Drama Kehidupan
Setelah melewati Paska, kembali kita diingatkan akan makna kebangkitan yang merupakan bagian dari perayaan atas karya keselamatan. Setelah kebangkitan dan menjadi satu kisah dalam Alkitab, maka kita menyadari betapa Tuhan mengasihi umat-Nya. Namun, pernahkah Anda bayangkan, bagaimana 12 murid Yesus mengalaminya saat itu? Menjadi saksi saat Yesus menjalani masa sengsara hingga kematian-Nya tentu meruntuhkan kekuatan iman. Murid-murid Yesus dan pengikut-Nya saat itu sangat ketakutan karena suasana yang makin memanas. Yesus, Anak Allah, diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan memberi-Nya hukuman mati. Ia diolok-olok, diludahi, disesah, dan dibunuh. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana perasaan sedih dan takut yang dialami murid-murid-Nya. Sungguh sebuah perjuangan iman yang sangat berat.
Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Setiap kita tentu memiliki rangkaian drama kehidupan yang harus dilalui, babak demi babak atau fragmen demi fragmen, yang ujungnya belum kita ketahui. Akan tetapi, semua harus kita jalani dengan perjuangan. Saat ini mungkin kita sedang menghadapi situasi yang tidak menentu, mengkhawatirkan akan suatu hal, atau ketakutan akan masa depan. Namun belajar dari murid Yesus, kita pun dituntut untuk memiliki iman yang terus bertumbuh.
Saya teringat saat mempelajari ilmu Strategic Management dalam dunia modern, sebuah materi yang tidak pernah saya lupakan adalah konsep VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Meskipun istilah ini berasal dari dunia militer dan bisnis untuk menggambarkan gejolak yang sulit diprediksi, tetapi kita diminta selalu memandang dengan sikap iman Kristiani. Salah satu komponen konsep ini adalah ketidakpastian (Uncertainty).
Situasi dunia saat ini tidak pasti dan tak dapat diprediksi. Kondisi ini membuat kita menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan saling terkait. Dari percepatan perubahan iklim hingga penyebaran informasi yang tidak terkendali, berbagai krisis muncul bersamaan, dan memperparah dampak satu sama lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa risiko global tak lagi berdiri sendiri. Masalah di bidang lingkungan, teknologi, ekonomi, hingga sosial dan politik kini saling bertautan dan membentuk pusaran ketidakpastian yang lebih luas.
Siapakah yang tahu bahwa akan ada perang berkepanjangan? Hal itu berdampak pada kenaikan harga BBM, kebutuhan pokok, berubahnya berbagai peraturan, dan masih banyak dampak lain. Memang kita tidak ada yang bisa merancang masa depan dengan tepat, meskipun rancangan yang kita buat sudah memperhitungkan dari pengalaman-pengalaman masa lalu.
Menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian, kita sebagai anak Allah diingatkan agar terus berhikmat melakoni perziarahan hidup. Amsal 3:5-6 menyatakan “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Ayat ini mau mengingatkan kita bahwa dalam ketidakpastian, ketaatan pada arahan Tuhan lebih penting daripada prediksi manusia. Menghadapi segala sesuatu dengan iman berarti bertumbuh dalam kelincahan (agility), hikmat, dan ketenangan yang bersumber dari Tuhan.
Drama kehidupan dalam iman Kristen menggambarkan sebuah perjalanan spiritual, perjuangan melawan dosa, keteguhan hati, dan ketaatan kepada Tuhan di tengah ujian. Dengan begitu, kita menjadi semakin kuat di dalam Tuhan. Efesus 6:10 “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya”.
Selamat berkarya dan selamat menjalani drama kehidupan babak demi babak. Semoga kita semua menjadi pemenang-pemenang dalam pertandingan iman. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7).
Tuhan memberkati. (AKR)






Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1251958
Who's Online :