Menemukan kepuasan diri yang sejati

MENEMUKAN KEPUASAN DIRI YANG SEJATI

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” ( Yoh 14:1)

Terlalu sering kita secara sengaja membiarkan keadaan yang sedang kita alami menentukan perilaku kita. Ketika segala sesuatunya berjalan lancar, maka kita merasa bahagia dan senang; sebaliknya, jika kita mengalami masa-masa sukar atau berada dalam masalah, maka suasana hati kita akan menurun drastis. Tahukah Anda bahwa sebagai umat percaya, kita tidak seharusnya hidup dengan cara demikian? Mari kita belajar dari Rasul Paulus mengenai rahasia untuk tetap merasa puas dalam kondisi apapun dan mempraktekkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Rasa puas atau kepuasan diri berarti menerima segala sesuatu apa adanya – atau dengan kata lain, tidak menginginkan sesuatu yang lebih atau berbeda dari apa yang kita alami dan miliki. Agar kita dapat mencapai tahap ini, kita perlu untuk mengembangkan sikap hidup “Segala sesuatu dapat kutanggung dalam Kristus”. Dalam hal ini berarti kita belajar mempersilahkan kuasa Allah untuk menggantikan semua kelemahan dan kekurangan kita sehingga kita dapat menerima dan menyesuaikan diri dengan keadaan hidup yang selalu berubah-ubah. Ketika kita menanggapi hidup dengan pemikiran yang baik, maka kita melangkah jauh melebihi apa yang kita rasakan dan mulai hidup dalam iman.

“sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat—(2 Korintus 5:7)

Yang kita perlukan adalah hidup penuh dengan penyerahan diri dan percaya kepada Allah dari hari ke hari.

  • Pertama, kita harus menyerahkan keinginan pribadi kita kepada Allah dan mempersilahkan kehendakNya yang terjadi dalam hidup kita. Dalam setiap keadaan kita harus menyerahkan apa yang kita inginkan kepadaNya dan menerima segala sesuatu yang Allah ijinkan terjadi dalam hidup kita. Keinginan kita untuk mengendalikan segala sesuatu digantikan dengan rasa penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendakNya. Pilihan ini sejatinya makin menarik bagi kita karena ketika menyadari akibat dari tidak memilki penyerahan diri tersebut dan berusaha melawan keadaan hidup yang kita alami hanyalah berupa kekuatiran dan rasa tertekan.
  • Langkah kedua yang harus kita lakukan adalah percaya sepenuhnya kepada Allah karena Ia yang memegang kendali atas semua yang terjadi dalam hidup masing-masing kita. Ketika kita percaya bahwa Ia sedang mengerjakan rencanaNya yang sempurna atas hidup kita, maka kita akan mengalami sukacita yang mengalir dari rasa percaya kita kepadaNya. Dengan demikian kepuasan diri yang sejati akan menjadi milik kita.

Rasul Paulus menyerahkan hidupnya kepada Allah dan percaya kepadaNya. Ia menghadapi penghinaan, penolakan dan berbagai macam pencobaan di sepanjang hidupnya tetapi Rasul Paulus tetap dipenuhi dengan kepuasan diri yang sejati. Ketika kita menyerahkan kendali atas hidup kita kepada Tuhan dan percaya bahwa Ia tahu memberi yang terbaik bagi kita, maka kita akan terus mengalami kepuasan diri yang sejati di sepanjang hidup kita; apapun yang kita alami. Pertanyaannya sekarang, siapakah yang memegang kendali atas hidup Anda saat ini?

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” Filipi 4:13

(ABT-Pelita Hidup)

 

 

 

 

 

 

Renungan Sepekan

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Bacaan: Matius 18:21–35

“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
(Matius 18:22)

Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” Petrus bahkan memberikan batas yang menurutnya sudah cukup murah hati, yaitu tujuh kali. Namun Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Dalam beberapa terjemahan Alkitab, ayat ini diterjemahkan “tujuh puluh tujuh kali”, sedangkan dalam terjemahan lain “tujuh puluh kali tujuh kali”. Perbedaan ini muncul dari cara memahami ungkapan bahasa Yunani yang digunakan Matius. Para ahli Alkitab sendiri masih mendiskusikan apakah maksudnya 77 atau 490 kali. Namun yang jauh lebih penting daripada menghitung angkanya adalah maksud Yesus: pengampunan tidak dimaksudkan untuk dibatasi dengan hitungan.

Menariknya, ungkapan ini mengingatkan kita pada Kejadian 4:24. Lamekh berbicara tentang pembalasan yang dilakukan “tujuh puluh tujuh kali”. Jika dalam kisah Lamekh kita melihat semangat manusia yang ingin membalas kejahatan dengan kejahatan yang berlipat ganda, Yesus justru membawa kita kepada arah yang berlawanan. Apa yang dahulu menjadi simbol pembalasan, kini menjadi gambaran tentang pengampunan.

Karena itu, Yesus sebenarnya sedang mengubah cara kita menjalani kehidupan. Dunia sering mengajarkan, “Kalau dia menyakiti saya, saya juga akan menyakitinya.” Bahkan terkadang kita berpikir, “Saya akan membalas supaya dia tahu bagaimana rasanya.” Tetapi Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Kejahatan tidak dihentikan dengan menambah kejahatan. Kebencian tidak disembuhkan dengan kebencian. Dendam tidak menghasilkan kehidupan yang baru.

Setelah menjawab pertanyaan Petrus, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar kepada rajanya. Ia tidak mungkin mampu membayar hutang tersebut. Namun raja itu berbelas kasihan dan menghapuskan seluruh hutangnya.

Masalahnya, setelah menerima pengampunan yang begitu besar, hamba tersebut bertemu dengan orang yang berhutang kepadanya. Hutang orang itu jauh lebih kecil, tetapi ia tidak mau mengampuninya. Ia bahkan menuntut agar hutang itu dibayar.

Di sinilah Yesus menunjukkan sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Kita sangat mudah mengingat kesalahan orang lain, tetapi mudah melupakan betapa besar pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan. Kita berharap Tuhan mengerti kelemahan kita, tetapi kita sulit mengerti kelemahan orang lain. Kita meminta Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita, tetapi terkadang kita tidak mau memberikan kesempatan kedua kepada sesama.

Padahal setiap hari kita hidup karena kasih karunia Tuhan. Kita bukan manusia yang sempurna. Kita juga pernah salah, mengecewakan orang lain, berkata-kata yang menyakitkan, mengambil keputusan yang keliru, dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak memperlakukan kita hanya berdasarkan kesalahan kita. Ia memberikan pengampunan dan kesempatan untuk bertobat.

Karena itu, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan seseorang tidak serius. Mengampuni juga tidak berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti. Dalam keadaan tertentu, kita tetap perlu membuat batas, menjaga jarak, bahkan mengambil langkah yang tegas terhadap ketidakadilan. Tetapi di dalam hati, kita tidak lagi membiarkan dendam dan kebencian menguasai kehidupan kita.

Pengampunan adalah keputusan untuk menyerahkan hak membalas kepada Tuhan.Sering kali kita berpikir bahwa ketika kita mengampuni, kita sedang memberikan hadiah kepada orang yang bersalah kepada kita. Padahal pengampunan juga merupakan pembebasan bagi diri kita sendiri. Ketika kita terus memelihara kebencian, kita sebenarnya sedang membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hidup kita. Orang itu mungkin sudah melanjutkan hidupnya, tetapi kita masih terikat pada peristiwa yang sama.

Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tetapi pengampunan dapat mengubah kuasa masa lalu atas hidup kita.Karena itu, mungkin hari ini ada seseorang yang perlu kita ampuni. Mungkin luka itu belum sepenuhnya hilang. Mungkin kita masih merasa sakit ketika mengingat apa yang terjadi. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi kita dapat datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup mengampuni dengan kekuatanku sendiri. Tolong aku melepaskan dendam ini dan menyerahkan semuanya kepada-Mu.”

Pertanyaan Yesus kepada kita bukan hanya, “Siapa yang harus kamu ampuni?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah kamu menyadari betapa besar pengampunan yang telah kamu terima dari Allah?”

Ketika kita menyadari bahwa hidup kita sendiri berdiri di atas pengampunan Tuhan, kita akan belajar memandang kesalahan orang lain dengan belas kasihan. Bukan karena kesalahan itu kecil, tetapi karena kasih karunia Allah jauh lebih besar.

Kiranya kita tidak menjadi seperti hamba dalam perumpamaan Yesus yang menerima pengampunan besar tetapi tidak mau mengampuni. Sebaliknya, karena telah menerima pengampunan Allah, marilah kita menjadi orang yang membawa pengampunan bagi orang lain. Sebab pengampunan Allah menyelamatkan kita dari dosa, dan pengampunan yang kita berikan menolong kita untuk bebas dari kepahitan.

Jadwal Kebaktian GKI Kota Wisata

Kebaktian Umum 1   : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian Umum 2  : Pk. 09.30 (Hybrid)

Kebaktian Prarem 8 : Pk 07.00 (Onsite)

Kebaktian Prarem 7 : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 3-6  : Pk. 07.00 (Onsite)

Kebaktian ASM 1-2   : Pk. 09.30 (Onsite)

Kebaktian Batita, Balita: Pk. 09:30 (Onsite)

Kebaktian Remaja  Pk 09.30 (Onsite)

Kebaktian Pemuda Pk. 09.30 (Onsite)

Subscribe Youtube Channel GKI Kota Wisata dan unduh Aplikasi GKI Kota Wisata untuk mendapatkan reminder tentang kegiatan yang sedang berlangsung

 

 

GKI Kota Wisata

Ruko Trafalgar Blok SEI 12
Kota Wisata – Cibubur
BOGOR 16968

021 8493 6167, 021 8493 0768
0811 94 30100
gkikowis@yahoo.com
GKI Kowis
GKI Kota Wisata
: Lokasi

Nomor Rekening Bank
BCA : 572 5068686
BCA : 572 5099000 (PPGI)
Mandiri : 129 000 7925528 (Bea Siswa)

Statistik Pengunjung

1453307
Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1453207
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :