Tuhan Tidak Hilang

Ada kegelisahan yang semakin nyata di zaman ini. Dunia tidak pernah benar-benar tenang. Perang, kekerasan, ketidakpastian, dan ledakan informasi membuat orang mudah tersulut dan kehilangan arah. Hubungan rapuh, kepercayaan menipis, hidup melaju cepat tetapi batin tertinggal dalam kelelahan. Di tengah tekanan ini, kasih sering disalahpahami sebagai kewajiban terus bertahan dan mengalah. Padahal kasih sejati seharusnya menjadi kekuatan moral yang menyalakan keberanian menegakkan keadilan dan menjaga martabat hidup.

Di tengah ketidakpastian, iman sering masuk fase sunyi. Kita tetap percaya dan berdoa, namun diam-diam bertanya, “Jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?” (Hakim-hakim 6:13). Kita mudah mengukur kehadiran-Nya dari kestabilan keadaan – merasa aman saat hidup tertata, lalu goyah ketika semuanya terguncang. Tanpa sadar, kenyamanan menjadi pondasi iman.

Firman Tuhan mengajak kita melihat lebih dalam dari apa yang tampak. “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” (Yes. 55:8). Ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan koreksi atas cara kita membaca realitas. Kita cenderung menganggap keteraturan sebagai tanda Tuhan dekat, dan kekacauan sebagai bukti Dia jauh. Padahal sejarah iman menunjukkan bahwa Tuhan justru bekerja di tengah situasi yang sulit dipahami. Di sanalah iman dilatih untuk bertumpu pada kepercayaan, bukan pada kepastian keadaan.

Di zaman yang bising dan tak menentu ini, banyak orang tetap religius tetapi kehilangan arah dalam membaca realitas. Iman dijalani sebagai rutinitas, sementara makna hidup, diam-diam diikat pada kestabilan keadaan. Ketika dunia berubah, batin pun goyah. Di titik ini, kasih sering disempitkan menjadi kewajiban untuk terus mengalah, seolah-olah mengampuni berarti membiarkan ketidakadilan. Tuntutan untuk “tetap mengasihi” pun berubah menjadi tekanan untuk menormalisasi luka dan mengaburkan kebenaran. Akibatnya, orang tampak damai di luar tetapi kehilangan kejernihan moral di dalam. Padahal yang goyah bukan kehadiran Tuhan, melainkan cara kita membaca dunia. Iman yang matang menuntun kita kembali pada arah yang benar: memegang kasih tanpa menanggalkan keadilan, tetap lembut tanpa menjadi permisif, dan berani berdiri bagi kebenaran tanpa dikuasai kebencian.

Hidup dengan perspektif Kerajaan Allah berarti tidak dikuasai ketakutan zaman. Ia tetap tenang, reflektif, dan berani mengambil sikap. Ia tidak larut dalam kepanikan, tetapi juga tidak pasif menghadapi perubahan. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (Mat. 5:6). Kerinduan ini membuat seseorang tidak betah hidup dalam kebingungan moral. Ia akan mengarahkan kebenaran untuk menajamkan nurani, menuntun keputusan, dan memberi arah langkah kehidupannya.

Kedewasaan iman tidak lahir dari teori, tetapi dari tekanan hidup. Yakobus menulis bahwa ujian iman menghasilkan ketekunan (Yakobus 1:2–3). Saat dunia terasa tidak pasti, kapasitas batin justru sedang diperbesar. Kita belajar tidak menggantungkan makna pada keadaan, melainkan pada panggilan untuk bertumbuh – berdiri teguh tanpa menjadi keras, tetap lembut tanpa kehilangan prinsip.

Pencerahan muncul ketika kita sadar bahwa yang diguncang bukan kendali Tuhan, melainkan pola pikir bahwa kita aman bila semua bisa kita kendalikan. Ketika semuanya goyah, kita merasa kehilangan pegangan. Padahal di titik rapuh itu, Tuhan mengundang kita masuk ke iman yang lebih matang – iman yang bertumpu pada kepercayaan, bukan kepastian.

Pertanyaannya kini menembus batin: apakah kita berani melangkah ketika arah belum sepenuhnya jelas? Mungkin yang goyah bukan dunia di luar, melainkan cara kita memaknainya. Di tengah perubahan yang tak bisa kita kendalikan, kita dipanggil membangun ke dalaman batin – bukan menunggu keadaan stabil, lalu memilih percaya. Transformasi dimulai hari ini: saat kita berhenti mencari kepastian semu, memilih bertumbuh di tengah kabut, dan melangkah dengan iman bahwa Tuhan tetap memimpin setiap langkah setia. (SAR)

 

KEBAKTIAN MINGGU

SAKSI KRISTUS YANG MENGUBAHKAN

Kisah Para Rasul 2:14a, 22-32; Mazmur 16; 1 Petrus 1:3-9; Yohanes 20:19-31

Kebaktian 12 April 2026 oleh Pdt. Nugraha Yudhi Rumpaka (GKI Bintaro)

Pendahuluan:

Pernahkah kita merasa terkurung oleh rasa takut, kecemasan, atau keraguan tentang masa depan? Jika ya, kita tidak sendirian. Pasca penyaliban Yesus, para murid berkumpul dalam sebuah ruangan dengan pintu tertutup rapat karena takut. Harapan mereka seolah ikut terkubur di dalam makam. Namun, di tengah ketakutan dan rasa putus asa itulah, Yesus yang bangkit hadir secara nyata, menembus “tembok” ketakutan mereka, dan menyapa, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yohanes 20:19).

Kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa sejarah di masa lalu; itu adalah sebuah kuasa nyata yang mengubahkan. Melalui bacaan-bacaan minggu ini, kita diajak untuk melihat bagaimana kuasa kebangkitan itu mengubah hidup para pengikut-Nya:

1. Mengubah Ketakutan Menjadi Keberanian Kehadiran Kristus mengubah ruangan yang semula penuh ketakutan menjadi tempat pengutusan. Transformasi ini paling nyata terlihat dalam diri Petrus. Murid yang sebelumnya menyangkal Yesus sebanyak tiga kali karena takut kepada hamba perempuan, kini dalam Kisah Para Rasul 2, tampil dengan penuh keberanian di hadapan ribuan orang. Ia bersaksi dengan lantang bahwa Yesus yang disalibkan telah dibangkitkan Allah. Pengalaman akan Kristus yang hidup memberinya keberanian absolut.

2. Mengubah Keraguan Menjadi Keyakinan (Iman)

Tomas mewakili sisi manusiawi kita. Ia logis, butuh bukti, dan menuntut untuk melihat langsung. Menariknya, Yesus tidak membuang Tomas karena keraguannya. Yesus justru merengkuhnya, menawarkan luka-luka-Nya untuk disentuh. Hasil dari kasih karunia ini adalah pengakuan iman yang paling agung dalam Injil Yohanes: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Keraguan yang dibawa kepada Kristus akan diubah menjadi fondasi iman yang kokoh. Dan bagi kita saat ini, Kristus memberikan janji yang indah: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

3. Mengubah Keputusasaan Menjadi Pengharapan yang Hidup

Dalam suratnya (1 Petrus 1:3-9), Petrus—yang telah diubahkan itu—mengingatkan jemaat bahwa melalui kebangkitan Kristus, kita telah dilahirkan kembali ke dalam “suatu pengharapan yang hidup”. Pengharapan ini tidak menjanjikan hidup yang bebas dari masalah. Justru, di tengah berbagai pencobaan, iman kita sedang dimurnikan seperti emas. Pengharapan inilah yang senada dengan seruan syukur pemazmur, “Sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati…” (Mazmur 16:10). Bersama Tuhan, kita tahu bahwa maut dan penderitaan bukanlah akhir cerita.

Aplikasi Bagi Kita Saat Ini

Menjadi “Saksi Kristus yang Mengubahkan” tidak selalu berarti kita harus berdiri dan berkhotbah di depan ribuan orang seperti Petrus. Seringkali, panggilan itu hidup dalam keseharian kita:

  • Membawa damai sejahtera ke dalam keluarga atau tempat kerja yang sedang penuh konflik.

  • Tetap memancarkan pengharapan yang hidup ketika situasi ekonomi atau kesehatan sedang sulit.

  • Memiliki iman yang teguh di tengah dunia yang semakin skeptis dan penuh keraguan.

Kita hanya bisa menjadi saksi yang mengubahkan lingkungan kita apabila kita sendiri telah mengizinkan Kristus yang bangkit untuk mengubahkan hati kita. Biarlah damai sejahtera dan kuasa kebangkitan-Nya terus menyertai dan memampukan kita menjadi saksi-saksi-Nya yang setia, minggu ini dan selamanya. Amin

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1183086
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1183086
Who's Online :