Berbuat Baiklah Senantiasa

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik..” (Galatia 6:9a)

Kita telah memasuki bulan Juli. Dengan penuh syukur, kita telah melalui Bulan Misi GKI Kota Wisata. Kita bersyukur karena Tuhan telah menggerakkan hati umat-Nya untuk berdoa, peduli, dan memberi dengan sukacita. Melalui kebersamaan itu, dana untuk pembangunan gereja di Sagulubbeg dapat terkumpul lebih dari cukup, dan seluruhnya akan disalurkan oleh GKI Kota Wisata kepada saudara-saudara kita di sana.

Namun setelah Bulan Misi berlalu, pelayanan kasih kita tentu tidak selesai. Sebab misi bukan hanya tentang tempat yang jauh, atau sebuah program yang berlangsung pada waktu tertentu. Misi adalah cara hidup umat Tuhan. Ia hadir dalam keseharian kita: di rumah, di gereja, di tempat kerja, di sekolah, di lingkungan sekitar, dan dalam setiap perjumpaan sederhana dengan sesama.

Martin Luther pernah berkata, “Good works do not make a good man, but a good man does good works .” Artinya, “Perbuatan baik tidak membuat seseorang menjadi baik, tetapi orang yang baik akan menghasilkan perbuatan baik.”
Kutipan ini menolong kita memahami bahwa perbuatan baik adalah buah dari iman. Kita berbuat baik bukan untuk membuktikan diri, melainkan sebagai ungkapan syukur karena kasih Tuhan lebih dahulu hadir dalam hidup kita. Kebaikan sejati lahir dari hati yang terus dibentuk oleh kasih Kristus; hati yang perlahan belajar untuk peduli, mengasihi, dan hadir bagi sesama.

Karena itu, marilah kita terus belajar peka. Mungkin ada orang di dekat kita yang sedang bergumul dalam diam. Ada yang membutuhkan sapaan, perhatian, penguatan, doa, kesempatan, pertolongan, atau sekadar telinga yang mau mendengar. Di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah, mungkin juga ada saudara-saudara seiman yang sedang memikul beban kebutuhan hidup, berjuang menjaga keluarganya, atau mencari jalan untuk tetap bertahan dengan penuh pengharapan. Pergumulan seperti ini tidak selalu tampak di permukaan, tetapi kasih Kristus mengajak kita untuk hadir dengan hati yang lembut dan tidak menghakimi.

Kadang, kebaikan tidak selalu harus besar. Sebuah pesan singkat yang menguatkan, kunjungan sederhana, doa yang tulus, kesediaan mendengar, atau pertolongan kecil pada saat yang tepat dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain. Dalam tangan Tuhan, kebaikan yang tampak sederhana dapat menjadi tanda kasih yang sangat berarti.

Jangan menunggu semuanya sempurna untuk mulai peduli. Jangan menunggu keadaan menjadi mudah untuk hadir. Jangan kecil hati ketika kebaikan yang kita lakukan tidak selalu terlihat. Sebab setiap kebaikan yang lahir dari kasih Kristus tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan.

Berbuat baiklah senantiasa, bukan karena dunia selalu melihatnya, tetapi karena Tuhan berkenan atas kasih yang dilakukan dengan tulus. Kiranya setelah Bulan Misi ini, hati kita tetap menyala untuk melayani, bukan hanya kepada mereka yang jauh, tetapi juga kepada siapa pun yang Tuhan tempatkan di sekitar hidup kita.

“Janganlah kamu lalai untuk berbuat baik dan memberi bantuan, sebab kurban-kurban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah” (Ibr. 13:16).

Marilah terus berbuat baik, demi kemuliaan nama Tuhan. (SSI)

Renungan Sepekan

Bukan Ketundukan Brutal

Kejadian 22:1–19

Ada dua jenis ketaatan. Yang pertama adalah ketaatan karena paksaan. Orang taat karena takut dihukum, takut kehilangan jabatan, takut dimarahi, atau takut dikucilkan. Ketaatan seperti ini lahir dari kekuasaan yang menekan. Yang kedua adalah ketaatan yang lahir dari relasi, kasih, dan kepercayaan. Ketaatan seperti inilah yang Allah kehendaki.

Kisah Abraham yang diperintahkan mempersembahkan Ishak sering kali menjadi salah satu bagian Alkitab yang paling sulit dipahami. Sekilas, Allah tampak seperti penguasa yang menuntut ketaatan mutlak tanpa mempedulikan penderitaan manusia. Perintah itu bahkan bertentangan dengan janji Allah sendiri, sebab melalui Ishak keturunan Abraham akan dilanjutkan (Kej. 21:12). Mengapa Allah meminta sesuatu yang tampaknya begitu kejam?

Di sinilah kita perlu membaca kisah ini secara utuh.

Perhatikan bahwa Allah tidak pernah menginginkan kematian Ishak. Pada saat Abraham mengangkat pisau, Allah segera menghentikannya (Kej. 22:12). Bahkan Allah telah menyediakan domba jantan sebagai pengganti. Artinya, sejak awal tujuan Allah bukanlah mengorbankan seorang anak, melainkan menguji hati Abraham. Allah membedakan diri-Nya dari dewa-dewa bangsa sekitar yang benar-benar menuntut korban manusia. Justru melalui kisah ini Allah menunjukkan bahwa Ia menolak praktik tersebut.

Yang diuji bukan sekadar apakah Abraham mampu menaati perintah, tetapi apakah ia sungguh mempercayai Allah ketika jalan Allah tidak lagi dapat dipahami. Penulis Ibrani bahkan mengatakan bahwa Abraham percaya Allah sanggup membangkitkan Ishak dari kematian (Ibr. 11:17–19). Jadi ketaatan Abraham bukanlah ketundukan buta, melainkan iman yang tetap memegang karakter Allah meskipun situasi tampak bertentangan dengan janji-Nya.

Inilah perbedaan antara ketundukan brutal dan iman yang sejati.

Ketundukan brutal lahir ketika seseorang dipaksa menaati otoritas yang sewenang-wenang. Tidak ada ruang untuk bertanya, bergumul, atau mempercayai kasih. Sebaliknya, iman kepada Allah selalu dibangun di atas relasi. Abraham telah mengalami perjalanan panjang bersama Allah: dipanggil keluar dari Ur, dipelihara dalam berbagai kesulitan, menerima janji yang mustahil, dan akhirnya memperoleh Ishak sebagai anugerah. Karena mengenal Allah itulah Abraham dapat mempercayakan dirinya, bahkan ketika ia tidak memahami perintah-Nya.

Menariknya, di sepanjang perjalanan menuju Gunung Moria, Abraham tidak menunjukkan sikap pasrah tanpa harapan. Kepada para bujangnya ia berkata, “Kami akan pergi ke sana, kami akan sembahyang, sesudah itu kami akan kembali kepadamu” (Kej. 22:5). Kepada Ishak ia berkata, “Allah yang akan menyediakan anak domba” (Kej. 22:8). Ucapan-ucapan ini memperlihatkan keyakinan bahwa Allah akan bertindak sesuai dengan kasih dan janji-Nya.

Pada akhirnya, yang dikorbankan bukanlah Ishak, melainkan rasa aman Abraham yang selama ini mungkin melekat pada anugerah Allah, bukan kepada Allah sendiri. Abraham belajar bahwa pemberi anugerah lebih penting daripada anugerah itu sendiri.

Kisah ini mencapai puncak maknanya di dalam Yesus Kristus. Di Gunung Moria, Allah tidak mengizinkan Abraham mengorbankan anaknya. Namun berabad-abad kemudian, di wilayah yang sama, Allah sendiri memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi keselamatan dunia. Allah tidak meminta sesuatu yang Ia sendiri tidak rela lakukan. Bedanya, ketika Abraham dihentikan, tidak ada malaikat yang menghentikan penyaliban Yesus. Kristus benar-benar menjadi Anak Domba yang disediakan Allah bagi manusia.

Karena itu, iman Kristen bukanlah iman kepada Allah yang menuntut ketundukan brutal. Kita percaya kepada Allah yang terlebih dahulu mengasihi, berkorban, dan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Ketaatan kita bukan lahir dari ketakutan kepada tiran, tetapi dari kepercayaan kepada Bapa yang telah membuktikan kasih-Nya di kayu salib.

Refleksi

Apakah selama ini saya menaati Tuhan karena takut dihukum, atau karena saya mengenal dan mempercayai kasih-Nya?

Ketika jalan Tuhan tidak saya pahami, apakah saya tetap berpegang pada karakter-Nya yang setia, atau saya mulai meragukan kebaikan-Nya?

Semoga kita belajar dari Abraham bahwa iman sejati bukanlah ketundukan yang membabi buta, melainkan keberanian untuk mempercayai Allah yang selalu setia, bahkan ketika kita belum mengerti apa yang sedang Ia kerjakan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1335080
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1334980
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :