Hidup Rukun
Pada tahun 1772, di sebuah desa kecil bernama Wainsgate, yang terletak di perbukitan Yorkshire, Inggris hiduplah sekelompok orang percaya yang hidup miskin secara materi, tetapi sangat kaya dalam kasih. Mereka digembalakan oleh seorang pendeta muda bernama John Fawcett.
Selama tujuh tahun, Pendeta John dan istrinya, Mary, melayani jemaat baptis di desa terpencil itu dengan gaji yang sangat minim, hanya berupa sedikit uang dan hasil bumi. Kendati hidup dalam keterbatasan, mereka dipersatukan oleh ikatan persaudaraan seiman yang luar biasa rukun. Setiap suka dan duka ditanggung bersama dalam harmoni yang indah. Namun, seiring berjalannya waktu, kebutuhan keluarga Pendeta John semakin mendesak. Ketika sebuah tawaran emas datang dari Carter Lane Chapel di London, salah satu gereja terbesar, paling bergengsi, dan kaya pada masa itu, Pendeta John merasa ini adalah jawaban atas doadoanya. Setelah melalui pertimbangan yang panjang, ia akhirnya menerima tawaran tersebut. Pdt. John berpikir dengan pindah ke London, berarti mendapatkan kehidupan yang lebih layak, pendidikan yang lebih baik bagi anak-anaknya, dan pengaruh pelayanan yang jauh lebih luas.
Hari perpisahan pun tiba. Sebuah gerobak besar sudah disiapkan di depan rumah mereka. Satu demi satu perabot rumah, kotak-kotak pakaian, dan buku-buku milik Pendeta John dinaikkan ke atas gerobak. Jemaat Wainsgate berkumpul di sekeliling gerobak itu. Tidak ada amarah atau kebencian di wajah mereka, yang ada hanyalah air mata yang berlinang dan isak tangis yang tertahan. Jemaat yang sederhana itu meratapi kepergian gembala yang sangat mereka cintai.
Melihat pemandangan tersebut, hati Mary hancur. Ia mendekati suaminya dan berkata sambil menangis, “John, aku tidak tahan melihat ini. Aku tidak bisa pergi meninggalkan mereka.” Pendeta John memandangi wajah-wajah anggota jemaatnya yang tulus. Di tempat terpencil ini, mereka telah belajar apa artinya saling mengasihi dan hidup rukun sebagai satu keluarga Allah. Kehangatan persaudaraan ini tidak akan pernah bisa dibeli dengan upah sebesar apa pun di London. Dengan air mata yang mengalir deras, Pendeta John memantapkan hatinya. Ia berseru kepada kusir gerobak, “Turunkan kembali semua barang kami! Kami tidak jadi pergi. Kami akan tetap tinggal di sini bersama saudara-saudara kami.”
Sorak-sorai bahagia dan tangis haru seketika pecah di desa Wainsgate. Peristiwa bersejarah inilah yang mengilhami Pendeta John Fawcett untuk menulis lagu rohani legendaris, “Blest Be the Tie That Binds” (Betapa Indah Ikatan). Kisah Pendeta John Fawcett mencerminkan kebenaran Mazmur 133:1, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun !”
Keputusannya menolak kemewahan di London demi tetap melayani jemaat desa yang sederhana membuktikan bahwa ikatan persaudaraan sejati jauh lebih berharga daripada status sosial maupun materi. Teladan mulia ini menjadi panggilan bagi seluruh jemaat GKI Kota Wisata untuk terus hidup dalam persaudaraan yang rukun. Kita diundang untuk saling menopang, menghargai perbedaan, dan merawat kesatuan roh. Bersama-sama, mari kita panjatkan permintaan bimbingan kepada Tuhan Yesus agar hati kita senantiasa dilembutkan oleh firman-Nya untuk hidup dalam kasih.
Di saat yang sama, kita menaikkan ucapan syukur yang mendalam atas berkat-Nya setiap hari yang kita terima, baik berkat kerukunan, kesehatan, maupun penyertaan-Nya yang tidak pernah terlambat. Semangat kerukunan berjemaat ini menemukan momentum yang sangat tepat dalam rangka memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke81 pada 17 Agustus 2026. Sebagaimana para pahlawan bangsa bersatu tanpa memandang suku, agama, dan latar belakang demi merebut kemerdekaan, jemaat GKI Kota Wisata juga dipanggil untuk menjaga “Bhinneka Tunggal Ika” di dalam tubuh Kristus.
Hidup rukun berdampingan bukan hanya wujud kesetiaan iman, tetapi juga kontribusi nyata gereja dalam mengisi kemerdekaan. Dengan merawat persaudaraan yang harmonis, jemaat GKI Kota Wisata turut memperkuat pilar bangsa, membawa damai sejahtera bagi masyarakat sekitar, serta memuliakan nama Tuhan di bumi Indonesia tercinta. GBU (AST)







Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1401625
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :