Beritakanlah Injil

Pada satu kesempatan, saya pernah berdiskusi dengan direktur nasional Navigator Indonesia, salah satu lembaga pelayanan penginjilan di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Pada kesempatan tersebut, beliau menceritakan bahwa ada seorang penginjil yang terbeban untuk memberitakan Injil kepada salah satu suku yang mayoritas belum mengenal Tuhan Yesus dan terkenal fanatik dengan kepercayaan yang sudah lama dianut oleh suku tersebut. Yang menarik adalah penginjilan ini dilakukan secara “underground” agar tidak banyak yang mengetahui pelayanan tersebut. Bahkan orang atau lembaga yang ingin menjadi donatur sang penginjil harus bersedia untuk tidak meminta publikasi (yang akan digunakan sebagai bahan laporan sang donatur) dari kegiatan sang penginjil agar kerahasian tetap terjaga di lingkaran tertentu saja. Sang penginjil hidup bergaul di Tengah-tengah masyarakat suku tersebut. Dalam pergaulan tersebut, dia memberitakan tentang Yesus, dia bekerja di tengah-tengan suku tersebut untuk menjadi saluran berkat. Pelan-pelan namun pasti, Tuhan Yesus mulai menjamah suku tersebut.

Pada kesempatan lain, saya pernah berbincang dengan salah seorang penginjil yang fokus penginjilannya di Kalimantan dan Indonesia Timur. Secara rutin sang penginjil ini mengunjungi daerah–daerah di pedalaman untuk memberitakan Injil. Kondisi geografi yang sangat sulit merupakan hal yang biasa bagi dia dalam menuju wialyah penginjilannya. Kondisi masyarakat yang tertinggal mendorong sang penginjil ini tidak hanya sekedar memberitakan Injil semata namun juga sangat sering membantu secara nyata dengan bantuan-bantuan seperti renovasi rumah, sumbangan pendidikan bahkan sekedar membantu membawakan dokter-dokter untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan di tempat tersebut.

Kedua cerita di atas memperlihatkan bahwa semangat pelayanan penginjilan di Indonesia masih terus membara dengan segala macam tantangannya. Berita baiknya bahwa dari berbagai sumber data memperlihatkna pertambahan jumlah umat Kristen di Indonesia menunjukan trend yang sangat baik bahkan pertumbuhannya (secara persentase) lebih tinggi dibanding agama-agama lain yang ada di Indonesia. Bagaimana dengan kita? Perintah memberitakan Injil bukan hanya untuk orang tertentu saja, tapi untuk semua orang yg mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Injil harus disampaikan kepada semua orang, dari mulai orang-orang terdekat kita sampai ke pelosok negeri (lihat Kisah Para Rasul 1:8; Lukas 10:1). Dalam konteks menjadi saksi-Ku, maka sebenarnya tidak ada alasan bahwa kita tidak punya waktu atau tidak mampu atau alasan lainnya yang menghalangi kita untuk memberitakan Injil Tuhan Yesus. Yang mungkin menjadi penghalang adalah ketidakberanian kita yang dibungkus dengan alasan “toleransi” dan “keberterimaan” yang membuat kita masih belum mewartakan Injil kepada orang-orang di sekitar kita.

Memberitakan Injil bukanlah perintah untuk orang-orang tertentu. Memberitakn Injil adalah tentang perintah untuk semua orang percaya kepada semua bangsa. Jika direnungkan lebih dalam lagi perintah Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20, maka yang pertama harus dilakukan adalah memberitakan Injil (perhatikan kalimat: “jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”). Lalu setelah itu melakukan pelayanan sosial (perhatikan kalimat: “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu” ). Mari kita mendorong gereja agar lebih kreatif sekaligus berhikmat sehingga dalam setiap pelayanan sosial yang dilakukan, Tuhan Yesus selalu diwartakan. Dan mari sebagai individu, kita selalu mewartakan Tuhan Yesus di manapun kita berada. Mengapa? Jawabannya sederhana, yaitu karena hal tersebut adalah perintah Tuhan Yesus. Selamat memberitakan Injil. (PSI)

Renungan Sepekan

KEPEDULIAN SEBAGAI WUJUD CINTA KASIH

Keluaran 12:1–14; Mazmur 149; Roma 13:8–14; Matius 18:15–20

Kita semua memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan kepedulian. Ada orang yang mengungkapkan kasih melalui kata-kata, ada yang lebih suka membantu secara nyata, ada yang memberikan waktu, dan ada pula yang menunjukkan perhatian dengan sekadar hadir dan menemani. Karena itu, terkadang muncul persoalan: seseorang sebenarnya peduli, tetapi kepeduliannya tidak terlihat seperti yang kita harapkan.

Seorang ayah mungkin merasa sudah menunjukkan kasih kepada anaknya dengan bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Namun anaknya mungkin justru berkata, “Saya ingin Papa punya waktu untuk saya.” Sang ayah merasa sudah mengasihi, sementara sang anak merasa kurang dikasihi. Bukan selalu karena tidak ada kasih, melainkan karena cara mengungkapkan kasih berbeda.

Dalam Keluaran 12, kita melihat bagaimana Allah menunjukkan kepedulian-Nya kepada Israel. Allah tidak hanya mengetahui penderitaan umat-Nya, tetapi bertindak untuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Bahkan dalam peristiwa Paskah, Tuhan memberikan petunjuk yang sangat konkret agar umat-Nya mengalami keselamatan. Kasih Allah bukan sekadar perkataan; kasih itu hadir dalam tindakan.

Karena itu, Roma 13:8 mengingatkan, “Hendaklah kamu saling mengasihi.” Bagi Paulus, kasih bukan sekadar perasaan yang ada dalam hati. Kasih harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama. Orang yang mengasihi akan memperhatikan, menolong, menjaga, dan berusaha tidak menyakiti orang lain.

Namun, kasih juga membutuhkan kepekaan untuk memahami orang lain. Gary Chapman melalui gagasan The 5 Love Languages mengingatkan bahwa manusia dapat memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menerima kasih. Ada yang merasa dikasihi ketika diberi waktu, ada yang melalui kata-kata, tindakan pelayanan, pemberian, atau sentuhan. Walaupun konsep ini bukan teori Alkitab, gagasan tersebut menolong kita memahami satu hal sederhana: tidak semua orang mengalami kasih dengan cara yang sama.

Karena itu kita perlu berhati-hati ketika mengatakan, “Dia tidak peduli kepada saya.” Bisa jadi orang tersebut memang tidak peduli. Tetapi bisa juga ia peduli dengan cara yang belum kita pahami.

Di sisi lain, kita juga tidak dapat berkata, “Saya memang peduli dengan cara saya, jadi terimalah.” Kalau kita sungguh mengasihi, kita bersedia belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain.

Prinsip ini terlihat dengan sangat jelas dalam Matius 18. Ketika seorang saudara melakukan kesalahan, Yesus berkata, “Tegorlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak mengajarkan kita untuk membicarakan kesalahan seseorang kepada orang lain, tetapi untuk datang kepadanya. Tujuannya pun bukan untuk mempermalukan atau memenangkan perdebatan, melainkan “mendapatkannya kembali”.

Di sini kita melihat bahwa kepedulian tidak sama dengan membiarkan segala sesuatu. Terkadang kepedulian berarti menolong. Terkadang berarti mendengarkan. Terkadang berarti hadir. Tetapi ada saatnya kepedulian berarti berani menegur—dengan kasih dan dengan tujuan memulihkan.

Stephen Covey pernah menggunakan prinsip, “Seek first to understand, then to be understood.” Carilah dahulu untuk memahami, baru kemudian berusaha dipahami. Prinsip ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat membuat kesimpulan tentang orang lain. Daripada berkata, “Kamu tidak peduli kepada saya,” mungkin lebih baik kita berkata, “Saya sedang membutuhkan perhatianmu.” Daripada menghakimi, kita belajar berbicara. Daripada berasumsi, kita belajar bertanya.

Pada akhirnya, kepedulian membutuhkan dua kerendahan hati. Pertama, kerendahan hati untuk belajar mengasihi orang lain dengan cara yang dapat mereka rasakan. Kedua, kerendahan hati untuk menerima bahwa kasih orang lain mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sebenarnya mengasihi kita, tetapi selama ini kita gagal melihatnya karena bentuk kasihnya berbeda dari yang kita harapkan. Sebaliknya, mungkin ada seseorang di sekitar kita yang selama ini merasa tidak diperhatikan. Barangkali Tuhan mengajak kita belajar menunjukkan kasih dengan cara yang lebih dapat ia rasakan.

Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya hanya peduli dengan cara yang nyaman bagi saya, atau saya mau belajar memahami apa yang dibutuhkan orang lain?

Dan ketika seseorang tidak menunjukkan kepedulian seperti yang kita harapkan, marilah kita tidak terburu-buru menghakimi. Datangilah, berbicaralah, dan belajarlah memahami.

Sebab kepedulian yang sejati bukan hanya tentang kasih yang ada di dalam hati kita, tetapi tentang kasih yang sungguh-sungguh sampai dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Kiranya melalui hidup kita, orang lain bukan hanya mendengar bahwa Kristus mengasihi mereka, tetapi mengalami kasih Kristus melalui kepedulian kita. Amin.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1424139
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1424039
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :