Every Storm is A School

Setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidupnya. Bahkan, pada setiap fase kehidupan, setiap orang akan menghadapi berbagai tantangan yang berbeda. Sejak kehadiran di dunia sebagai seorang bayi, kita bisa saja mendapat berbagai penyakit. Lalu ketika tumbuh besar dan mulai sekolah, kita juga menghadapi tantangan yang lain, tuntutan harus belajar dan menjalani beragam ujian, baik ujian saat menempuh jenjang tertentu, ujian untuk masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya, hingga ujian kelulusan pada jenjang pendidikan akhir. Setelah menyelesaikan studi, maka tantangan berikutnya adalah mencari pekerjaan, berkeluarga, memiliki keturunan, membesarkan anak, meniti karir, memasuki masa pensiun, dan seterusnya.

Ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan tentu tidak mudah bagi kita. Tidak jarang kita menjadi kecil hati, mencari-cari sumber kesalahan, dan bahkan bisa saja menjadi frustasi. Namun, sebagai murid Kristus layaknya kita juga terus memiliki pengharapan dalam Dia. Kita harus terus percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian untuk menghadapi kesulitan. Dia tahu batas kekuatan kita, dan Dia selalu menyediakan jalan keluar. Tuhan pasti mempunyai tujuan untuk hidup kita. Bahkan saat kita melakukan kesalahan atau mengalami perlakuan buruk dari orang lain, Tuhan dapat memakai semua itu untuk kebaikan kita. Rencana Tuhan selalu lebih besar daripada masalah dan penderitaan yang kita alami.

Roma 5:3-4 mengatakan, “Bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketabahan, ketabahan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Kesulitan mengajarkan kita untuk lebih sabar, membangun karakter, dan memperkuat iman kita kepada Tuhan.

Saat ini, anak saya sedang menjalani ujian beasiswa sekolah di Singapura. Banyaknya pesaing, sementara hanya enam orang yang akan terpilih, membuat dia merasa pesimis. Saya menasihatinya untuk tetap bersemangat dan berusaha sebaik mungkin, karena jika ini adalah kehendak Tuhan, pasti akan terjadi, jika tidak, Tuhan tetap memiliki rencana yang indah untuknya.

Setiap tantangan yang kita hadapi dalam perjalanan kehidupan kita merupakan ujian bagi iman dan ketekunan kita. Bahkan seandainya kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya, hasilnya belum tentu sesuai keinginan kita. Namun, apakah kita tetap percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih besar daripada apa yang kita harapkan?

Kadangkala, kehendak Tuhan berbeda dari keinginan kita. Namun, satu hal yang harus kita percaya bahwa setiap badai, ujian, dan kesulitan dalam hidup adalah cara Tuhan untuk mendidik, membentuk karakter, mengembangkan pribadi, dan membawa kita lebih dekat kepada rencana-Nya yang agung. Seperti yang ditulis dalam 2 Korintus 4:17 “Sebab, penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.”

Percayalah, Tuhan selalu bekerja dalam setiap aspek hidup kita. Tetaplah berjuang dan serahkanlah semuanya ke dalam tangan-Nya!

Every Storm is a school. Every Trial is a teacher. Every Experience is an education. Every Difficulty is for your development. (YSE)

Renungan Sepekan

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Bacaan: Matius 18:21–35

“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
(Matius 18:22)

Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” Petrus bahkan memberikan batas yang menurutnya sudah cukup murah hati, yaitu tujuh kali. Namun Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Dalam beberapa terjemahan Alkitab, ayat ini diterjemahkan “tujuh puluh tujuh kali”, sedangkan dalam terjemahan lain “tujuh puluh kali tujuh kali”. Perbedaan ini muncul dari cara memahami ungkapan bahasa Yunani yang digunakan Matius. Para ahli Alkitab sendiri masih mendiskusikan apakah maksudnya 77 atau 490 kali. Namun yang jauh lebih penting daripada menghitung angkanya adalah maksud Yesus: pengampunan tidak dimaksudkan untuk dibatasi dengan hitungan.

Menariknya, ungkapan ini mengingatkan kita pada Kejadian 4:24. Lamekh berbicara tentang pembalasan yang dilakukan “tujuh puluh tujuh kali”. Jika dalam kisah Lamekh kita melihat semangat manusia yang ingin membalas kejahatan dengan kejahatan yang berlipat ganda, Yesus justru membawa kita kepada arah yang berlawanan. Apa yang dahulu menjadi simbol pembalasan, kini menjadi gambaran tentang pengampunan.

Karena itu, Yesus sebenarnya sedang mengubah cara kita menjalani kehidupan. Dunia sering mengajarkan, “Kalau dia menyakiti saya, saya juga akan menyakitinya.” Bahkan terkadang kita berpikir, “Saya akan membalas supaya dia tahu bagaimana rasanya.” Tetapi Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Kejahatan tidak dihentikan dengan menambah kejahatan. Kebencian tidak disembuhkan dengan kebencian. Dendam tidak menghasilkan kehidupan yang baru.

Setelah menjawab pertanyaan Petrus, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar kepada rajanya. Ia tidak mungkin mampu membayar hutang tersebut. Namun raja itu berbelas kasihan dan menghapuskan seluruh hutangnya.

Masalahnya, setelah menerima pengampunan yang begitu besar, hamba tersebut bertemu dengan orang yang berhutang kepadanya. Hutang orang itu jauh lebih kecil, tetapi ia tidak mau mengampuninya. Ia bahkan menuntut agar hutang itu dibayar.

Di sinilah Yesus menunjukkan sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Kita sangat mudah mengingat kesalahan orang lain, tetapi mudah melupakan betapa besar pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan. Kita berharap Tuhan mengerti kelemahan kita, tetapi kita sulit mengerti kelemahan orang lain. Kita meminta Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita, tetapi terkadang kita tidak mau memberikan kesempatan kedua kepada sesama.

Padahal setiap hari kita hidup karena kasih karunia Tuhan. Kita bukan manusia yang sempurna. Kita juga pernah salah, mengecewakan orang lain, berkata-kata yang menyakitkan, mengambil keputusan yang keliru, dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak memperlakukan kita hanya berdasarkan kesalahan kita. Ia memberikan pengampunan dan kesempatan untuk bertobat.

Karena itu, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan seseorang tidak serius. Mengampuni juga tidak berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti. Dalam keadaan tertentu, kita tetap perlu membuat batas, menjaga jarak, bahkan mengambil langkah yang tegas terhadap ketidakadilan. Tetapi di dalam hati, kita tidak lagi membiarkan dendam dan kebencian menguasai kehidupan kita.

Pengampunan adalah keputusan untuk menyerahkan hak membalas kepada Tuhan.Sering kali kita berpikir bahwa ketika kita mengampuni, kita sedang memberikan hadiah kepada orang yang bersalah kepada kita. Padahal pengampunan juga merupakan pembebasan bagi diri kita sendiri. Ketika kita terus memelihara kebencian, kita sebenarnya sedang membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hidup kita. Orang itu mungkin sudah melanjutkan hidupnya, tetapi kita masih terikat pada peristiwa yang sama.

Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tetapi pengampunan dapat mengubah kuasa masa lalu atas hidup kita.Karena itu, mungkin hari ini ada seseorang yang perlu kita ampuni. Mungkin luka itu belum sepenuhnya hilang. Mungkin kita masih merasa sakit ketika mengingat apa yang terjadi. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi kita dapat datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup mengampuni dengan kekuatanku sendiri. Tolong aku melepaskan dendam ini dan menyerahkan semuanya kepada-Mu.”

Pertanyaan Yesus kepada kita bukan hanya, “Siapa yang harus kamu ampuni?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah kamu menyadari betapa besar pengampunan yang telah kamu terima dari Allah?”

Ketika kita menyadari bahwa hidup kita sendiri berdiri di atas pengampunan Tuhan, kita akan belajar memandang kesalahan orang lain dengan belas kasihan. Bukan karena kesalahan itu kecil, tetapi karena kasih karunia Allah jauh lebih besar.

Kiranya kita tidak menjadi seperti hamba dalam perumpamaan Yesus yang menerima pengampunan besar tetapi tidak mau mengampuni. Sebaliknya, karena telah menerima pengampunan Allah, marilah kita menjadi orang yang membawa pengampunan bagi orang lain. Sebab pengampunan Allah menyelamatkan kita dari dosa, dan pengampunan yang kita berikan menolong kita untuk bebas dari kepahitan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1451707
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1451607
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :