangan menuntut dihargai tetapi berusahalah untuk selalu menghargai orang lain.
Biarkan Tuhan Yesus yang bertahta dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati. (RPP)






Users Today : 800
Users Yesterday : 1158
This Month : 7680
This Year : 99726
Total Users : 1128468
Who's Online : 17