Sentuhan yang Melembutkan, Jamahan yang Mengubahkan

Alkitab memuat beberapa kisah tentang penyakit kusta; suatu penyakit yang dipandang oleh orang Yahudi sebagai kutukan atau hukuman Tuhan. Penyandang kusta dianggap najis sehingga mereka dikucilkan dari tengah masyarakat. Menderita penyakit kusta berarti menderita secara fisik, sosial, mental-emosional, bahkan spiritual. Kitab Imamat 13-14 memuat perincian peraturan mengenai penyakit ini; selain dilarang bergaul dengan orang sehat, dengan alasan kenajisan, penderita kusta juga dilarang beribadah dan mendekati kekudusan Tuhan. Kondisi itu membuat terputusnya relasi penderita kusta dengan orang lain bahkan dengan Tuhan. Namun, dalam konteks masyarakat yang seperti itu, Yesus justru mendekat dan menjamah si kusta. Dia tidak menjaga jarak dengan orang kusta; Dia mau mengulurkan tangan dan menjamah orang berdosa atau orang yang dalam kesulitan. Dia tidak menghakimi dan mengucilkan mereka. Sebaliknya, Dia hadir dengan kasih yang tulus dan keberanian yang mengatasi ketakutan.

Perjumpaan dengan Tuhan adalah suatu peristiwa yang luar biasa dan tak terlupakan. Suatu momen kita dijamah Tuhan; kita diingatkan akan dosa-dosa kita, kita mengalami pemulihan dan menjadi anak Tuhan, serta berkomitmen hidup dalam perkenanan Tuhan. Kesibukan dan masalah kadang membuat kita lemah dan jauh dari Tuhan. Namun, kita harus terus mengingat momen ketika Tuhan menjamah dan memulihkan kita, agar iman kita kembali bangkit dan segar, dan pada gilirannya kembali menjadi mitra-Nya untuk menjangkau sesama.

Alvons Betan, SVD dalam bukunya “Jamahan Kasih di Taman Kehidupan” menegaskan bahwa kasih bukan hanya ajaran moral atau tuntutan agama, melainkan pengalaman konkret yang membentuk dan memperbarui hidup manusia secara menyeluruh, baik secara psikologis, sosial, dan spiritual. Kasih menjadi daya hidup yang memberi arah, identitas, dan kekuatan untuk tumbuh. Pengalaman dikasihi melalui perhatian kecil, sapaan hangat, dukungan saat mengalami masa sulit adalah wujud nyata dari kasih yang sederhana, namun mendalam. Kasih demikian membangun rasa aman dan harga diri serta membuka ruang pertobatan dan transformasi. Lebih jauh, kasih dipahami sebagai jalan rohani yang berpangkal pada Allah, sumber cinta sejati. Melalui kasih kepada sesama, kita sesungguhnya dijamah oleh kasih Ilahi yang menyapa dalam peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari. Kasih ini menggerakkan kita untuk berubah, mengampuni, dan menjadi pribadi yang menghadirkan kasih bagi sesama. Kasih seharusnya bukan terhenti hanya pada konsep, tetapi harus menjelma menjadi realitas hidup yang nyata dalam relasi, baik dalam keluarga, komunitas, maupun dalam perjumpaan dengan orang yang berbeda. Di sanalah kasih diuji dan dimurnikan, menjadi jalan menuju kedewasaan iman dan kemanusiaan.

Tema Pelayanan GKI Kota Wisata sejak tahun 2025-2026 adalah “Menjadi Rumah bagi Semua”, dengan sub tema “Menjangkau, Merawat, Memperlengkapi, Memberdayakan” dan pada tahun ini dilanjutkan dengan sub tema “Sehati, Sepikir, Setujuan”. Marilah kita menyentuh, menjamah, dan menjangkau sesama kita, karena sesungguhnya sentuhan kasih lah yang mampu melembutkan, jamahan tulus lah yang mampu mengubahkan. Sentuhan Bapa termuat dalam lagu tema Paska 2020 “Menjadi S’pertiMu Kristus”…dan Kau hadir dengan Kasih-Mu, Kau angkat beban hidupku, lembut Engkau jamah hatiku, ubahku jadi baru, dan Kau celikkan buta mataku, buang jauh dosaku, sungguhlah Engkau Maha Kuasa.”. Jamahan Tuhan dalam karya pemulihan-Nya sampai hari ini masih dibutuhkan dan kita lah yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan melalui kehadiran kita bagi mereka yang sakit, yang terhilang, dan yang tersisihkan. Ketika kita meneladani Tuhan Yesus dan mau menjangkau sesama, di situlah orang lain melihat Kristus dalam kita. Haleluya. (ITT)

Renungan Sepekan

KEPEDULIAN SEBAGAI WUJUD CINTA KASIH

Keluaran 12:1–14; Mazmur 149; Roma 13:8–14; Matius 18:15–20

Kita semua memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan kepedulian. Ada orang yang mengungkapkan kasih melalui kata-kata, ada yang lebih suka membantu secara nyata, ada yang memberikan waktu, dan ada pula yang menunjukkan perhatian dengan sekadar hadir dan menemani. Karena itu, terkadang muncul persoalan: seseorang sebenarnya peduli, tetapi kepeduliannya tidak terlihat seperti yang kita harapkan.

Seorang ayah mungkin merasa sudah menunjukkan kasih kepada anaknya dengan bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Namun anaknya mungkin justru berkata, “Saya ingin Papa punya waktu untuk saya.” Sang ayah merasa sudah mengasihi, sementara sang anak merasa kurang dikasihi. Bukan selalu karena tidak ada kasih, melainkan karena cara mengungkapkan kasih berbeda.

Dalam Keluaran 12, kita melihat bagaimana Allah menunjukkan kepedulian-Nya kepada Israel. Allah tidak hanya mengetahui penderitaan umat-Nya, tetapi bertindak untuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Bahkan dalam peristiwa Paskah, Tuhan memberikan petunjuk yang sangat konkret agar umat-Nya mengalami keselamatan. Kasih Allah bukan sekadar perkataan; kasih itu hadir dalam tindakan.

Karena itu, Roma 13:8 mengingatkan, “Hendaklah kamu saling mengasihi.” Bagi Paulus, kasih bukan sekadar perasaan yang ada dalam hati. Kasih harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama. Orang yang mengasihi akan memperhatikan, menolong, menjaga, dan berusaha tidak menyakiti orang lain.

Namun, kasih juga membutuhkan kepekaan untuk memahami orang lain. Gary Chapman melalui gagasan The 5 Love Languages mengingatkan bahwa manusia dapat memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menerima kasih. Ada yang merasa dikasihi ketika diberi waktu, ada yang melalui kata-kata, tindakan pelayanan, pemberian, atau sentuhan. Walaupun konsep ini bukan teori Alkitab, gagasan tersebut menolong kita memahami satu hal sederhana: tidak semua orang mengalami kasih dengan cara yang sama.

Karena itu kita perlu berhati-hati ketika mengatakan, “Dia tidak peduli kepada saya.” Bisa jadi orang tersebut memang tidak peduli. Tetapi bisa juga ia peduli dengan cara yang belum kita pahami.

Di sisi lain, kita juga tidak dapat berkata, “Saya memang peduli dengan cara saya, jadi terimalah.” Kalau kita sungguh mengasihi, kita bersedia belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain.

Prinsip ini terlihat dengan sangat jelas dalam Matius 18. Ketika seorang saudara melakukan kesalahan, Yesus berkata, “Tegorlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak mengajarkan kita untuk membicarakan kesalahan seseorang kepada orang lain, tetapi untuk datang kepadanya. Tujuannya pun bukan untuk mempermalukan atau memenangkan perdebatan, melainkan “mendapatkannya kembali”.

Di sini kita melihat bahwa kepedulian tidak sama dengan membiarkan segala sesuatu. Terkadang kepedulian berarti menolong. Terkadang berarti mendengarkan. Terkadang berarti hadir. Tetapi ada saatnya kepedulian berarti berani menegur—dengan kasih dan dengan tujuan memulihkan.

Stephen Covey pernah menggunakan prinsip, “Seek first to understand, then to be understood.” Carilah dahulu untuk memahami, baru kemudian berusaha dipahami. Prinsip ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat membuat kesimpulan tentang orang lain. Daripada berkata, “Kamu tidak peduli kepada saya,” mungkin lebih baik kita berkata, “Saya sedang membutuhkan perhatianmu.” Daripada menghakimi, kita belajar berbicara. Daripada berasumsi, kita belajar bertanya.

Pada akhirnya, kepedulian membutuhkan dua kerendahan hati. Pertama, kerendahan hati untuk belajar mengasihi orang lain dengan cara yang dapat mereka rasakan. Kedua, kerendahan hati untuk menerima bahwa kasih orang lain mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sebenarnya mengasihi kita, tetapi selama ini kita gagal melihatnya karena bentuk kasihnya berbeda dari yang kita harapkan. Sebaliknya, mungkin ada seseorang di sekitar kita yang selama ini merasa tidak diperhatikan. Barangkali Tuhan mengajak kita belajar menunjukkan kasih dengan cara yang lebih dapat ia rasakan.

Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya hanya peduli dengan cara yang nyaman bagi saya, atau saya mau belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain?

Dan ketika seseorang tidak menunjukkan kepedulian seperti yang kita harapkan, marilah kita tidak terburu-buru menghakimi. Datangilah, berbicaralah, dan belajarlah memahami.

Sebab kepedulian yang sejati bukan hanya tentang kasih yang ada di dalam hati kita, tetapi tentang kasih yang sungguh-sungguh sampai dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Kiranya melalui hidup kita, orang lain bukan hanya mendengar bahwa Kristus mengasihi mereka, tetapi mengalami kasih Kristus melalui kepedulian kita. Amin.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1434032
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1433932
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :