Allah tetap Baik di Tengah Padang Gurun Kehidupan
Bapak ibu pernah mendengar cerita di balik lagu “It is Well with My Soul” karya Horatio Spafford? Versi Indonesia diterjemahkan menjadi “Di Kala Hidupku Tentram” (PKJ 232/KK 588). Saya coba ceritakan singkat kisahnya. Lagu ini lahir dari pengalaman duka dan kehilangan yang sangat mendalam. Tragedi demi tragedi berturut turut dialami oleh Horatio.
- Tahun 1870: kehilangan putra ( 4 thn) karena penyakit.
- Tahun 1871: Bisnis & investasi propertinya semua terbakar habis dan jatuh bangkrut.
- Tahun 1873: Untuk memulihkan keadaan, ia berencana berlibur bersama keluarganya ke Eropa. Karena urusan mendadak, ia mengirim istri dan keempat putrinya terlebih dahulu dengan kapal laut. Kapal bertabrakan di Samudra Atlantik dan tenggelam. Keempat putrinya tewas sementara istrinya selamat dan mengirimkan telegram dengan pesan “Saved Alone” (Selamat Sendirian).
- Lagu ini ditulis saat Horatio berlayar di titik keempat putrinya tenggelam.
Begitu luar biasa besar rasa duka yang dialaminya hanya dalam kurun waktu 4 tahun. Namun yang menarik adalah melihat baris-baris lirik yang dibuat dalam dukanya yang mendalam tersebut. Bahkan diberikan judul “It is Well with My Soul”/“Di Kala Hidupku Tentram”. Keadaannya tidak baik saat itu. Anak-anaknya tidak kembali, usaha/bisnisnya belum pulih. Luka kehilangan tetap ada. Namun di tengah semua itu, Horatio tetap percaya Allah baik dan jiwanya tetap aman di dalam Tuhan. Ini mengingatkan kita tentang bacaan kita hari ini.
Dalam bacaan hari ini (Kel 16: 2-15) diceritakan tentang bangsa Israel saat masa awal di padang gurun. Mereka kelaparan dan bersungut-sungut serta membandingkan keadaan mereka saat itu dengan saat menjadi budak di Mesir dengan kenyamanannya. Mereka tidak tahu akan mendapatkan makanan dari mana. Namun saat mereka merasa ada di jalan buntu, Allah membuka jalan dengan mengirimkan makanan manna dari langit .
Dalam Mat 20:1-16, Yesus menceritakan perumpamaan tentang pemilik kebun anggur yang mencari pekerja sejak pagi sampai sore dan memberikan upah yang sama kepada setiap pekerja, baik yang bekerja dari pagi, maupun yang baru bekerja pada sore hari. Namun, muncul keberatan dari para pekerja yang mulai bekerja lebih dahulu. Menyikapi hal itu, pemilik kebun berkata bahwa ia bebas memberikan hartanya kepada siapa pun sesuai kemurahan hatinya. Yesus ingin menyampaikan dalam konteks perumpamaan ini, bahwa Allah memberi bukan karena kita layak, tetapi karena Ia adalah Allah yang baik.
Kemudian dalam Fil 1:21-30, Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Paulus menuliskan surat itu pada saat berada dalam penjara. Meskipun demikian, Paulus saat berada dalam penjara. Tetapi meskipun demikian dia tetap memusatkan hidupnya bukan pada penderitaannya, tetapi pada Kristus.
Bacaan di atas mengajarkan kita bahwa Allah baik bukan hanya saat hidup kita berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Allah tetap baik saat kita berada di “padang gurun,” saat kita diperlakukan tidak adil, atau bahkan saat kita sedang mengalami penderitaan.
Saat menerima berkat, kita sering mengatakan “Allah baik”. Akan tetapi Iman Kristiani mengajarkan agar tetap berkata, “Allah baik” bahkan saat kita belum memahami apa yang sedang Ia kerjakan buat kita. Di antara kita mungkin ada yang mengalami masalah keluarga, pekerjaan, kesehatan, keuangan atau ketidakpastian masa depan. Saat ini kita belum melihat “manna” yang Tuhan sediakan. Bahkan mungkin kita belum memahami kenapa ini diizinkan terjadi pada kita.
Kita bisa belajar untuk mengatakan, seperti yang dikatakan Horatio Spafford: “Apapun keadaanku, Tuhan itu tetap Baik. Apapun yang terjadi, hidup ku ada di dalam tangan-Nya”. Tuhan Yesus Memberkati. (MMN)






Users Today :
Users Yesterday :
This Month :
This Year :
Total Users : 1445567
Views Today :
Total views : 100
Who's Online :