Rekan Sekerja Allah

Dalam dunia pelayanan, sering kali seseorang tanpa sadar mulai mengukur dirinya berdasarkan posisi, kemampuan, pengalaman, atau kontribusi yang telah ia berikan. Ketika pelayanan berkembang, program berjalan baik, dan banyak hal dapat diselesaikan seringkali membuat muncul godaan halus, yang perlahan masuk ke dalam hati, merasa bahwa pelayanan tidak akan berjalan tanpa kehadiran kita. Padahal Alkitab mengingatkan kita bahwa menjadi rekan sekerja Allah bukanlah bukti bahwa Tuhan membutuhkan kita, melainkan bukti bahwa Tuhan berkenan memakai kita. 1 Korintus 3:9 “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”

Allah yang kita layani adalah Allah yang Mahakuasa. Sebelum kita lahir, pekerjaan-Nya sudah berlangsung. Setelah kita tidak lagi melayani, pekerjaan-Nya akan tetap berjalan. Ia tidak bergantung pada kecakapan manusia untuk menggenapi kehendak-Nya. Ketika Yesus memasuki Yerusalem dan orang banyak memuji-Nya, Ia berkata, “Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.” (Lukas 19:40). Artinya, Allah tidak pernah kekurangan cara untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, kesempatan melayani seharusnya tidak membuat kita menjadi sombong, melainkan semakin rendah hati. Kita perlu menyadari bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja sesuai kehendakNya. Jika hari ini Ia memilih kita untuk terlibat dalam pelayanan-Nya, itu adalah anugerah yang sangat besar.

Rasul Paulus memahami prinsip ini dengan baik. Dalam 1 Korintus 3:6 ia berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Paulus tidak menolak peran manusia, tetapi ia menempatkan segala sesuatu pada proporsi yang benar. Ada yang menanam, ada yang menyiram, ada yang melayani di depan, dan ada yang bekerja di belakang layar. Namun pada akhirnya, keberhasilan pelayanan bukanlah hasil kehebatan manusia, melainkan karya Allah yang memberikan pertumbuhan.

Kesadaran ini menolong kita untuk melayani dengan hati yang sehat, tulus, dan berfokus kepada Allah. Kita tidak perlu mencari pujian, merasa paling penting, atau tersinggung ketika tidak mendapatkan pengakuan. Kita juga tidak perlu membandingkan diri dengan pelayan yang lain. Tugas kita hanyalah setia mengerjakan bagian yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Melayani-Nya dengan kesungguhan dan dengan kerendahan hati. Kerendahan hati dalam pelayanan lahir ketika kita menyadari bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan: talenta, kesempatan, kesehatan, pengalaman, bahkan napas yang kita hirup hari ini. Jika semuanya adalah pemberian-Nya, maka tidak ada alasan untuk bermegah.

Mari kita melayani dengan rasa syukur. Bukan karena Tuhan membutuhkan kita, tetapi karena Tuhan mengizinkan kita turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya yang mulia. Betapa berharganya kesempatan itu. Ketika kita memahami kebenaran ini, pelayanan tidak lagi menjadi panggung untuk meninggikan diri, melainkan mezbah untuk memuliakan Kristus.

Mari kita berdoa secara pribadi supaya Tuhan menolong kita. Tuhan, terima kasih karena Engkau berkenan melibatkan kami dalam pekerjaan-Mu. Jauhkan kami dari kesombongan dan rasa memiliki atas pelayanan yang sesungguhnya adalah milik-Mu. Ajar kami untuk melayani dengan rendah hati, setia, dan penuh syukur, menyadari bahwa semua keberhasilan berasal dari tangan-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Kiranya Allah di dalam Tuhan Yesus dan persekutuan Roh Kudus menjaga hati kita, menjauhkan diri dari kesombongan dan merasa diri kita yang paling penting dalam komunitas pelayanan. Bagi Tuhanlah kemuliaan selama-lamanya. (PSG)

Renungan Sepekan

Keteguhan Iman dalam Pergumulan

Bacaan: Kejadian 32:22-31

Kalau ditanya, “Siapa yang mau menjadi Spider-Man?”, mungkin banyak orang akan mengangkat tangan. Menjadi pahlawan yang memiliki kekuatan super, menyelamatkan banyak orang, dan dikagumi tentu terdengar menyenangkan.

Namun pertanyaannya berubah ketika ditanya, “Siapa yang mau menjadi Peter Parker?”

Tidak banyak yang bersedia.

Sebab menjadi Peter Parker berarti menjalani hidup yang tidak mudah. Ia kehilangan orang-orang yang dikasihinya, harus merahasiakan identitasnya, rela mengorbankan kebahagiaannya demi orang lain, bahkan sering kali harus menjalani kesepian. Banyak orang menginginkan kemuliaan Spider-Man, tetapi sedikit yang bersedia menjalani pergumulan Peter Parker. Justru pergumulan itulah yang membentuknya menjadi pahlawan yang sejati.

Bukankah sering kali kita juga demikian? Kita ingin menjadi orang yang diberkati Tuhan, dipakai-Nya, dan menikmati kemenangan. Namun kita berharap semuanya terjadi tanpa air mata, tanpa penantian, dan tanpa pergumulan.

Yakub juga menginginkan berkat Tuhan. Namun sebelum menerima berkat itu, ia harus melewati satu malam yang panjang di tepi sungai Yabok. Menariknya, dalam bahasa Ibrani terdapat permainan bunyi antara Yakub (Ya’aqov), Yabok (Yabboq), dan kata bergulat (‘abaq). Seolah-olah penulis Kejadian ingin mengajak kita melihat bahwa perjalanan Yakub menuju Yabok bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perjalanan menuju pergumulan yang mengubah hidupnya.

Yakub masuk ke Yabok sebagai seorang yang penuh ketakutan dan masih mengandalkan kemampuannya sendiri. Namun setelah bergumul dengan Allah, ia keluar sebagai Israel, manusia yang telah diubahkan. Memang ia berjalan dengan kaki yang pincang, tetapi ia juga membawa identitas yang baru. Allah tidak hanya mengubah situasi yang akan dihadapinya bersama Esau, tetapi terlebih dahulu mengubah hati dan hidup Yakub.

Sering kali kita berdoa agar Tuhan segera mengangkat pergumulan kita. Padahal mungkin Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang lebih penting, yaitu membentuk kita melalui pergumulan itu. Allah tidak selalu mengubah keadaan secepat yang kita harapkan, tetapi Ia tidak pernah berhenti mengerjakan perubahan dalam diri kita.

Hari ini, mungkin kita sedang berada di “Yabok” kita masing-masing. Ada pergumulan dalam keluarga, pekerjaan, kesehatan, pelayanan, atau masa depan. Jangan buru-buru menganggap Tuhan sedang meninggalkan kita. Bisa jadi, justru di tempat pergumulan itulah Tuhan sedang membentuk iman kita menjadi lebih dewasa.

Keteguhan iman bukan berarti hidup tanpa pergumulan. Keteguhan iman adalah keberanian untuk tetap berpegang kepada Tuhan di tengah pergumulan, sambil percaya bahwa Ia sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih serupa dengan kehendak-Nya.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1401728
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1401628
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :